Dulu, waktu SMA beberapa tahun yang lalu, tahun 1994 tepatnya, aku membaca sebuah majalah. UMMI. Salah satu artikel dalam majalah ini sangat berkesan padaku. Artikel tentang seorang wanita yang masuk surga karena ketaatannya pada suaminya.
Nama wanita itu, kalau tidak salah, Mutiah. Ia menikah dengan seorang laki-laki Madinah. Ia mempunyai 3 benda yang kuingat adalah cambuk dan handuk.
Handuk digunakannya untuk membasuh tubuh suaminya setelah ia pulang dari kerja. Setelah membasuh tubuh suaminya, ia akan meminta suaminya untuk beristirahat. Ia sendiri kemudian memasak air untuk mandi suaminya. Setelah air siap, ia bangunkan suaminya. Ia sendiri telah berdandan lengkap dengan celaknya. Suaminya pun dimintanya mandi.
Pada saat yang bersamaan ia menghangatkan makanan. Selesai mandi, suaminya dimintanya untuk makan malam. Ia menemaninya. Setelah itu, ia mengajak suaminya ke kamar.
“Suamiku,” katanya dengan penuh sayang dan hormat. “kalau ada yang kurang dengan pelayananku, kau boleh mencambukku.”
suaminya terpana. Tak bisa berkata apa-apa. Setelah semua yang dilakukan istrinya, apakah ia masih menganggap ada kekurangan?
Suaminya mengambil cambuk itu, dan meletakkannya di tempatnya semula.
Indah bukan kisah ini. Kisah ini begitu terpatri di hatiku. Hingga aku tak bisa lepas dari impian ini. Sayang, Allah belum berkenan aku mencapai impian ini.
Entah itu kapan, akan kutunggu dengan sabar, impian ini menjadi kenyataan. Impian lama masa SMA dulu. Amin.
Dulu ketika aku ingin berganti nama aku ingin memakai nama Mutiah. Sayang, dulu aku lupa nama tokoh itu. Akhirnya, aku berganti nama dengan arti yang jauh berbeda dengan nama itu. Tapi, biarlah. Keinginanku menjadi seperti Mutiah tak ada hubungannya ‘kan dengan sebuah nama ‘kan?
Filed under: My Diary