PROLOG
Hari ini lagi-lagi kubaca tentang bunuh diri. Hanya karena masalah sepele. Tuntutan hidup. Tak kuat menanggung biaya hidup, orang-orang bodoh itu memilih jalan pintas: bunuh diri. Kubuang koran itu ditumpukan sampah di pojok ruang kerjaku. Kupandangi Jakarta dari lantai 25 kantorku. “Aku harus bertindak!” tanpa sadar aku berteriak. Aku muak dengan kondisi saat ini. Orang-orang yang berada di teras kekuasaan, seenaknya menjual negara tercinta kepada pihak asing yang kemudian mengeksploitasi Indonesia tanpa peduli pada masyarakat sekitarnya. AKu muak dengan pejabat yang baru dua memerintah kekayaannya menjadi berlipat-lipat. Aku muak dengan semuanya.
Kuhidupkan notebookku. Kutunggu sebentar. Mozila firefox sudah kelihatan. KUketik salah satu nama mesin pencari yang banyak digunakan semua orang. Kuketik dua kata: pembunuh bayaran. Keluar berbagai menu tentangnya. Mataku terpaku pada satu artikel. Kuklik artikel itu.
Aha! Ini dia yang kubutuhkan. Kukirim e-mail.
AKu butuh pembunuh bayaran
Tulisku.
Tak lama kemudian, ada e-mail masuk. Pembunuh itu sedang online rupanya.
Filed under: Uncategorized