SILUET BIRU ITA WIRYA
1979-1997
Tahun 1979 adalah tahun yang berkesan. Tahun penuh kenangan. Di sinilah, Ita Wirya dilahirkan. Di sebuah desa terpencil, jauh di pedalaman Banyumas. Di sebuah desa dimana sungai Serayu mengalir tenang, mengairi sawah-sawah yang dilaluinya.
Orang tua Ita seperti halnya orang-orang tua di desa itu: mereka petani. Petani yang menggarap lahan mereka sendiri meski tak begitu luas. Ita tumbuh bahagia bersama kedua orang tuanya dan kedua adiknya. Ya, Ita punya dua adik. Dua tahun setelah kelahirannya, lahir adik kembarnya.
Keluarga Ita, keluarga sederhana. Saking sederhananya, banyak tetangga mereka meremehkannya. Para tetangga itu menyudutkan keluarga Ita dengan berbagai macam cara. Mulai memfitnah ibu Ita berselingkuh dengan laki-laki lain hingga persoalan tanah yang tak seberapa luasnya. Tanah yang tak begitu luas itu akan dibangun gedung SMA. Orang tua Ita menolaknya. Karena kalau tanah itu jadi dibangun gedung SMA, bagaimana mereka menjalani kehidupan setelahnya. Orang-orang yang berkuasa atas dibangunnya gedung SMA itu tak menyerah begitu saja. Mereka membawa kasus itu ke kepala desa. Orang tua Ita bersusah payah membuktikan kalau tanah itu benar-benar tanah mereka. Pembuktian itu berhasil. Tanah itu kembali ke pemilik sahnya: orang tua Ita. Sayangnya, trauma peristiwa itu masih terbayang di benak Ita. Ita kecil jadi mengerti hanya orang-orang yang berduit dan berkuasa saja yang bisa menindas rakyat jelata seperti dirinya. Hanya orang berduit dan berkuasa saja bisa memaksakan kehendaknya kepada siapa saja yang diinginkannya. Ita kecil memahami itu. Terpatri kuat dalam benaknya, ia harus bisa menjadi seperti mereka: orang-orang yang meremehkan keluarganya dan membuat keluarganya berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.
Sebuah peristiwa yang membuat Ita menjadi anak yang keras hati terhadap semua targetnya dan kepada semua orang yang meremehkannya. Ita berjuang keras untuk membalikkan keadaan itu. Ia berani melakukan protes kalau ada orang yang bersikap tak adil padanya.
Tahun-tahun berlalu. Ita tumbuh menjadi anak yang pintar. Memang ia tidak selalu mendapat ranking satu tapi pengetahuannya yang luas membuatnya dipuji gurunya. Gurunya pernah mengadakan ulangan IPS, Ita mendapat nilai seratus tapi nilai itu tidak dimasukkan ke daftar nilai karena teman-teman Ita nilainya jeblok semua. Mau tahu bagaimana Ita bisa mempunyai pengetahuan yang luas seperti itu? Ita, meski tak pernah mempunyai buku pelajaran sendiri, ia selalu meminjam buku-buku guru-guru yang mengajarnya. Ketika temannya bermain, ia membaca. Ketika temannya jajan, ia membaca. Bahkan, karena terlalu suka dengan membaca, Ita akhirnya suka menulis juga. Ia menulis berpuluh-puluh puisi. Gurunya pernah menemukan sebuah amplop dari tasnya. Gurunya pikir itu adalah amplop yang berisi surat cinta. Tapi, ternyata amplop itu adalah amplop yang berisi puisi-puisi Ita yang akan dikirimkan ke majalah anak-anak yang ada di Semarang. Gurunya tak ada alasan untuk memarahi Ita.
Pada waktu kelas V SD, Ita jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan anak pindahan dari kota Purwokerto. Anak laki-laki itu benar-benar tampan sekali. Tapi, cinta itu hanya terpendam tak pernah terungkapkan sampai delapan tahun kemudian.
Di Sekolah Dasar pula, Ita untuk pertama kalinya menunjukkan taringnya. Pada waktu ia kelas VI. EBTANAS adalah satu-satunya cara agar anak bisa mendapatkan ijazah SD. Karena ada 32 siswa di kelas Ita, maka ruangan dibagi dua. Ita di ruang B bersama lima belas anak lainnya. Di ruang A juga ada enam belas anak. Salah satu dari mereka adalah anak guru. Seusai ujian PMP, Ita berkumpul dengan teman-temannya. Listyani, salah satu temannya bercerita. “Titik enak, ia diajari pengawasnya.”
“Apa maksudmu dengan ‘diajari’?” tanya Ita tak mengerti.
“Pengawasnya itu memberitahu Titik,” jelas Lis.
“Memberitahu jawabannya, maksudmu?”
Lis mengangguk. Ita sakit hati mendengarnya. Ia telah belajar keras menjadi yang terbaik, tapi Titik ingin menjegalnya dengan cara curang. Ita melakukan protes dengan menulis. “Hal seperti ini tak seharusnya terjadi,” tulisnya di selembar kertas. “Ini tidak adil. Pak Guru berbuat curang.” Tulisan-tulisan Ita terbaca oleh guru pengawasnya. (Ita menulis itu ketika ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.) Pengawas itu mengambil tulisan Ita. Ita ketakutan sekali. Ita takut, kalau ia tidak diluluskan gara-gara tulisannya.
Hari pengumuman datang. Pak Guru mengumumkan nilai murid-muridnya. “Semua anak kelas VI lulus semua,” umum Pak Guru. Anak-anak bersorak. “Meskipun ada sedikit kendala pada saat pelaksanaan ujian,” Pak Guru memandang Ita. Ita menunduk, merasa bersalah. Sedikit kendala itu pasti tulisan-tulisannya yang ditemukan oleh para pengawas. “tapi, anak-anak telah membuktikan menjadi anak yang terbaik,” lanjut Pak Guru. “dan sebagai peraih nilai tertinggi adalah … “ Pak Guru berhenti sebentar. Jantung Ita berdegup kencang. “Ita Wirya!” lanjut Pak Guru. Ita bersorak gembira. Teman-temannya juga melakukan hal yang sama. Titik di pojok ruangan tertunduk lesu.
Delapan tahun kemudian, Ita sekolah di sebuah SMA N di Bukiteja. Ia masih suka membaca, dan ia masih suka sekali pada cinta pertamanya: Tri. Banyak cowok yang meliriknya tapi Ita tak peduli. Ia tetap berpegang teguh pada cinta pertamanya meski ia tahu ia takkan pernah memiliki cinta itu karena Tri telah pindah ke kota lain, dan Ita tak tahu dimana tepatnya ia pindah.
Ia masih pintar seperti di SD dulu. Juara kelas pun selalu berada di genggamannya. Tahun 1997, Ita lulus SMA. Ia dengan mudah masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya, Universitas Diponegoro jurusan Sastra Inggris lewat jalur tanpa tes.
Pada suatu malam ketika Ita bercerita tentang rencanya untuk kuliah, orang tua Ita tak menolaknya. Mereka akhirnya menyetujui keinginan anak gadisnya. Mereka tak pernah mengatakan pada Ita bahwa mereka menyekolahkan Ita dan kedua adiknya sampai di SMA adalah sesuatu yang luar biasa sekali bagi mereka? Kau tahu kenapa? Teman-teman sebaya Ita tak ada yang melanjutkan sekolahnya. Dari 32 anak teman Ita di SD hanya enam anak yang melanjutkan sampai SMP dan tiga anak yang melanjutkan sampai SMA. Lainnya bekerja ke kota menjadi pembantu rumah tangga dan menikah.
Dari tiga anak yang melanjutkan ke SMA, Ita menjadi satu-satunya anak yang melanjutkan kuliahnya. Satu anak lagi pergi menjadi TKI ke Ara Saudi dan satu lagi menikah setelah lulus SMA. Kedua anak itu berbeda sekali dengan Ita. Mereka anaknya orang kaya, tapi sayanganya tak mempunyai otak sepintar otak Ita. Jadi, mereka lebih memilih untuk bekerja dan menikah.
1997-2002
Ita memang dari keluarga biasa-biasa saja tapi Ita keras kepala sekali untuk tetap kuliah. Ita tak ingin ketiadaan biaya menjadi halangan mencapai cita-citanya. Jadi, Ita terus melangkah menuju cita-citanya. Ia kuliah sekarang. Di perguruan tinggi paling favorit se Jawa Tengah, Universitas Diponegoro.
Awal-awal di Semarang, Ita menangis seharian di kamarnya. Ia memang mempunyai otak yang cerdas tapi ia tak mempunyai sosial yang cerdas. Ita keingungan sekali, tak tahu harus melakukan apa.
Hari kuliah pertama juga hari yang menyebalkan sekali. Meski ia suka membaca, tapi ia tak pernah membaca karangan berbahasa Inggris sebelumnya. Ia menyumpah guru bahasa Inggrisnya di SMA karena tak pernah mengajarkan cara membaca yang baik. Selain itu, Speaking teman-temannya baik sekali. Ita lagi-lagi tak bisa mengucapkan satu patah kata pun. Lagi-lagi ia menyumpahi guru SMAnya. Guru itu tak pernah mengajarkan keempat skills dalam berbahasa Inggris. Gurunya hanya mengajarkan grammar, grammar dan grammar. Tapi, skill yang yang harus ditunjukkan: speaking dan writing, ditinggalkan saja. Hasilnya, Ita mulai kedodoran mengikuti kuliahnya.
Nilai-nilainya hancur semua kecuali nilai-nilai mata kuliah umum dan grammar. Grammar, seperti dugaannya, mendapat A. Semua pelajaran hafalan juga dapat A. Tapi, Speaking I, Reading I, dan Writing I hanya C.
Permasalahan Ita tidak hanya berhenti sampai di situ. Ia juga kesulitan keuangan. Uang saku dari orang tuanya tak mencukupi untuk biaya makan sehari-hari dan juga untuk biaya fotokopi buku-buku kuliah.
“Aku harus kerja,” katanya menguatkan dirinya sendiri.
Ita bangkit dari ranjangnya di sebuah kamar kos yang kecil dan pengap. Uangnya hanya cukup untuk membayar biaya kos dengan fasilitas yang murah dan seadanya.
Ita berjalan ke perpustakaan wilayah yang ada di Jl. Sriwijaya Semarang. Di sana, Ita membaca semua lowongan yang ada di iklan kecik setiap koran. Tak ada lowongan yang cocok untuk mahasiswa semester I yang kemana-mana selalu berjalan kaki. Tapi, Ita terus mencari. Mata Ita tertumbuk pada iklan kecik: sebuah lbb yang sedang berkembang membutuhkan guru privat untuk tk, sd, smp, sma. Ita memutuskan untuk melamar di LBB itu. Tunggu punya tunggu lamaran itu sudah satu bulan belum ada panggilan.
Ita pun mengubah strategi. Ia membuat brosur sendiri. Salah satu temannya yang selalu dibantunya ketika mata kuliah Grammar membantunya dengan mengizinkan Ita mencantumkan nomer telepon kosnya. Ia sebar brosur di sekolah-sekolah favorit yang ada di Semarang. Ia lakukan itu sendiri. Pagi-pagi sekali ia keluar dari kosnya. Ia menuju SMA Sedes Sapientie. Sekolah ini yang paling dekat dengan kosnya. Ia berikan pada setiap murid yang baru turun dari mobil yang mengantarnya. Sebagian dari mereka tak peduli dengan brosur itu, mereka membuangnya begitu saja. Sebagian lagi memasukkan brosur-brosur yang diterimanya ke dalam tasnya.
Pelan-pelan usaha itu ada hasilnya. Ita sudah mulai ngelesi sekarang. Murid pertamanya dari SD Sompok. Setiap hari Selasa dan Kamis, Ita pergi ke Jl. Mangga. Di sana rumah anak lesnya. Pada saat teman-teman kuliahnya hang out ke Citra Land sehabis kuliah, Ita buru-buru ke perpustakaan untuk membaca buku-buku Teori Sastra dan Linguistik Ia belajar dan terus belajar, tak ada waktu untuk bersosialisasi.
Selain belajar dan ngelesi, Ita tetap mengembangkan hobinya yang lain, menulis. Ia tetap menulis puisi, cerpen remaja, cerpen islami, novel dan juga skenario. Ia kirimkan tulisannya ke media-media cetak yang menerima cerpen. Sekali kirim sepuluh judul, sembilan dikembalikan dan satu dimuat. Ita tak pernah putus asa. Ia terus menulis di sela waktu belajarnya dan bekerja.
Pada suatu hari Ita ke perpustakaan, seperti biasa ia pergi sendirian. Di sana ia tak sengaja menjatuhkan sebuah buku yang hendak dipinjamnya. Buku itu mengenai kaki seorang cowok. Cowok itu menjerit kesakitan. Ita buru-buru minta maaf padanya. Akhirnya Ita berkenalan dengannya. Tri namanya. Setelah kejadian tersebut, Tri sering main ke rumah Ita. Ia memberikan perhatian yang lebih pada Ita. Ita yan masih begitu polos mengartikan lain perhatian itu. Ia menganggap Tri memperhatikannya begitu rupa karena Tri jatuh cinta padanya. Perasaan Ita melambung tinggi. Ia benar-benar bodoh sekali. Tri tak lebih dari playboy kelas kambing yang suka menjerat gadis-gadis polos seperti Ita. Setelah berhasil menjeratnya, Tri meninggalkannya. Begitu pula yang akan dilakukannya pada Ita. Ia menebarkan pesonanya begitu rupa hingga Ita jatuh cinta. Bodohnya, Ita benar-benar jatuh cinta pada Tri. Cinta yang buta. Ita memberikan seratus persen cintanya kepada laki-laki brengsek itu.
Ita memang masih lugu dan polos tapi ia juga seorang gadis yang memegang prinsipnya kuat-kuat. Ketika Tri ingin menciumnya, Ita menolaknya mentah-mentah. Ketika Tri memintanya untuk berhubungan badan, Ita menendang selangkangan Tri dengan kuat.
Setelah itu, Tri tak pernah kembali datang ke rumah Ita. Ia menghilang bagai ditelan bumi. Ita kelimpungan sekarang. Ia sangat mencintai Tri. Cinta yang buta, yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ita merasa benar-benar terperosok ke dalam jurang yang dalam. Ia bahkan sempat berpikir bunuh diri ketika merasakan sakit luar biasa di hatinya karena Tri mencampakkannya begitu saja karena alasan yang benar seratus persen. Pernahkah terbersit dalam pikiran Tri kalau permintaannya itu bisa membuat Ita hamil dan menghancurkan impian Ita begitu saja? Kalau dirinya hamil, maukah laki-laki bajingan itu bertanggung jawab?
Ita tak yakin kalau Tri seberani itu. Mempertimbangkan hal itu, Ita memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Ita memutuskan untuk melupakan Tri dan kembali menata hidupnya yang hampir berantakan. Ita kembali bekerja dan berangkat kuliah dengan rajin.
Sepulang mata kuliah Telaah Drama, Ita meluangkan waktunya di perpustakaan Sastra. Berjalan menuju ke sana, mata Ita melihat sebuah iklan lowongan pekerjaan.
“Dibutuhkan seorang editor junior untuk sebuah penerbitan yang sedang berkembang. Lamaran harap dikirim di Jl. Jeruk no. 5,” baca Ita pelan. Ita mengurungkan niatnya ke perpustakaan. Ia memutuskan pulang ke kos dan menulis surat lamaran. Ita melamar di penerbitan itu. Editor Junior sudah ada yang mengisinya (Widi Utama yang mengisi jabatan itu.) tapi Ita tetap bekerja di penerbitan itu sebagai penulis freelance.
2002-sekarang
Kisah Cinta Ita Wirya
Tahun 2002 setelah kuliah selama lima tahun, Ita lulus juga dari kuliahnya. Usianya 23 tahun sekarang. Sakit hati atas kegagalan cintanya yang pertama telah hilang. Ita sekarang seorang editor pada sebuah penerbitan yang cukup besar di Semarang. Ia sudah mulai pintar bergaul sekarang. Penampilannya juga tidak seperti masih menjadi mahasiswa miskin dulu. Ia kelihatan cantik sekarang. Setiap bulan sekali ia ke salon. Wajahnya yang dulu banyak jerawatnya, mulai kelihatan bersih. Tapi, sifat tinggi hatinya masih ada. Jarang ada laki-laki yang berani mendekatinya.
Tapi, akhirnya ada juga seorang laki-laki yang berani mendekatinya. Laki-laki lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Usianya sama dengan usia Ita, 23 tahun. Ia tak terlalu tampan, tapi ia berhasil mengambil hati Ita. Setelah sekian lama, hatinya tertutup untuk laki-laki, sekarang hati Ita cair juga. Mereka berpacaran.
“Hari ini aku ke tempat kosmu, ya?” kata laki-laki itu di telepon. Ita mengiyakan.
Di kantor hari ini Ita merasa tegang sekali. Banyak pekerjaan yang tak beres. Ia kelihatan bersungut-sungut. Wajahnya menatap nanar laki-laki yang duduk di depannya. Laki-laki itu tampak mengkeret dipandangi seperti itu.
“Jangan pernah ulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya!” kata Ita dengan tatapan setajam pisau.
“I..Iya Bu,” jawab laki-laki itu terbata-bata sambil berdiri dan meninggalkan Ita.
Ita masih termangu di tempatnya. Sementara itu, laki-laki itu kemali ke meja kerjanya. “Aku akan balas semua ini,” katanya dalam hati sambil mengenyakkan diri di kursinya. “Ia benar-benar siluman.”
Hari mulai petang.
Ita sudah ada di rumahnya sekarang. Ita sedang menulis sesuatu di sebuah kertas warna merah jambu.
“Aku mencintaimu, Abdul,” mulutnya berkata tak henti-henti. Ia terus menulis. Terkadang ia berhenti sebentar. Pikirannya membayangkan laki-laki yang sekarang menjadi teman dekatnya. Tidak terlalu tinggi, gemuk dan hitam manis. Kalau tertawa manis sekali. Ita benar-benar berbahagia sekali sekarang. Masa-masa sakit hati karena kegagalan cinta pertama hilang sudah.
Sementara itu, di sebuah kafe di Simpanglima.
“Wanita itu benar-benar srigala, Dul,” cerita laki-laki yang tadi siang dimarahi Ita habis-habisan. “Belum pernah kulihat wanita segalak itu.”
“Maksudmu siapa? Wanita yang mana?” tanya Abdul tak mengerti sambil memandang sahabatnya waktu SMA itu dengan lekat.
“Bosku di kantor?”
“Maksudmu di Miracle Publishing?”
“Iya dimana lagi. Emang kantorku ada berapa sih?”
Abdul tak melanjutkan pertanyaannya. Pikirannya membayangkan seorang wanita yang sekarang menunggunya. Wanita yang bekerja di tempat yang sama dengan dimana sahabatnya bekerja. Ia tak berani membayangkan kalau Ita Wirya, wanita yang sangat dicintainya, adalah wanita yang dibicarakan oleh laki-laki yang sekarang duduk di depannya.
“Aku duluan, ya,” kata Abdul sambil melihat jam tangannya. “Aku ada kencan. Seseorang menungguku di rumahnya.”
“Tunggulah sebentar lagi,” rajuk laki-laki itu.”
“Arif, kau tahu aku ‘kan?” kata Abdul tak sabar. “Aku selalu on time. Tak pernah terlambat karena aku mengharapkan hal yang sama terjadi padaku.”
Abdul buru-buru berdiri. Arif masih termangu di tempatnya memandang kepergian sahabatnya.
Sementara itu, di rumah Ita Wirya. Ia sudah berdandan sangat cantik sekali. Ia menunggu-nunggu dengan cemas kedatangan Abdul. Tak lama kemudian, yang ditunggu sudah datang.
“Sudah lama menungguku?”
Ita hanya tersenyum malu-malu menjawab pertanyaan itu.
“Maaf aku terlambat,” kata Abdul lagi tak tahu harus berkata apa.
“Silahkan duduk, Dul!” jawab Ita. Abdul menuruti kata-kata Ita.
Tak ada yang mereka bicarakan. Ita terlalu malu untuk bicara. Abdul juga tak tahu harus mengangkat topik apa. Waktu berlalu dengan cepat. Sekarang pk. 21.00. Abdul buru-buru pamit. Ita memberikan sesuatu pada Abdul. Sebuah surat dengan amplop merah jambu. Abdul menerimanya. Tak tahu harus berkata apa.
****
Sisa-sisa kebahagiaan Ita sudah menguap. Arif lagi-lagi membuatnya marah. Ia membuat sebuah kesalahan, entah apa untuk ke sekian kalinya.
“Arif, kemarin ‘kan sudah kujelaskan, semua penawaran buku yang masuk, harus ke mejaku dulu. Jangan langsung ke bagian penerbitan. Kamu lupa, ya?”
“Ma…, maaf, Bu! Pak Hasan menyuruh saya mengantarkan buku itu ke bagian penerbitan. Kata Pak Hasan, ibu sudah mengeditnya,” jawab Arif.
Ita tak berkata-kata lagi. Ia hanya memandang Arif dengan matanya yang bulat dan hitam. Arif buru-buru berdiri meninggalkan Ita.
****
“Dul, wanita itu tak hanya srigala. Ia srigala kelaparan yang rela menerkam mangsanya meski itu anaknya sendiri,” terdengar suara Arif di telepon.
“Sabar, ya, Rif! Aku kenal editor di perusahaanmu. Aku akan minta ia menolongmu.”
“Maksudmu, kau kenal Ita Wirya?”
“Begitulah. Ia pacarku.”
Sesaat lamanya, Arif tak bisa berkata apa-apa. Ita Wirya, si srigala, pacar Abdul, sahabatnya, yang menurut Arif paling baik sedunia. Hal ini tak bisa dibiarkan. Abdul bisa mendapatkan wanita yang lebih segala-galanya daripada si srigala, Ita Wirya.
“Halo! Halo!” terdengar suara Abdul memanggil-manggil.
“Hari ini kita bertemu di tempat biasa,” kata Arif sambil memutus sambungan teleponnya.
Sorenya Arif bertemu dengan Abdul di sebuah kafe di Simpanglima. Mereka tampak berbicara dengan serius.
“Bukannya aku tak menghargai penilaianmu padanya,” kata Arif sambil menyeduh kopinya. “Ita benar-benar serigala. Kau tak pantas mendapatkannya. Kau berhak mendapat wanita yang lebih baik daripada si srigala.”
Rupanya, Arif sudah mulai melaksanakan balas dendamnya. Ia menceritakan semua keburukan Ita. Sayangnya, di balik semua kebaikannya, Abdul bukan laki-laki yang kuat hati. Ia tak tahan mendengar semua keburukan Ita. Ia pun memutuskan untuk melepaskan cinta pertamanya begitu saja.
Sementara itu, Ita dalam sujud panjangnya berdoa kepada Allah. “Ya, Allah, aku berharap Abdul bisa mengendalikanku, bisa membuatku menghilangkan sifat pemarahku, dan bisa menghilangkanku sifat sombongku. Kalau pun tak bisa, aku berharap ia bisa menjadi penyeimbangku, hingga akhirnya pelan-pelan aku bisa menghilangkan sifat burukku.”
Harapan yang dipanjatkan Ita, hanya menjadi harapan seperti harapan-harapan sebelumnya. Tak pernah menjadi kenyataannya. Abdul tak lagi pernah datang padanya. Tak pernah lagi meneleponnya. Ketika Ita berusaha meneleponnya, Abdul memang mengangkatnya tapi suaranya tak seperti biasanya. Suara Abdul kasar sekali. Ita pun sadar, Abdul seperti halnya cinta sebelumnya: tak tahan mendengar keburukannya dan memutuskan untuk meninggalkannya.
Ita hanya bisa menangis seharian. Terpuruk dalam cinta sebelum menikah untuk kedua kalinya membuatnya tak bisa berbuat apa-apa seharian. Ita pun tidak masuk kerja. Ia berjalan menyusuri jalan kenangan antara dirinya dan Abdul. Pertemuan pertamanya di rumah kos anak buahnya yang sakit. Kebetulan Abdul menengok juga. Abdul ternyata teman Farida, anak buahnya yang sedang sakit.
Pada saat itu – Ita masih ingat sekali – Abdul memandanginya tak henti-henti. Ketika ia berpamitan pulang, Abdul mengejarnya dan minta alamatnya. Ita tak memberikannya. Tapi, akhirnya Abdul tahu juga alamat rumahnya dan nomer teleponnya. Menurut ceritanya, Farida yang memberitahu alamat dan nomer telepon Ita. Abdul juga bercerita kalau ia mengenal Farida dari temannya yang bekerja di Miracle Publishing. (Kebetulan saat itu, Arif sedang menjodohkan Abdul dengan Farida) Sayangnya, Ita tidak pernah bertanya siapa nama teman Abdul itu. Seharian Ita berjalan di sepanjang jalan kenangannya. Beranjak sore Ita pulang ke rumahnya.
Sementara itu di kafe yang sama di Simpanglima. Abdul sedang duduk ditemani Arif. Abdul tampak terpekur tak mendengarkan cerita Arif.
“Nenek sihir itu – maksudku Ita – tidak masuk hari ini,” cerocos Arif tak menyadari ketidakhadiran pikiran Abdul di depannya. “Entah apa yang terjadi. Kuharap ia mengundurkan diri. Kantor tenang hari ini. Tak ada yang marah terus-menerus, tak ada yang memerintah seenaknya.” Arif berhenti bercerita. Akhirnya, ia menyadari ketidakhadiran pikiran Abdul di depannya. “Dul!” panggilnya pelan.
Abdul mendongak. “Aku meninggalkan Ita,” katanya lirih hampir tak kedengaran.
Arif terbelalak kaget mendengarnya. Ia tahu sekarang kenapa Ita tidak masuk hari ini. “Bukan karena ceritaku ‘kan kau meninggalkan Ita?” tanya Arif penuh simpati. Abdul tak menjawab. Ia kelihatan nelangsa. “Kalau kau begitu mencintainya, kenapa kau meninggalkannya?” tanya Arif lagi tak tega. Abdul lagi-lagi tak menjawab. Ia diam saja. “Tenanglah, masih ada yang lebih baik dari Ita. Coba kau seriusi Farida. Ia lebih baik dari Ita. Menurutku kau lebih cocok dengannya,” hibur Arif lagi. Abdul lagi-lagi tak menjawab. Arif menyerah. Ia ikut-ikutan diam. Di sudut pikirannya, yang tak terjangkau siapapun juga, Arif senang sekali. Arif senang Abdul meninggalkan Ita karena Ita akan menderita sekarang.
Keesokan harinya, Ita berangkat kerja seperti biasa. Wajahnya terlihat ceria seperti tak terjadi apa-apa. Arif yang melihatnya terheran-heran sekali. “Apakah ia benar-benar wanita yang punya perasaan?” tanyanya tak henti-henti dalam hati.
Tujuh bulan kemudian di Miracle Publishing, ada karyawan baru bagian pemasaran. Mufti namanya. Laki-laki biasa saja tapi baik luar biasa kepada siapa saja. Kehadirannya membuat perusahaan itu tambah semarak. Ia sering kerja lembur untuk memenuhi target dari perusahaannya. Kalau pulang kerja selalu bareng dengan Ita. Ya, Ita sekarang sering lembur. Setelah ditinggalkan Abdul tanpa kata putus, Ita membenamkan dirinya dalam pekerjaannya.
“Ta, aku baru dapat komisi hari ini. Mau tidak kau kutraktir?” pinta Mufti pelan sekali. Hatinya harap-harap cemas sekarang. Ia takut Ita menolak permintaannya.
Sementara itu, Ita memandang laki-laki yang sekarang berjalan di sampingnya lekat. Ia tak langsung memutuskan menerima tawaran itu. Ia sedang menimbang-nimbang untuk menerima tawaran itu. “Baiklah,” jawab Ita.
Mereka pergi ke sebuah kafe di Simpanglima. Di tempat yang sama dimana Abdul dan Arif sekarang berada. Mufti melihat Arif duduk di pojok kafe. Ia mendekati Arif. Ita mengikutinya.
“Boleh kami gabung di sini?” tanya Mufti santai. Arif tak langsung menjawab. Ia melihat wanita yang berdiri di belakang Mufti. Ia terbengong. “Kalau diam artinya iya,” kata Mufti sambil menjatuhkan pantatnya di kursi di samping Arif. Ia berhadap-hadapan dengan Abdul sekarang. “Ita, kamu duduk di sampingnya,” suruh Mufti sambil menunjuk ke Abdul.
Mendengar nama Ita dipanggil, Abdul buru-buru menoleh ke belakang. Matanya bertatapan dengan mata Ita. Abdul tak berkata apa-apa. Ita tersenyum manis sekali.
“Lama tak jumpa, Dul,” kata Ita dengan ceria. “Hai, Arif.” Ita menyapa Arif sambil duduk di kursi yang ada di samping Abdul.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Mufti sambil memandang bergantian ke arah Ita dan Abdul.
“Begitulah,” jawab Ita singkat. Abdul sementara itu tak menjawab apa-apa. Ia hanya memandang sekilas ke arah Ita kemudian mengambil jus jambu merah yang ada di depannya. Arif tak bisa berkata apa-apa. Suasana seperti ini tak pernah ada dalam bayangannya. Suasana yang terasa kaku itu dipecahkan oleh suara Ita, “Kau pesan apa Mufti?”
“Sama denganmu,” jawab Mufti sambil memandang Ita, terpesona. Ia tak pernah mengenal Ita yang ceria sebelumnya. Ita malam ini begitu ceria hingga wajahnya terlihat cantik mempesona.
“Kau ‘kan yang traktir. Jadi, kau yang pilih menunya,” jawab Ita sambil menoleh ke arah Arif dan bertanya,” Abdul, temanmu, Rif?”
“Ya,” jawab Arif singkat.
Setelah itu, hanya diam yang ada. Ita dan Mufti makan pesanannya dengan lahap. Tak ingin berlama-lama bersama Abdul dan Arif, Ita buru-buru mengajak Mufti.
Pertemuan yang tak sengaja dengan Abdul dan Arif malam itu, menyadarkan Ita mengapa Abdul meninggalkannya. Abdul tahu semua keburukannya dari Arif, bawahannya. Ita hanya bisa menghela nafas panjang.
Kisah Cinta Ita Wirya II
Mufti jatuh cinta pada Ita Wirya setelah melihat keceriaan Ita Wirya di makan malam pada saat Mufti mentraktirnya. Menurut Mufti, Ita begitu cantik sekali malam itu, dan Ita yang ceria sebenarnya adalah Ita yang asli. Sikapnya yang tinggi hati selama ini sebenarnya hanya kedok untuk menutupi kepribadiaannya yang sebenarnya atau mungkin rahasianya.
Mufti pun rajin menelepon Ita. Ita dengan senang hati melayaninya. Ia butuh teman dan Mufti adalah teman yang menyenangkan. Mufti juga sering memberikan Ita hadiah. Ita menerimanya dengan senang hati menerimanya. Ia sudah lama tak menerima hadiah. Mufti juga sering menunggu Ita untuk pulang bersama. Ita tak menolaknya. Ia menganggap ini adalah bagian dari sebuah persahabatan.
Hingga akhirnya, Ita menyadari sesuatu, Mufti mencintainya. Peristiwa itu tak sengaja ia ketahui. Pada waktu itu notebooknya hang tak bisa dipakai. Padahal Ita butuh sekali untuk mengedit sebuah cerita yang akan diterbitkan. Ita minta tolong pada Mufti. Pada saat itu jam kantor sudah usai dan Ita memutuskan lembur. Mufti dengan setia menunggunya.
“Bisakah kau membetulkannya?”
“Insyaallah bisa,” jawab Mufti sambil mengutak-utik notebook yang ada di depannya. Tidak bisa dalam sekali sentuhan.
“Bisakah …?” Ita tak melanjutkan ucapannya.
“You know, Ta,” potong Mufti. “I can do everything if there is you on my right side.”
Selesai berkata seperti itu, Mufti meminta Ita menyalakan notebooknya. Notebook itu dengan mudah booting sekarang.
“Thanks, Muf,” kata Ita. Ia tak sempat memikirkan kata-kata Mufti barusan. Ia kembali asyik menekuni pekerjaannya. Mufti dengan setia menunggunya. Satu jam kemudian Ita memutuskan menghentikan pekerjaannya. Mufti mengantar Ita pulang. Tapi, beberapa waktu kemudian, Ita menyadari kalau Mufti mencintainya.
Suatu malam ketika Ita lembur (seperti biasa sendirian), Mufti menemaninya. Tanpa sadar Mufti berkata,” Kalau kau mau ikut aku, kau tak perlu kerja seperti ini.” Ita menatap Mufti lekat. Mufti salah tingkah dibuatnya. “Lupakan saja kata-kataku tadi,” lanjut Mufti akhirnya.
Sayangnya, Ita tak pernah melupakan kata-kata itu. Ia mulai menjaga jarak dengan Mufti. SMS Mufti jarang dibalasnya. Ita juga mulai jarang lembur. Ia lebih suka menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Mufti tak menyerah begitu saja. Ia terus menelepon dan mengirim SMS ke Ita. Ita jengah. Ia belum siap menjalin sebuah hubungan baru. Sakit hati ditinggalkan Abdul masih membekas sampai sekarang. Belum lagi undangan pernikahan yang kemarin dilihatnya tergeletak di meja Arif, membuat sakit hatinya kambuh lagi. Undangan pernikahan antara Abdul dan Farida, rekan sekantornya yang dijodohkan Arif dengan Abdul. Begitu mudahnya Abdul melupakannya dan menikah dengan gadis lain. Sedang ia sendiri, begitu sulit melupakan laki-laki itu. Hatinya terasa disayat-sayat melihat undangan itu.
Di kejauhan Arif melihat yang dilakukan Ita. Ia tersenyum puas melihat kesedihan di wajah Ita. Ia berjalan mendekati Ita ingin melihat reaksinya dari dekat. Ita menyadari kehadiran Arif.
“Mengapa ia tak mengundangku?” tanya Ita. Arif tak langsung menjawab pertanyaan itu. “Padahal setiap malam aku berdoa untuknya agar dia bahagia.”
“Mungkin, Abdul tak ingin melihat kesedihan di matamu,” jawab Arif sambil duduk di kursinya. Buru-buru Ita meletakkan surat undangan itu di meja Arif.
Sementara itu, Mufti masih tak menyerah. Ia terus menunggu Ita untuk membuka hatinya. Ita masih seperti sebelumnya tak siap menerima Mufti. Ita mulai tak membalas SMS Mufti dan tidak mengangkat telepon darinya.
Waktu berlalu, tanpa terasa tahun berganti.
Tahun 2005 ada tamu di Miracle Publishing. Seorang laki-laki tinggi besar dan dengan kulit agak hitam. Rambutnya pendek dan lurus tersisir rapi. Senyumnya ramah. Semua karyawan di Miracle Publishing senang melihat kedatangannya. Mereka tampak mengerubunginya.
“Ita mana?” tanyanya setelah melihat sekeliling dan tak menemukan Ita di meja kerjanya. “Tidak seperti biasanya ia datang terlambat begini. Ia masih Miss Perfect and on time ‘kan?”
Tak ada yang menjawab pertanyaan itu dari orang-orang yang mengerubunginya karena,” Absolutely yes,” jawab Ita dari belakang kerumunan.
“Hi, Ta,” sapa laki-laki itu. “I heard that you had graduated from your study.”
“Three years ago in 2002. Outstanding,” jawab Ita.
“What do you mean with ‘outstanding’?
“My mark.”
“Cumlaude?”
“Yes.”
Mereka terus bercakap-cakap, tak menyadari kerumunan itu sudah menghilang.
“You’re still like Ita that I’ve known. Harry Potter, right?”
Ita mengangguk. Nilai Outstanding adalah nilai dalam ujian OWL dan NEWT yang melelahkan di sekolah sihir Hogwarts. Harry Potter dapat satu nilai O untuk mata pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Karena begitu sukanya dengan Harry Potter, Ita sering menggunakan istilah-istilah yang ada dalam buku Harry Potter ketika ia bericara dengan teman dekatnya. Seperti yang dilakukannya dengan Widi sekarang.
“How about dinner tonight?”
“Dinner? Tonight? With you? I will never refuse it,” jawab Ita sambil meletakkan tasnya di meja kerjanya. “How is your job? How is Jakarta?”
“I get a promotion.” (“Oh. Really?” jerit Ita kecil. Widi tak mengindahkannya.) “Jakarta is more crowded, more traffic jam, of course.”
“I think we can’t speak now. I must work,” kata Ita sambil menatap tidak ke arah Widi tapi ke arah seseorang yang berdiri di samping Widi. Widi menengok ke arah yang dilihat Ita. Ita merasa tak enak hati melihat Mufti. “Mufti, ini temanku, Widi,” lanjut Ita akhirnya. “Widi ini Mufti bagian pemasaran di sini.” Widi dan Mufti saling berjabat tangan dan menyebutkan nama diri masing-masing. “Widi dulu pernah kerja di sini tapi sekarang ia pindah ke Jakarta. Cari gaji yang lebih baik katanya.” Mufti mendengarkan penjelasan itu sambil lalu saja. Tadi ia sempat melihat keakraban Ita dan Widi. Nyeri sekali dadanya ketika melihat keakraban itu.
“Ok, Ta,” kata Widi memecah keheningan. “Aku duluan. Mufti, (Widi berkata sambil melihat ke arah Mufti) kalau kau mau nanti malam bisa bergabung dengan kami. Makan malam menyambut kedatanganku.”
“Tidak,” jawab Mufti cepat. “Aku harus lembur.”
“Baiklah kalau begitu,” kata Widi lagi. “See you tonight, Ta.” Widi berlalu meninggalkan Ita dan Mufti. Ita sudah mulai akan bekerja. Mufti masih berdiri di tempatnya.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Ita akhirnya.
“Tidak,” jawab Mufti sambil menggeleng lemah dan berlalu dari hadapan Ita.
“Maafkan aku, Muf,” kata Ita pelan. Mufti tak pernah mendengar permintaan maaf itu, karena Ita mengatakannya setelah Mufti berlalu meninggalkannya.
***
Ita sekarang sedang bersiap-siap di kamarnya. Teleponnya berdering. Dari ibunya.
“Besok, adikmu wisuda, Ta,” kata ibunya. “Kau bisa datang ‘kan?”
“Insyaallah bisa, Bu,” jawa Ita pendek.
“Usiamu sudah 26 tahun, Ta. Kapan kau bawa calonmu ke rumah?”
Lagi-lagi pertanyaan yang sama. “Aku belum punya pacar, Bu. Jadi, aku belum bisa membawa calonku ke Purwokerto. Mungkin sebentar lagi. Ibu sabar saja, ya.”
Pembicaraan sampai di sini. Ibu Ita menutup teleponnya. Ita melanjutkan persiapannya. Bel pintu berbunyi. Widi tampak berdiri menunggu Ita di sana. Ita buru-buru keluar dan membukakan pintu. Widi terpesona melihat Ita yang begitu cantik sekali dalam gaun malamnya.
“You’re so pretty, Ta,” puji Widi tanpa basa-basi. “It’s not like you that I knew before.”
“Thanks,” jawab Ita pendek.
“Simpanglima?”
Ita mengangguk. “ J cafe.”
Malam itu J Cafe sangat ramai sekali. Kebanyakan anak-anak muda. Ita dan Widi mengambil tempat di pojok belakang.
“Lama sekali kita tidak makan malam seperti ini,” Widi berkata memulai pembicaraan. Ada debar halus di hatinya ketika melihat Ita malam ini. Ia belum pernah merasakan debar seperti ini sebelumnya.
“Tiga tahun,” jawab Ita sambil tersenyum manis sekali. Dada Widi berdebar semakin kencang. Ia berusaha tak memperhatikan Ita sekarang. Ia melihat ke pintu depan.
“Bukankah itu Arif?” kata Widi pelan ketika melihat Arif datang ke kafe.
Ita melihat ke arah yang dilihat Widi. “Ah,” katanya pelan setelah melihat Arif masuk ke dalam kafe diiringi dengan …… Abdul.
Widi tak memperhatikan kata-kata itu. Reflek Widi melambaikan tangannya ke arah Arif. Arif melihatnya. Ia berjalan ke arah Widi dan Ita.
“Hai,” sapa Ita pelan setelah Abdul duduk di depannya. “Selamat ya atas pernikahanmu.”
Abdul tak langsung menjawab. Ia tak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini. Situasi yang sulit, terutama sekali bagi dirinya.
“Kamu sudah mengenalnya, Ta?” tanya Widi yang memang belum mengenal Abdul sebelumnya.
“Begitulah,” jawab Ita. “Ia teman dekatnya Arif. Arif ‘kan rekan kita. Jadi, aku mengenalnya.”
“O, begitu,” jawab Widi sambil melihat ke Abdul. “Aku Widi,” Widi berkata sambil mengulurkan tangannya ke Abdul. Abdul menerima uluran tangan itu dan memperkenalkan dirinya. “Abdul.”
“Selamat juga, ya atas pernikahanmu” kata Widi sambil matanya tak lepas dari Ita .
“Terimakasih,” jawab Abdul pendek, merasa tak perlu bertanya darimana Widi tahu kalau ia baru saja menikah. Widi pastilah mendengar Ita mengucapkan selamat atas pernikahannya.
“By the way, kapan kau menyusul sahabatmu, Rif?” sekarang perhatian Widi teralih ke Arif yang dari tadi diam saja.
Ditanya sedemikian rupa, Arif blingsatan juga. Ia belum punya dekat, jadi tak tahu kapan ia akan menikah.
“May,” jawab Abdul menyelamatkan Arif. Ita dan Widi langsung melihat ke Arif. Mereka ingin mengucapkan selamat. Tapi, .. “May be yes, may be no,” lanjut Abdul akhirnya.
Widi dan Arif tertawa lumayan keras. Ita hanya tersenyum dongkol. Tapi, setelahnya suasana menjadi lebih cair. Widi dengan bersemangat bercerita tentang pekerjaannya, promosi jabatannya yang baru saja diraihnya dan juga tentang kehidupan kota Jakarta yang semakin lama semakin bebas.
“Kau belum cerita soal pacarmu?” tanya Abdul setelah Widi selesai bercerita tentang pekerjaannya.
Widi menoleh ke Ita. “Kurasa Ita sudah siap kuboyong ke Jakarta sekarang,” jawabnya asal saja. Mata Ita membelalak lebar mendengarnya. Arif terperangah mendengarnya. Abdul, yang pada dasarnya masih mencintai Ita, merasakan denyut tak menentu di dadanya.“Itu kalau Ita mau. Kalau tidak mau, ya, aku akan cari yang lebih baik dari Ita. Bagaimana menurutmu, Ta?”
Tak menyangka akan ditanya seperti itu, Ita pun menjawab asal saja,” Aku sih terserah yang mengajak saja. Kalau diajak sekarang, ya, aku akan ikut, kalau besok, aku akan pikir-pikir lagi. Terlalu lama.”
Semua orang yang mendengar jawaban Ita tersenyum.
“Mereka hanya bergurau,” bisik hati Abdul.
“Ternyata Ita punya selera humor juga,” bisik hati Arif.
Tapi, Widi yang mendengar jawaban Ita berbunga-bunga sekali hatinya. Ita pun merasakan hal yang sama. Entah mengapa setelah mendengar kata-kata Widi tadi, Ita menyadari sesuatu. Ia tertarik pada Widi ternyata.
Setelah malam itu, hubungan Ita dan Widi berlanjut lewat e-mail dan SMS. Ita senang sekali mengirimkan kata-kata semangat atau memorable quote kepada Widi. Widi juga membalasnya. Ita merasa hubungan itu akan baik-baik saja. Ketika liburan tanggal merah, Widi selalu pulang ke Semarang. Widi dan Ita pun menghabiskan waktu bersama.
Sementara itu, Mufti tetap bersemangat untuk mendapatkan Ita. Ia melakukan segala macam cara supaya dekat dengan Ita. Sayangnya, Ita tak pernah merespon itu semua. Ita menolak semua ajakan Mufti, hadiah-hadiah Mufti dan tak pernah membalas SMS Mufti.
Tahun berganti. Sekarang tahun 2006. Ita masih berhubungan dengan Widi. Mufti masih mengharapkan Ita. Ita masih menolak Mufti.
Sebuah ujian kembali mendatangi Ita. Ita tak pernah tahu bahwa anak perempuan pemilik Miracle Publishing jatuh cinta pada Widi. Ayahnya, bekas pimpinan Widi ketika masih bekerja di tempat yang sama dengan Ita, berusaha keras memenuhi keinginan anak kesayangannya. Pemimpin perusahaan itu, Bayu Tedjamukti namanya, selalu menyempatkan diri makan malam dengan Widi ketika ia berada di Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia selalu bercerita tentang anak gadisnya dan menawarkan kepada Widi kalau-kalau ia mau bertemu dengannya. Widi tak bisa menolak keinginan mantan bosnya. Bagi Widi, mantan bosnya adalah laki-laki bijaksana dan orang yang datang pada saat yang tepat ketika Widi sedang kesusahan. Ia membutuhkan banyak uang untuk kuliahnya karena itu ia membutuhkan pekerjaan. Bayu Tedjamukti memberikan pekerjaan itu. Sekarang laki-laki yang begitu baik padanya sangat menginginkan dirinya bertemu dengan anak gadisnya. Ia merasa tak berhak menolak permintaan itu. Hanya bertemu, tidak melakukan apa-apa juga. Jadi, tak ada yang salah.
Pertemuan pertama Widi dengan anak perempuan Bayu Tedjamukti, Aya Sofia, berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Widi tak bisa menolak keinginan Aya Sofia untuk bertemu dengannya. Widi juga mulai melupakan betapa cantiknya Ita. Ia mulai jarang membalas e-mail atau SMS dari Ita. Aya Sofia, yang tinggal di Jakarta, lebih nyata bagi Widi daripada Ita Wirya yang tinggal di Semarang. Aya Sofia selalu menghampirinya, sedangkan Ita Wirya mengharap Widi yang menghampirinya.
Melihat keberhasilan Aya Sofia mendekati Widi, Bayu Tedjamukti melancarkan aksi selanjutnya. Ia menemui Widi dan meminta Widi menikahi anak gadisnya karena ia sudah mulai tua dan tak lagi sanggup mengendalikan perusahaannya. Ia butuh seseorang membantunya untuk mengendalikan perusahaannya. Ditawari hal yang tak disangka ini, Widi kelimpungan juga. Ia belum mencintai Aya Sofia seperti ia mencintai Ita Wirya. Tapi, Aya sudah begitu baik padanya. Bapaknya juga tak kalah baiknya kepadanya.
“Cinta hanya masalah waktu saja. Kau akan sanggup menumbuhkannya selama kau merasa orang yang ada di sampingmu adalah orang yang cocok denganmu,” nasihat Bayu Tedjamukti suatu ketika. Widi akhirnya menerima tawaran itu.
Sementara itu, di Semarang Ita mulai menyadari kalau Widi telah berubah. Widi tak pernah membalas e-mail dan suratnya, Widi juga tak pernah membalas teleponnya, Widi juga tak pernah lagi pulang ke Semarang ketika liburan menjelang.
Ita benar-benar kelimpungan sekarang. Ia mencintai Widi lebih besar daripada cintanya pada Abdul dan sekarang Widi menghilang setelah memberinya harapan yang cukup besar. Ita sendiri pun dilambungkan dalam harapan-harapannya itu. Ita tidak pernan menyangka kalau Widi akan menghianatinya. Widi, sahabatnya yang sama-sama merintis dari bawah untuk menjadi orang yang berhasil, meninggalkannya begitu saja. Tanpa ada kabar berita, yang ada hanya nestapa yang tersisa begitu saja.
Sementara itu, di Miracle Publishing berkembang rumor kalau Widi akan menikah dengan Aya Sofia, anak perempuan Bayu Tedjamukti. Ita mendengar juga rumor itu. Ia tak mau mempercayainya tapi kenyataannya Widi memang sudah meninggalkannya. Mufti juga mengetahui kabar itu. Ia tahu pasti kabar itu bukan sekedar rumor. Itu adalah kenyataan: kalau Widi akan menikahi Aya Sofia. Tanggal pernikahan juga sudah ditentukan.
Bagaimana Mufti tahu kalau kabar itu bukan sekedar rumor? Di kantor itu tak ada yang tahu kalau Mufti sebenarnya adalah keponakan Bayu Tedjamukti. Itulah sebabnya ia tahu dengan pasti kalau Widi akan menikah dengan Aya Sofia. Ia sendiri sudah ditunjuk sebagai pendamping pengantin laki-laki.
Bahkan Widi telah berbicara secara khusus dengannya.
“Tolong, jaga Ita,” Widi berkata sambil menyedot minumannya. “aku telah memberinya harapan tapi aku tak berani mewujudkan harapan itu.”
“Kau bajingan!” kata Mufti sambil memegang krah baju Widi.
“Jangan bodoh!” bentak Widi yang membuat Mufti melepaskan pegangannya. “Aku tahu kau mencintainya. Sangat mencintainya bahkan. Ini kesempatanmu untuk mendapatkannya. Datanglah padanya. Hiburlah dia. Dia akan membuka pintu hatinya padamu.”
Mufti tak berkata apa-apa. Widi benar.
Sayangnya, Ita begitu keras kepala. Meski ia tahu kabar pernikahan Widi dan Aya Sofia bukan lagi sekedar rumor, Ita tetap tak bisa menerima Mufti. Mufti memang mendekati Ita lagi seperti yang disarankan Widi. Ia sering mengajak Ita pulang bareng tapi Ita menolaknya. Mufti juga sering menelepon Ita tapi Ita tidak mengangkatnya. Mufti juga sering mengirim SMS kepada Ita tapi Ita tak pernah membalasnya. Mufti tak menyerah begitu saja. Tapi, Ita juga tidak menyerah untuk menolaknya.
****
Hari ini hari pernikahan Widi Utama dengan Aya Sofia. Ita cuti dari kantornya. Ia lebih memilih pulang ke kampung halamannya di tepian sungai Serayu. Di sana ia menangis sepuasnya. Di atas perahu yang membawanya menyusuri sungai Serayu. Tak ada yang menemaninya. Hanya Ita sendiri. Dalam kesedihan yang menyesakkan dada. Beribu duri seperti mengoyak hatinya. Luka yang sama seperti ketika Abdul meninggalkannya. Luka itu menganga lagi.
Ita dalam kesedihannya tak menceritakan masalahnya pada kedua orang tuanya dan kedua adiknya. Ia memendam luka itu sendiri. Ia merasakan sakit itu sendiri. Di tepian sungai Serayu yang mengalir deras Ita merenung. Renungan yang dalam. Di sana ada Mufti dan perjuangan kerasnya untuk mendapatkan cinta Ita. Ada Widi dan janji palsunya. Ada dirinya sendiri yang berusaha keras menolak Mufti. Semuanya berbaur jadi satu. Sakit hati Mufti yang terpancar di matanya. Harapan dari Widi yang terngiang jelas di telinga Ita. Semuanya berakhir pada satu kesimpulan. Sekarang adalah saat yang tepat untuk mengubur Widi dan mencoba menerima Mufti. “Cinta akan datang. Tak harus pada awalnya. Bisa jadi di tengah perjalanannya atau pada akhirnya,” tulis Ita di buku agendanya. Ita tak tahu buku diarinya ada dimana. Ia sudah berusaha mencarinya, tapi buku itu tak ada. Jadi, terpaksa deh Ita memakai buku agendanya untuk menuliskan curahan hatinya. (Pada akhirnya Ita akan tahu juga, buku diari itu tertinggal di kantor dan diambil Arif).
Sementara itu, di Semarang, Mufti sedang gencar didekati Bayu Tedjamukti. Pamannya itu berencana menjodohkan Mufti dengan anak buah kesayangannya. Gadis lemah gemulai asal Brebes. Gadis itu tinggi, kurus dengan sopan santun yang luar biasa. Menurut buku Personality Plus, kepribadiannya adalah plegmatis. Beda jauh dengan Ita yang koleris. Mufti sudah mengenal gadis itu. Dulu gadis itu (Diana namanya) pernah dijodohkan dengan Mufti. Mufti menolaknya karena ia mulai mengenal Ita Wirya. Ia jatuh cinta pada Ita dan berusaha mati-matian mendapatkannya. Sayangnya, Ita menolaknya. Sekarang Bayu Tedjamukti mendekati Mufti lagi. Ia menawarkan hal yang sama: Diana. Dalam kekalutan pikirannya, Mufti menerima perjodohan itu. Ia menerima Diana meski ia tak mencintainya. Kabar itu telah beredar santer di Miracle Publishing. Semua orang yang bekerja di sana telah mengetahui kalau Diana adalah calon istri Mufti.
Satu minggu kemudian Ita kembali ke kantor. Ita mulai lagi bekerja. Ia mendengar kabar itu juga. Ia mendengar kabar kalau Mufti akan menikah dengan wanita yang disodorkan Bayu Tedjamukti, komisaris Miracle Publishing. Ita sedih sekali. Dari tepian sungai Serayu, ia telah memutuskan untuk menerima cinta Mufti. Ternyata Mufti telah memilih terlebih dahulu. Mufti telah memilih Diana.
Sore harinya, Ita ke ruang kerja Mufti. Mufti kaget sekali melihat kehadiran Ita di sana.
“Selamat atas pertunangannya,” kata Ita langsung saja. Mufti tak bereaksi apa-apa. “Untuk merayakannya, maukah kau menemaniku makan malam kali ini.”
Mufti shock mendengar permintaan itu. Hal ini adalah hal yang selalu diharapkannya. Dulu, dulu sekali. Tapi, sekarang semuanya sudah terlambat. Ia sudah menerima Diana sebagai calon istrinya.
“Kau tak mau?” tanya Ita sambil duduk di kursi yang ada di depan Mufti.
Mufti menggeleng lemah.
“Baiklah kalau begitu,” kata Ita sambil bangkit dari duduknya. “Aku tahu semua sudah terlambat. Kupikir tak ada salahnya aku menebus semua kesalahanku dulu. Tapi, karena kau menolaknya, aku tak bisa berkata apa-apa.”
Mufti diam saja. Ia kebingungan sekarang. Di satu sisi ia sangat mencintai Ita, di sisi lain ia tak ingin menghianati Diana.
Ita meninggalkan Mufti dalam ketermanguannya. Ia berjalan dan terus berjalan. Tak tentu arah yang hendak ditujunya. Ujian yang dihadapinya benar-benar berat sekali dan datang dengan bertubi-tubi. Ita tak tahu harus bercerita pada siapa. Ia sudah biasa menyimpan kesedihannya sendiri. Sudah biasa menanggung kepedihan dan kesengsaraan sendiri. Ita terus berjalan.
Keesokan harinya Ita bangun dari tempat tidur. Wajahnya pucat. Rambutnya kusut masai. Ia berangkat ke kantor dengan malas. Teman-temannya tak ada yang menyapanya. Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Ita tak peduli. Ia tetap bekerja, memberikan kemampuan terbaiknya.
Keesokan harinya. Keadaan yang sama dialami Ita. Teman-temannya tetap acuh padanya. Tak ada yang mau menyapanya. Kalau bertemu dengannya, mereka bermuka masam. Ita terluka. Luka yang dalam dan membuatnya menarik diri dari pergaulan.
Sepulang kerja, Ita berjalan seperti biasa. Tak ada lagi Mufti yang selalu setia menemaninya. Ita berjalan sendiri. Sampai di depan pintu gerbang, seseorang menyapanya. Laki-laki, rekan sekerjanya, tak terlalu dikenalnya. Thariq namanya. Ia seorang programmer yang bekerja di Miracle Publishing.
“Kok sendirian?” sapa laki-laki itu. Ita menghentikan langkahnya. Ia melihat orang yang barusan menyapanya. Laki-laki itu tersenyum. Ita bahagia sekali. Masih ada orang yang mau tersenyum padanya ketika semua kelihatannya meninggalkannya dalam kesendirian dan lukanya.
“Iya,” jawab Ita pelan. “sudah biasa kurasa. Kamu kok baru pulang?”
“Ada lemburan. Mau bareng?”
Ita tak langsung menjawab tawaran itu. Ia memandang Thariq lekat. Laki-laki itu menawarkan persahabatan ketika semua teman-temannya meninggalkannya. Entah kenapa, Ita tak pernah memperhatikan laki-laki itu sebelumnya. Kemudian, ia tiba-tiba ada, menawarkan persahabatan.
“Diam berarti kau terima tawaranku,” kata laki-laki itu sambil memberikan helm kepada Ita. “Kau harus memakainya. Aku tak ingin polisi menilang kita.”
Ita menerima helm itu dan memakainya. Ia membonceng di sepeda motor Honda Thariq.
“Terimakasih,” kata Ita setelah ia duduk di belakang Thariq.
“Untuk apa?”
“Untuk boncengannya.”
Malam itu Ita bahagia sekali. Masih ada orang yang mau berteman dengannya.
Sementara itu di J Cafe. Teman-teman Ita sedang berkumpul semua. Tentu saja tanpa kehadiran Ita dan Thariq, yang lebih memilih menemani Ita. Thariq sebenarnya diundang juga di acara itu. Tapi, ia tak ingin datang. Ia lebih memilih menemani Ita karena menurutnya Ita adalah seorang wanita yang kuat. Walaupun ia tak terlalu mengenal Ita, entah mengapa melihat ketabahan wanita itu menghadapi kegagalan cintanya yang bertubi-tubi, membuatnya diam-diam mengaguminya.
Thariq tahu, Ita pernah ditinggalkan Abdul. Tapi, Ita melewati masa itu dengan ceria. Thariq juga tahu, Ita mencintai Widi, tapi Widi seperti halnya Abdul, memilih meninggalkan Ita dan menikah dengan anak kesayangan Bayu Tedjamukti, Aya Sofia. Kemudian ada Mufti, yang cintanya ditolak Ita dan di puncak keputusasaannya lebih memilih Diana sebagai calon istrinya. Semuanya pada saat yang bersamaan. Ita berhasil melewati masa sulit itu. Belum lagi, teman-teman sekantor yang lebih memilih mengacuhkan Ita, karena mereka bersimpati pada Mufti dan perjuangan cintanya. Jadi, di sinilah dia pada akhirnya. Menemani Ita dalam kesedihan dan kesendiriannya.
****
Kembali ke J Cafe.
“Ita benar-benar bodoh,” komentar Budi, laki-laki bagian pemasaran, rekan sekerja Mufti. Ia sangat bersimpati pada Mufti hingga ia membenci Ita begitu rupa. “Dicintai Mufti begitu rupa, lebih memilih mencintai Widi yang ternyata lebih mencintai kecantikan dan kekayaan Aya Sofia.
“Kau benar,” sambung Hanina, gadis cantik, sekretaris direktur Miracle Publishing. “Ia emangnya siapa, berani mencintai Widi. Dari segi sosial dan latar belakang keluarga, ia sangat jauh jika dibandingkan dengan Widi. Aku senang, pada akhirnya Widi memilih Aya Sofia. Gadis itu lebih cocok untuknya.
“Cinta tak mengenal latar belakang sosial dan keluarga,” sahut Arif yang sedari tadi diam saja. Arif benar-benar menyesali perbuatannya yang membuat Abdul meninggalkan Ita. Arif tahu benar, Abdul berjuang begitu rupa untuk melupakan cinta pertamanya, Ita Wirya dan mencintai istrinya sekarang, Farida. “Kalau aku jadi Widi, aku takkan meninggalkan Ita.”
“Maksudmu?” tanya Hanina dan dan Budi bersamaan.
“Benar-benar sulit melupakan orang yang kita cintai,” jawab Arif dengan mata menerawang, membayangkan Abdul dengan kegelisahannya setiap hari. “apalagi meninggalkan Ita. Ia gadis kuat. Orang tuanya miskin tapi ia keras kepala ingin mengubah nasib keluarganya. Ia kuliah dengan bekal tak seberapa. Pada akhirnya ia pontang-panting kesana kemari mencari tambahan biaya untuk kuliahnya. Tapi, prestasinya tak kalah dengan yang lainnya, walaupun ia tak menjadi yang terbaik seperti yang diharapkannya. Setidaknya, ia telah mempunyai jabatan mentereng sekarang. Dengan itu, ia membantu keluarganya dan mengubah nasib mereka hingga orang-orang tak lagi menghina keluarganya.”
Hanina, Budi dan teman-temannya terpana mendengar penjelasan Arif.
“Bukankah kamu membencinya?” tanya Hanina lagi.
“Dulunya iya. Aku sangat membencinya. Kemudian aku mendengar perjuangannya dari Abdul, kalian tahu ‘kan cinta pertama Ita selama ia kerja di sini. Sayangnya, Abdul menceritakannya semuanya setelah ia menikah dengan istrinya.”
“Maksudmu apa?” sekarang ganti Budi yang bertanya.
“Kalau ia menceritakan kisah Ita sebelum pernikahannya dengan Farida, aku akan membantunya mati-matian agar bisa bersatu dengan Ita,” Arif mengusap matanya. Entah mengapa Arif merasakan matanya pedas. “Dia gadis paling hebat yang pernah kukenal. Aya Sofia atau Farida tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Ita Wirya. Mereka bisa hebat di mata orang lain, lebih karena orang tuanya. Orang tua mereka punya segalanya hingga bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak dengan kepribadian yang sempurna. Ita tak pernah mendapatkan pendidikan itu. Di desanya, orang-orang menghina keluarganya. Ita yang merasa terhina tak pernah merendahkan dirinya. Ia membusungkan dadanya di depan orang-orang itu.” Arif menghentikan ceritanya. Ia menyeruput minumannya.
“Bagaimana kau tahu itu?” Hanina balik bertanya sambil matanya tak lepas dari Arif, yang kelihatan begitu merana.
“Bukankah tadi sudah kukatakan, Abdul menceritakan semua tentang Ita kepadaku!” jawab Arif keras. “yang perlu kalian tahu, hentikan sikap kalian. Jangan mengucilkannya. Ita tak berhak lagi mendapat perlakuan buruk. Itu hanya akan membuatnya semakin keras kepala dalam menjalani hidupnya. Ia akan dengan keras hati menghadapi orang-orang seperti kalian.”
“Kau tak jatuh cinta padanya ‘kan?” sekarang Budi balik bertanya.
“Kalau iya, apa Ita mau menerimaku, laki-laki yang membuat kekasihnya meninggalkannya dan menikah dengan gadis lain,” jawab Arif sambil berdiri. Ia meninggalkan kerumunan teman-temannya yang terbengong-bengong. Ia keluar dari J Cafe menerabas malam yang kian sepi dengan rintik hujannya. Teman-temannya hanya bisa memandangnya tak berdaya. Mereka tak berusaha mencegah Arif agar berhenti sejenak sekedar menunggu hujan tak lagi menyapa. Berhenti.Tak berdaya.
Sekarang mereka tahu siapa Ita Wirya sebenarnya. Penyesalan menyusup ke hati mereka yang mengacuhkan Ita. Budi dan Hanina berpandang-pandangan tak berdaya. “Tak pernah kuduga, jalan hidup Ita begitu kerasnya,” bisiknya di telinga Hanina. Hanina mengangguk pelan meresponnya.
****
Sementara itu di rumah kos Ita.
“Kau orang ketiga yang pernah datang ke kosku,” Ita berkata memulai pembicaraan. Thariq agak cemburu mendengarnya. Ia tahu siapa orang pertama dan orang keduanya. Tapi, para pesaingnya telah menikah semuanya. Jadi, takkan mungkin bagi mereka untuk kembali ke Ita.
“Terimakasih, mau mengundangku ke sini,” kata Thariq akhirnya.
Ita tersenyum. Senyum paling manis yang pernah dilihat Thariq. “Kau tak mengenalku, mengapa tadi kau menghentikan motormu dan menawarkan tumpangan?”
“Siapa bilang aku tak mengenalmu. Aku mengenalmu meski kau tak mengenalku. Aku cukup tahu dirimu meski kau tak punya waktu untuk sekedar melirikku. Aku tahu kamu, banyak sekali, takkan pernah kau sangka aku bisa tahu detil tentang dirimu,” jawab Thariq dengan mulut kelu. Memang benar, jawaban itu tak pernah keluar dari mulut Thariq. Jawaban itu tersimpan rapat di hati Thariq. Tak sanggup terucapkan.
“Aku tanya padamu, mengapa kau tak menjawabku?” tanya Ita lagi. Hal ini benar-benar mengembalikan Thariq ke dunianya.
“Karena aku ingin mengenalmu, maka aku menawarkan tumpangan itu,” jawab Thariq. Selesai berkata seperti itu, Thariq merasa lega sekali. Beban yang selama ini disandangnya seakan menguap cepat.
Ita tersenyum. Senyum penuh harapan akan adanya cinta yang kembali datang dan mungkin akan mencapai sempurnya, dengan bersatunya cinta itu.
Malam merambat pelan. Thariq berpamitan bersamaan dengan hujan yang menghilang. Bintang-bintang mulai menampakkan dirinya. Cahayanya berkerlap-kerlip di langit sana. Awan hitam yang tadi menutupinya telah menghilang entah kemana. Bulan yang lama tak kelihatan, ikut-ikutan juga memperlihatkan dirinya. Dengan senang hati, menyapa siapa saja, yang memandangnya. Angin yang biasanya datang memagut malam, juga tak diketahui kemana hilangnya. Udara yang biasanya dingin menusuk kulit, menguap tak tahu rimbanya.
Ita meringkuk dalam tidur malamnya. Sesungging senyum terukir di bibirnya.
Kisah Cinta Ita Wirya III
Bagi Ita, secara fisik, Thariq memang bukan laki-laki yang tergolong good looking man. Tapi, Thariq mempunyai hidung yang mancung dengan gigi putih luar biasa. Tak kalah dengan bintang iklan Pepsodent atau close up. Ita senang saja membayangkan laki-laki itu sedang tersenyum. Segala kekurangan di wajahnya hilang bersama senyumannya.
Entah mengapa pula, akhir-akhir ini Ita sering melamunkan Thariq. Padahal setelah malam ketika Thariq mengantarnya pulang, Thariq tak pernah lagi menemuinya. Ia hilang entah kemana.
“Kau orang yang paling baik padaku ketika aku sedang terpuruk,” batin Ita ketika ia merasa begitu merindukan Thariq. Merindukan hidungnya. Merindukan senyumnya. Tapi, untuk menemuinya atau menanyakan kabar tentang Thariq kepada teman-teman sekantornya, Ita merasa jengah walaupun teman-temannya sudah mulai kembali ramah padanya. Entah apa yang terjadi pada mereka. Mereka tiba-tiba kembali ramah dan banyak tersenyum ketika bertemu Ita. Ita menyambutnya dengan senyum juga. Senyum yang tidak ingin dipaksakannya. Senyum tulus yang coba diberikannya.
****
Sementara itu, Arif yang melihat perubahan sikap teman-temannya terhadap Ita, sangat senang sekali. Ia tersenyum. Senyum ramah yang tidak biasanya. Di depannya ada sebuah buku. Buku yang diambilnya dari meja Ita Wirya beberapa waktu lalu. Tak ada yang melihatnya mengambil buku itu. Dari buku diari inilah Arif tahu siapa Ita sebenarnya. Tiba-tiba saja dia jatuh simpati pada atasannya yang sering membentak-bentaknya. Penyesalan juga tiba-tiba menyeruak memenuhi dadanya. “Kalau aku tahu hal ini jauh sebelumnya, aku pasti akan mendukung Abdul untuk melamarnya,” kata Arif dalam hati.
Setelah membaca buku diari itu, Arif jatuh pada satu kesimpulan bahwa keangkuhan dan tinggi hati Ita Wirya tak lebih dari mekanisme pertahanan diri Ita pada lingkungan sekitarnya. Dengan bersikap seperti itu, jarang ada orang yang berani mendekatinya, hasilnya semakin sedikit orang pula yang berani menyentuhnya.
****
Seminggu kemudian harapan Ita terkabul. Thariq mendatanginya ketika jam istirahat dan mengajaknya keluar untuk makan siang.
“Kemana saja kau seminggu ini?” tanya Ita setelah ia duduk di depan Thariq di restoran fast food yang ada di Java Mall. Ayam, nasi dan cola terhidang di depan mereka.
“Kau merindukanku, ya?” goda Thariq sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“May,” jawab Ita ingat gurauan Abdul ketika Widi bertanya kapan Arif akan menikah. Entah mengapa, ingat Abdul dan Widi, tak lagi membuatnya sakit hati. Sakit hati yang tak karuan rasanya telah menghilang entah kemana, digantikan senyum Thariq yang sekarang duduk di depannya.
“Maksudmu apa?” tanya Thariq tak mengerti.
“May be yes, may be no,” jawab Ita sambil tersenyum manis. Thariq terpana melihat senyuman itu. Dadanya berdenyut keras padahal ia sudah tidak muda lagi. Sudah 27 tahun. Menurut Thariq, orang-orang seusia itu harusnya tak lagi merasakan denyut keras di dada ketika sedang jatuh cinta. Nyatanya ia merasakan denyut itu. Sekarang ia sedang berusaha keras menata dadanya agar tidak berdenyut semakin keras.
“Hei, jangan terpana melihat senyumku,” Ita balik menggoda Thariq. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Kemana saja kau selama ini?”
“Baru juga seminggu,” jawab Thariq setelah dadanya tertata dan terasa lebih tenang. “kau bilang selama ini?” Ita mendelik mendengarnya. Thariq buru-buru menambahkan “aku ke Jakarta. Memperbaiki sistem komputer di perusahaan Bayu Tedjamukti cabang sana.”
Ita tersentak kaget mendengar jawaban itu. Entah mengapa nama Bayu Tedjamukti membuat hatinya masih merasakan sakit. Kadang-kadang ia merasa, laki-laki inilah yang menghancurkan kehidupan cintanya yang kedua. “Bukannya kau programmer Miracle Publishing?”
“Sekarang tidak lagi,” jawab Thariq cepat. “Aku programmer lintas jalur.”
“Maksudmu?”
“Seminggu lalu aku ke Jakarta, seminggu ini aku di Semarang, seminggu ke depannya bisa jadi aku ke Surabaya memperbaiki sistem komputer perusahaan bos kita tersayang.”
“Apa di setiap cabang tak punya programmer sendiri?”
“Harusnya begitu,” jawab Thariq, menghentikan makannya. Menatap Ita. Ita balik menatap Thariq. Mata mereka bertatapan. Jantung Ita berdetak kencang. “Sialan! Cinta itu datang lagi,” rutuknya dalam hati. Buru-buru Ita menundukkan kepalanya. Thariq tersenyum samar. “Sayangnya, bos kita mau ekspansi ke luar Jawa. Semua pengeluaran harus ditekan. Jadilah, aku korban keserakahannya.”
Waktu terus berjalan. Jarum jam menunjukkan Pk. 13.00. Thariq dan Ita buru-buru meninggalkan Java Mall. Mereka kembali ke kantor.
****
Cinta Ita pada Thariq semakin besar. Bahkan, Ita merasakan bahwa cinta yang dimilikinya untuk Thariq adalah yang paling besar jika dibandingkan cintanya untuk Abdul atau Widi. Ita menduga hal itu terjadi karena Thariq datang pada saat yang tepat. Ketika semua orang mengacuhkannya, Thariq memberinya senyuman dan menawarkan persahabatan.
Ita menyimpan perasaannya rapat. Tak seorang pun mengetahuinya. Tapi, ia tak tahan juga. Ia tak tahan menyimpan rahasia itu sendiri. Ia akan mengungkapkan cintanya. Kepada siapa? Langsung kepada Thariq adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Lalu kepada siapa Ita minta tolong? Ia tak punya teman dekat.
Ita masih termenung di ruang kerjanya. Ia masih menimbang-nimbang siapa yang akan dimintai tolong untuk menyampaikan perasaannya kepada Thariq. Pintu diketuk. Ita mempersilahkan masuk. Arif masuk. Senyumnya terkembang. Ita merasa aneh melihat Arif tersenyum. Biasanya Arif kelihatan tegang kalau bertemu dengannya. Baru kali ini, ia melihat Arif tersenyum. Ita membalas senyum itu.
“Ada yang bisa kubantu?” tanya Ita setelah Arif duduk di depannya.
Arif menggeleng. “Harusnya aku yang bertanya, apakah ada yang bisa kubantu?”
Ita membelalak kaget. “Apa maksudmu?”
“Aku perhatikan, akhir-akhir ini, kau sering melamun,” jawab Arif langsung saja. “Dimanapun aku melihatmu, pandangan matamu terlihat kosong. Tak ada apapun di sana. Pikiranmu mengembara entah kemana?”
Ita tak menjawab pertanyaan itu. Ia merasa malu sekali karena perbuatan konyolnya itu. Ita mengakui, kalau akhir-akhir ini, ia sering melamun. Dimanapun berada, ia selalu memikirkan Thariq yang dalam satu minggu ini ke Surabaya.
“Apakah karena Thariq?” tanya Arif lagi.
Ita menatap Arif lekat. Ada sedikit keterkejutan di hatinya. “Mengapa kau tiba-tiba begitu perhatian padaku?”
Arif tak menjawab. Bukan karena tak ada jawaban, tapi ia tak sanggup mengungkapkan.
“Bukan karena Abdul ‘kan, kau perhatian padaku?”
Arif menggeleng pelan. “Kalau kau butuh bantuan, aku siap membantumu. Kalau kau ingin aku mengungkapkan perasaanmu pada Thariq, aku akan dengan senang hati melakukannya.”
“Maksudmu?” Ita mulai marah. Aliran panas menjalari wajah dan tangannya. Tangannya bahkan terlihat gemetar.
“Ita, aku kenal kamu,” jawab Arif tenang. “lebih dari yang kamu sadari. Kau takkan pernah mengira bahwa aku tahu apa pandanganmu tentang cinta. Cinta untuk diungkapkan kalau perlu diperjuangkan kalau memang ia layak diperjuangkan.”
“Kamu! Keluar dari sini sekarang juga!” bentak Ita tak terkendali. Arif berdiri dari kursinya. Ia mundur sedikit ke belakang. Ia tak menyangka akan begini jadinya. “Kau rupanya yang mengambil buku diariku?” tuduh Ita. Suaranya semakin keras. Wajahnya semakin memerah. Suaranya parau. Air mata hampir keluar dari matanya.
Arif tak mencoba menjelaskan duduk permasalahannya. Ia beringsut pelan meninggalkan ruangan itu. Di luar ruangan, Thariq berdiri di sana. Matanya menuntut jawaban dari Arif.
“Sudah pulang rupanya?” Arif bertanya dingin, sambil terus berjalan melewati Thariq. Thariq menyusulnya dan menggelendeng tangan Arif, membawanya keluar dari kantor. Orang-orang yang melihatnya tak bisa berbuat apa-apa. Pandangan mata Thariq mengancam mereka dengan ucapan “Jangan ikut campur!”
“Tidak cukupkah kau menyakitinya?” Thariq bertanya sambil melepaskan tangannya dari tangan Arif setelah mereka sampai di tempat parkir yang tampak lengang. Arif diam tak menjawab. Ia benar-benar shock atas kejadian tadi. Ia hanya mencoba membantu Ita. Tapi, Ita marah luar biasa. (Tapi, siapapun orangnya pasti akan marah kalau buku diarinya yang berisi curahan rahasianya dibaca oleh seseorang.) “Tidak cukupkah kau buat Abdul meninggalkannya?”
“Aku hanya mencoba membantunya,” jelas Arif terbata-bata.
“Dengan membaca diarinya?”
Arif menggeleng.
“Lalu?”
“Aku tahu ia mencintaimu,” jelas Arif sambil memandang Thariq. Thariq terpana mendengarnya. Tak percaya. “cinta yang tumbuh semakin besar hingga ia tak sanggup menahan cinta itu.”
“Bagaimana kau tahu kalau ….kau tahu….kalau….”
“Kalau ia mencintaimu?” sambar Arif.
Thariq mengangguk.
“Matanya berkata banyak. Senyumnya bercerita banyak. Tatapan matanya ketika makan siang denganmu (“Maaf, aku mengikuti kalian,” tambah Arif. Thariq mengabaikan fakta ini.) bercahaya, seperti tak ada beban,” jelas Arif sambil duduk di bangku yang ada di tempat parkir. Thariq mengikutinya.
“Kalau hanya seperti itu, kenapa Ita semarah tadi?”
Arif tak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia menghela nafas panjang. Mengulur waktu. “Kau benar, aku membaca diarinya,” jawab Arif akhirnya. “Aku mengambilnya ketika diari itu tergeletak begitu saja di mejanya. Saat itu, Widi baru saja menikah dengan Aya dan Ita cuti dari kantor.”
Thariq tak berkomentar apa-apa. Mereka terdiam dalam kesunyian yang lama. Tenggelam dalam pikiran masing-masing yang tak terjangkau.
****
Hari-hari berlalu setelah peristiwa marahnya Ita pada Arif. Thariq tak lagi pernah menemui Ita. Ita menduga Thariq tahu kalau ia marah-marah pada Arif. Karena itu, Thariq tak lagi pernah menemuinya. Ita benar-benar kelimpungan. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Setiap hari, selama di rumah ia menangis dan menangis. Di kantor ia adalah Ita yang biasa, berusaha ceria meski beban berat ada di pundaknya.
“Kau org yg plg baik pdq, saat aq trpuruk bbrp wkt ll. Jgn, kau ubah itu, pls,” tulis Ita di HP-nya. Ia kirimkan SMS itu ke Thariq.
Thariq sedang membaca SMS dari Ita. Ia tersenyum samar. Senyum yang hanya ia sunggingkan ketika Ita ada di sampingnya. Sekarang, meski Ita tak ada di sampingnya, Thariq tetap merasa gembira. Isi SMS itu berarti banyak baginya.
Malam harinya, seperti biasa Ita menangis menahan kerinduannya pada Thariq yang semakin membuncah. Ita ingin nekad mencari Thariq dan bertemu dengannya, tapi Ita tak pernah sanggup melakukannya.
Kamar pintu Ita diketuk.
“Ada tamu, Ta,” kata suara di balik pintu, kakak kos Ita yang bekerja di Gramedia.
“Makasih, ya, Mbak,” balasnya. Ita bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan ke ruang tamu sambil bertanya-tanya siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Ita berjalan perlahan menuju ruang tamu. Senyum samar tersungging di bibir Ita setelah melihat siapa yang datang.
“Hai,” sapa Ita.
“Hai,” balas Thariq.
“Lama tak jumpa. Kau makin gemuk saja,” komentar Ita sambil duduk di samping Thariq.
“Baru juga satu bulan tak berjumpa, masak lama?” balas Thariq. “Dan kau makin kurus saja,” komentar Thariq sambil menatap Ita lekat. Yang ditatap menundukkan kepalanya, tak berani membalas tatapan itu. “Terima kasih.”
Ita mendongak menatap Thariq. Tak mengerti. “Untuk apa?”
“Untuk semuanya,” jawab Thariq tak melepaskan tatapan matanya. Takut kalau makhluk di depannya menghilang begitu saja. “terutama sekali untuk cintamu.”
Wajah Ita bersemu merah mendengarnya. Urat tubuhnya menegang semua. Tak tahu harus berkomentar apa. Hatinya malu luar biasa. “Arif menceritakan semuanya, ya?” pada akhirnya itulah kata yang keluar dari bibir Ita.
Thariq mengangguk samar. Tak ingin membuat wanita di depannya semakin malu, ia memalingkan mukanya.
Ita, berbeda dengan Thariq, telah jatuh pada kesimpulan semuanya harus dihadapi. Malu pun tak ada gunanya. Toh, Thariq sudah tahu semuanya. Ita memilih menghadapi Thariq. Ia tak melepaskan pandangannya sedikitpun juga dari wajah Thariq. “Aku sudah siap?”
“Siap?” potong thariq tak mengerti. “Maksudmu?”
“Aku sudah siap kalau kau,” Ita tak melanjutkan perkataannya. Ia masih menimbang sebentar. “Layakkah laki-laki di depannya diperjuangkan mati-matian?” Ita melihat senyum samar di bibir Thariq. “kalau kau pergi dariku.” Ita merasa lega setelah melepaskan kata-kata itu. Ia menunggu. Waktu berjalan begitu lambat. Thariq tak juga bereaksi. Ia mematung. Diam dalam kebisuannya. Ita terus menunggu. Tak sabar. Ia berdiri. Menyerah.
“Tunggu!” pinta Thariq. Kata-katanya tegas. Ita kembali ke tempatnya. Ia menatap Thariq lekat. “Aku yang tak sanggup,” Thariq tak melanjutkan ucapannya. Ia balas memandang Ita. Ita tersenyum samar. Matanya menyiratkan ketabahan yang luar biasa. “Ia benar-benar telah siap kehilangan cintanya,” pikir Thariq. Thariq menghela nafas. Berpikir selama beberapa menit. (Tapi, dalam hitungan Ita sudah beberapa jam). “aku yang tak sanggup kalau kau pergi dariku.” Akhirnya, kata-kata yang menggantung tadi terlanjutkan juga. Thariq menghela nafas. Bukan untuk memperpanjang waktu tapi nafas lega luar biasa. Ita merasakan matanya memanas. Sudah sering ia menangis. Tapi, tak pernah di hadapan seseorang apalagi di hadapan laki-laki yang mencintainya. Akhirnya, air matanya tak terbendung juga. Air mata pertama Ita dihadapan laki-laki yang dicintainya.
Thariq kaget. Tak tahu harus berbuat apa untuk menghiburnya. “Harusnya dia bahagia ‘kan?” pikir Thariq. “Aku ‘kan tidak meninggalkannya.”
“Kamu bisa menangis, Ta?” itulah kata-kata yang terlontar dari bibir Thariq setelah sekian lama terdiam. Pertanyaan yang aneh. Sudah sewajarnya ‘kan kalau ia mencoba menghibur wanita yang sedang menangis?
Tapi, ini? Aneh sekali! Ita hanya menggeleng mendengar pertanyaan itu. “Tak tahukah kau, kalau aku juga wanita biasa?”
Thariq tersenyum. Ita membalas senyumnya. Senyum yang akan selalu merekah dari bibirnya. Di kejauhan sana, pelangi keluar setelah hujan datang. Tak terlihat. Malam telah menutupi ketujuh warnanya yang indah mempesona.***
Filed under: Novel