The Story of Me

BAB I

 

N A N A

           

Nana adalah gadis berusia 17 tahun. Ia masih duduk di bangku SMA. Anaknya pintar, jelita (maksudnya sih wajah dengan jerawat lima juta), dan miskin sekali (maksudnya orang tuanya). Yang paling buruk adalah ia sombong. Runyam ‘kan. Miskin tapi sombong. Emang ada? Jawabnya adalah absolutely yes. Nyatanya memang benar kok. Miskin sih miskin, tapi itu bukan halangan bagi Nana untuk sekolah di sekolah paling favorit di Semarang. Semuanya, kalian tahu karena apa? Tentu saja, karena sekolah favorit itu mengendus bakat Nana di bidang Matematika, Fisika dan Kimia. Maka dengan senang hati, mereka memberi Nana izin pada Nana untuk masuk ke sekolah itu tanpa dipungut biaya sepeser pun.

 Selain itu, Nana juga bukan gadis yang pelit. Ia senang-senang saja, PR-nya dicontek banyak orang. Ia juga dengan senang hati membantu temannya yang malamnya tidak belajar tapi paginya harus ulangan. Tapi, ya ada syaratnya. “Emang ada yang gratis di dunia ini?” begitu jawabnya kalau ditanya teman-temannya. Ia akan dengan senang hati menerima bayaran. Yang pasti ia menolak dengan tegas kalau bayarannya berupa makanan. Kalau uang, bola matanya yang hitam akan berubah menjadi hijau seketika. (Habis ia jarang pegang uang.) ” Uang yang kudapatkan untuk biaya kuliahku,” jawabnya ketika Iqbal, ketua kelasnya, yang menurut Nana, payah benar otaknya, bertanya untuk apa Nana melakukan hal itu. Iqbal tentu saja tak percaya. “Kamu ‘kan pintar. Aku yakin banyak universitas yang akan menerimamu dalam program beasiswa mereka. Jadi, tak seharusnya kau memperjualbelikan ilmu pengetahuan.”

“Aku ‘kan juga miskin,” balas Nana pendek. Iqbal diam seribu bahasa tak tahu harus menjawab apa. “Kamu sih enak. Orang tuamu memberimu uang saku yang cukup. Aku? Aku harus cari sendiri uang sakuku.” Iqbal semakin mengkerut mendengarnya.

 Sesudah itu, Iqbal tak pernah menyinggung-nyinggung tentang memperjualbelikan ilmu pengetahuan pada gadis yang tak punya apa-apa untuk dijual kecuali otaknya yang pintar.

Meski pintar, kepemimpinannya payah benar. Pernah nih ia disuruh menjadi pemimpin lomba senam antar kelas. Nana jelas saja menolaknya. Ia benar-benar tidak bisa olahraga yang satu ini. Sayangnya, teman-temannya tak percaya padanya. “Basket aja kamu pintar, masak senam saja tidak bisa,” seru Iqbal sang ketua kelas. Nana tetap ngotot kalau ia tidak hafal gerakannya. “Ok! Aku emang pintar basket, tapi senam,” Nana berkata sambil menggerakkan jari tangannya membentuk huruf O beralasan. “nol besar.” Sayangnya, Iqbal keras kepala sekali. Ia tetap memilih Nana.

Hari H tiba. Nana dengan pede maju ke depan duluan karena seperti yang kalian tahu, pimpinannya. Teman-teman satu timnya mengikutinya di belakang. Musik sudah terdengar. Anak-anak sudah mulai mengerakan tubuh, badan dan tangannya. Nana dengan pede menengok ke belakang dan meniru gerakan teman-temannya. Penonton tertawa melihatnya. Iqbal melihat itu, yang dilakukannya kemudian adalah merutuk dirinya sendiri sekarang. “Sialan!” rutuk Iqbal. “Dia benar-benar tak hafal gerakan senam.” Alhasil kelas Nana kalah dalam lomba senam tersebut.

Iqbal marah-marah pada Nana. Nana tak kalah marahnya pada Iqbal.

“Tak bertanggung jawab!”

“Aku ‘kan sudah bilang aku tak hafal gerakan senam. Kau tetap paksa aku.”

“Kalau kau belum hafal, kau ‘kan bisa belajar.”

“Tak ada waktu!”

“Kau?”

“Emangnya kenapa? Aku tak ada waktu buat mempelajari hal-hal konyol seperti itu. Lebih baik waktuku kugunakan untuk mencari uang.”

Iqbal tak bisa berkata apa-apa. Teman-teman mereka telah melerai pertengkaran yang semakin seru. Iqbal didorong Bobbi ke belakang. Lila dan Rina mengajak Nana ke kantin.

Keesokan paginya Nana dan Iqbal sudah berbaikan.

“Pinjam PR-mu, Na,” rengek Iqbal. Nana mencibir. Iqbal mengeluarkan uangnya, uang kertas berwarna biru: Rp 50.000,00. Mata Nana melebar.

“Ambil sendiri di dalam.”  Nana merebut uang yang ada di tangan Iqbal.

“Dasar MD!”

Nana melotot.

“Mata duitan.”

Nana tak peduli. Ia senang sekali.

Itulah Nana. Miskin tapi pede, keras hati dan agak sombong.

BAB II

I Q B A L

Siapa sih Iqbal itu? Dia nih teman sekelas Nana sejak kelas I SMA dulu. Anaknya sebenarnya waktu SMP pendiam dan pintar habis. Sejak kenal dengan Nana, ia jadi ngocol habis dan tiba-tiba prestasi akademiknya menurun tajam seumpama bis tanpa rem meluncur di jalan yang menurun. Atau seumpama penerjun payung, payungnya tak mau mengembang, meluncur ke bumi dengan deras. Tau kenapa? Semuanya dilakukannya karena kasihan sama Nana. Maksudnya apa sih kok pake kasihan pada Nana segala? Seperti yang kalian baca di atas, Nana masuk ke sekolah ini ‘kan karena program beasiswa. Takutnya Iqbal, kalau Nana sampai kalah darinya, Nana bisa dikeluarkan.. Iqbal mana mau Nana dikeluarkan dari sekolah megah dan mewah nan mahal ini. Iqbal gak jatuh cinta pada Nana ‘kan? Sabar, ya. Jawabannya ada di kalimat selanjutnya di bab ini juga.

Sebenarnya  Iqbal itu anaknya pintar sekali. Ia pernah ikut olimpiade Matematika bahkan sampai di India pada waktu Sekolah Dasar dulu. Kalau Cuma PR, ia akan dengan mudah mengerjakan PR-PR yang diberikan gurunya. Lagian guru privatnya ‘kan berjibun jumlahnya. Kalau ia tidak bisa mengerjakan salah satu PR-nya, ia tinggal telepon mereka. Beres. Namun, karena ingin melihat senyum Nana, Iqbal pura-pura tak mengerjakan PR-nya. Kemudian, ia pinjam PR dari Nana. Alhasil Nana gembira sekali karena mendapatkan uang. Ia pun tertawa lebar. Iqbal tersenyum dikulum melihatnya.

Kebalikan dari Nana, Iqbal adalah anak orang kaya. Ayahnya walikota Semarang. Semua temannya mengetahui hal itu. Kecuali, tentu saja, Nana. Yang Nana tahu, Iqbal anak orang kaya. Kalau sekolah naik mobil mewah. Pulangnya dijemput dengan mobil yang berbeda. Mau kayanya darimana, Nana tak mau tahu. Selain itu, Nana merasa, Iqbal adalah temannya paling baik sedunia. Karena apa coba? Karena Iqbal baik sekali pada Nana. Selalu menolong dan mendukung Nana. Mereka pasangan yang serasi dalam hal ….. ngerjain teman-temannya. Untuk ngerjain guru? Nana tak berani sama sekali. “Anak program beasiswa gitu lho,” alasannya kepada Iqbal ketika Iqbal mengajaknya ngerjain guru Kimianya yang killer habis. “harus jaga imej. Biar dapat beasiswa terus.” Jadinya, gagal deh Iqbal ngerjain guru Kimianya.

Suatu ketika karena penasaran tentang alasan Nana menerima beasiswa di sekolah mewah ini, Iqbal memberanikan diri bertanya,”Na, kamu ‘kan miskin, tapi kenapa kamu kok kamu berani menerima beasiswa di sekolah ini?”

Nana terdiam agak lama sebelum menjawab pelan. Dahinya berkerut. Walaupun ia miskin, tak pernah ada yang bilang kalau ia miskin langsung di depan hidungnya. Seringnya, malah ia yang bilang kalau ia tuh miskin. Jadi, ia kaget juga mendapat pertanyaan yang tak disangka seperti itu.

Iqbal manatap Nana. Cemas sekali.  “Maafkan aku,” ucapnya pelan.

“Untuk apa?” Nana ganti bertanya tak mengerti.

“Untuk pertanyaanku.”

“Sudahlah,” jawab Nana pendek. “Aku sudah siap menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku hanya berpendapat, sekolah adalah salah satu jalan untuk menghancurkan kemiskinan. Kebetulan SMA ini aku mendapatkan kesempatan yang bagus untuk bersekolah di sekolah yang bagus juga. Harapanku, aku akan menjadi orang yang berkualitas dengan bersekolah di sini. Dengan menjadi orang yang berkualitas, aku bisa mendapat pekerjaan yang bagus dengan gaji yang bagus juga.” Nana berhenti sebentar. Ia menatap Iqbal. “Dengan begitu, satu kemiskinan teratasi. Satu beban pemerintah sudah hilang.”

“Maksudmu?”

“Orang-orang miskin seperti kami ‘kan beban bagi pemerintah. Tapi, pemerintah belum bergerak cepat mengatasinya. Mereka sibuk sendiri dengan korupsinya hingga melupakan orang terpinggirkan seperti kami,” mata Nana menerawang. “Tanggung jawab mereka atas orang-orang seperti kami akan berkurang karena kami berhasil menaikkan taraf kehidupan kami tanpa campur tangan mereka.” Nana menghela nafas panjang. “Pertanggungjawaban mereka selama memimpin di dunia kepada Hisab Allah di akhirat pun berkurang juga.”

Iqbal menatap Nana berkaca-kaca dan dengan perasaan kagum luar biasa. Sejak itu, cinta tumbuh di hati Iqbal untuk Nana. Cinta terpendam yang enggan ia sampaikan karena hanya akan merusak konsentrasi Nana untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan keluarganya.

“Suatu ketika, entah itu kapan, aku pasti akan menyampaikan perasaan ini,” Iqbal berjanji pada dirinya sendiri.

Sekarang kalian tahu ‘kan? Bagaimana dalamnya perasaan Iqbal ke Nana. Pengorbanannya? Jangan tanyakan itu padanya. Bukankah sudah kuceritakan salah satu pengorbanan Iqbal demi cinta dan rasa kasihannya pada Nana ‘kan?

 

BAB III

PERTEMUAN PERTAMA

Bagaimana sih awal persahabatan Nana dan Iqbal?

Ceritanya, hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Iqbal bangun kesiangan karena semalaman nonton bola Liverpool vs Chelsea. The Reds adalah klub favorit Iqbal. Sedangkan The Blues ato Chelsea adalah klub yang dijuluki Iqbal sebagai klub serakah. Klub yang hanya menghambur-hamburkan uangnya untuk mengumpulkan para pemain di dunia tanpa tahu mereka mau dijadikan apa. Tak ada keinginan dalam diri klub itu untuk menggondok bintang baru yang berasal dari akademi yuniornya. Benar-benar klub menyebalkan.

Hanya saja karena klub itu pula, Iqbal terlambat bangun yang berakibat ia terlambat masuk ke sekolah. Sesampai di sekolah, pintu gerbang sudah ditutup. Upacara sudah dimulai. Iqbal turun dari mobil yang mengantarnya. Ia menatap sedih ke gerbang yang sudah terkunci.

“Pasti nonton The Reds sama The Blues!” suara seorang gadis mengagetkan Iqbal.

Iqbal menoleh ke suara itu. “Tahu darimana?”

“Matamu,” jawab gadis itu singkat. “merah kurang tidur. By the way, The Reds hebat ya. Berjuang terus sampai titik darah penghabisan.” Gadis itu menghentikan celotehannya. Iqbal masih terpana di tempatnya berdiri. Biasanya ‘kan cewek suka bola karena pemainnya yang cakep sebagai bukti klub dimana David Beckham ato Christiano Ronaldo merumput pasti akan banyak penggemar ceweknya. Kedua pemain itu ‘kan sexi habis tampangnya. Tapi, ini lain sekali. “Aku suka The Reds. Awalnya karena perjuangan mereka mengalahkan AC Milan dalam final Liga Champion 2005. Sudah ketinggalan tiga gol, mereka bisa mengejarnya bahkan membalikkan keadaan dan menjadi kampium Liga Champion 2005. “

Iqbal semakin tertarik pada gadis itu.

“Aku Iqbal,” katanya memperkenalkan diri. Tangannya terulur. Gadis itu tak membalas uluran tangan Iqbal.

“Nana,” jawab gadis itu pendek.

Iqbal mengambil tangannya. “Aku juga pecinta The Reds. Kau terlambat karena nonton juga, ya?” tanya Iqbal lebih lanjut.

Nana menggeleng. “Aku jual molen dulu di pasar.”

Iqbal membekap mulutnya. Tak percaya. “Tapi, bagaimana kau tahu kalau tadi malam adalah jadwal The Reds lawan The Blues.”

“Baca,” jawab Nana pendek.

Gerbang terbuka. Upacara sudah selesai. Nana dan Iqbal buru-buru masuk ke sekolah. Mereka berjalan beriringan. Di jalan yang sama. Menuju satu tujuan yang sama.

“Kita sekelas,” kata Iqbal senang. Nana hanya tersenyum.

Hari pertama sudah ketahuan siapa anak paling pintar di kelas tersebut. Nana mengacungkan jarinya di setiap pelajaran. Tentu saja, pada saat gurunya memberikan pertanyaan.

“Kau pintar sekali,” puji Iqbal ketika istirahat datang.

“Pastilah,” jawab Nana tanpa bermaksud menyombongkan diri. “Kalo tidak pintar, emang aku bisa belajar di sekolah semewah dan semegah ini?”

Iqbal tak menanggapi pertanyaan yang tak perlu dijawab tersebut. Ia sedang menyesali mulutnya yang memberikan pujian pada gadis di depannya. “Kalo aku mau, aku bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Hanya saja aku tak ingin menonjolkan diri,” kata Iqbal dalam hati. “Tidak ke kantin?” Iqbal bertanya mengalihkan topik pembicaraan.

Nana menggeleng.

Iqbal bisa menduga apa alasannya. “Aku yang traktir.”

Mata Nana melebar. Ia mengangguk senang.

Di kantin.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?” seorang gadis mendekat dan duduk di samping Nana.

Tanpa menunggu persetujuan, gadis cantik bertubuh sangat wangi duduk di samping Nana. (Iqbal dan Nana bisa mencium keharuman tubuhnya) “Aku tahu siapa kamu,” kata gadis itu, matanya menatap ke arah Nana. “Kamu siswa program beasiswa ‘kan? Karena siswa seperti kamulah, kami, anak-anak dari kalangan mampu, harus membayar lebih.”

Iqbal tak senang mendengar perkataan itu. Perkataan itu bisa menohok orang sampai ke jantungnya dan langsung pingsan setelah mendengarnya.

Tapi Nana dengan lugas dan bangga menjawab “Begitulah. Maaf merepotkan.” Lanjutnya.

“Aku Lila,” gadis itu memperkenalkan diri tak mempedulikan kata-kata terakhir Nana. “teman sekelasmu yang tak sempat menonjolkan diri karena semua kesempatan sudah kau ambil.”

Nana menghentikan makannya. Ia menatap gadis yang bernama Lila lekat. Lila tak merasa gentar dipandang seperti itu.

“Dan kau?” Lila menatap ke arah Iqbal. “Aku juga tahu siapa dirimu.”

Iqbal berdiri, marah sekali. “Kurasa sudah waktunya kita kembali ke kelas, Na,” ajak Iqbal. Nana mengikuti perkataan Iqbal. Ia ikut-ikutan berdiri.

Setelah membayar makan mereka, Iqbal berjalan ke taman sekolah. Nana mengikutinya.

“Gadis itu perlu diberi pelajaran,” kata Nana cepat. Iqbal tak percaya mendengarnya. Lila, Iqbal yakin, bukan gadis biasa-biasa saja. Nana, Iqbal tahu pasti, gadis miskin yang bisa belajar di sekolah ini karena beasiswa, berani mengatakan hal seperti itu. “Aku akan cari cara untuk mengerjainya,” Nana berkata meyakinkan Iqbal. Iqbal tak percaya dengan kata-kata yang didengarnya barusan. “Kau ikut tidak?”Iqbal tak langsung menjawab. Nana tak sabar. “Baiklah akan kulakukan sendiri,” Nana berkata sambil berbalik meninggalkan Iqbal.

“Saatnya sudah tiba,” bisik hati Iqbal. “Menjadi anak manis cukup waktu SMP, sekarang saatnya mencari pengalaman menegangkan. Hidup biasa-biasa saja, bukan hidup namanya. Kau takkan pernah punya cerita yang bisa kau ceritakan pada anak cucumu kelak.” “Tunggu!” Iqbal akhirnya menghentikan langkah Nana.

Nana menoleh dan menghentikan langkahnya.

“Aku ikut denganmu,” katanya.

Nana tersenyum.

“Kamu tidak takut?”

“Takut?” Nana balas bertanya. “Kalo aku punya rasa takut, aku takkan pernah menerima tawaran beasiswa di sini. Sekolah yang hanya bisa dimasuki kalo ayahmu pejabat ato pengusaha sukses.”

“Apa rencanamu?” Iqbal bertanya mengalihkan perhatian.

“Kita lihat saja nanti,” Nana berkata sambil tersenyum nakal.

Iqbal merasakan sensasi yang aneh melihat senyuman itu.

Hari kedua sekolah.

Nana tidak terlambat ke sekolah seperti hari kemarin. Ia berjalan santai menuju sekolahnya. Di depan gerbang, ada Iqbal dengan gadis-gadis cantik yang mengelilinginya. Nana berjalan masuk tak mempedulikannya. Melihat Nana, Iqbal meninggalkan gadis-gadis yang mengelilinginya dan berlari mengejar Nana.

            “Mereka teman-temanku waktu SMP,” jelas Iqbal setelah berhasil menjejeri langkah Nana. Nana tak begitu mendengarkan penjelasan itu. Pikirannya asyik dengan rencananya ngerjain cewek centil tak tahu diri. Iqbal tak melanjutkan penjelasananya setelah yang diajak bicara tak memberikan respon sama sekali.

Sampai di depan kelas IA, kelas Nana dan Iqbal, seorang anak laki-laki dengan tubuh tambun, menghadang langkah Nana.

“PRnya sudah, Na?”

Sebentar saja, popularitas otak Nana sudah sampai ke penjuru sekolah. Dari mulut ke mulut, tentu saja.

Nana mengangguk. Tangannya masuk ke dalam tasnya dan mengambil buku bersampul bunga matahari. “Jangan lupa taruh uangnya, di dalam bukunya, ya.”

Iqbal terlongong.

“Kamu gak bisa berbuat seperti ini, Na!”

“Kenapa tidak?” jawab Nana pelan. “Dengan membuatkan PR kepada anak-anak seperti Bobbi, aku tak perlu bangun pagi-pagi hanya untuk berjualan molen. Kau tahu,” Nana menambahkan “itu hanya akan membuatku terlambat ke sekolah.”

Iqbal tak mau kalah,“Itu hanya membuatnya malas.

“Sebelumnya apa ia tidak malas?”

            Iqbal tak menjawab. Ia tidak yakin kalau Bobbi adalah anak yang mau bersusah-payah sedikit untuk belajar. Dilihat dari tampangnya saja, sangat jelas sekali. Ia hanya anak malas yang bisanya menghamburkan uang kedua orangtuanya.

“Kamu sudah siap?” Nana bertanya.

“Untuk apa?” Iqbal balik bertanya tak mengerti.

“Lila,” jawab Nana singkat.

“Kau sudah ada rencana?” Iqbal bertanya dengan mata berbinar-binar.

“Begitulah,” jawab Nana. “Kita lihat saja nanti.”

Istirahat pertama. Semua teman sekelas Nana pergi ke kantin. Nana masih asyik di tempatnya. Iqbal juga masih kasak-kusuk di kursinya. Nana tersenyum pada Iqbal. Iqbal membalas senyum Nana dan berjalan ke arahnya.

“Siap?”

Iqbal mengangguk. Nana mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kertas.

 

Buat Lila

Kutunggu kau di taman belakang sekolah Pk. 10.00. Di bangku di depan bunga Matahari.

Iqbal

 

Iqbal melotot membaca kalimat yang ada dalam kertas di genggaman Nana. “Apa maksudmu dengan kata-kata itu?”

Nana tersenyum manis. “Begini, Iqbal sayang,” jelasnya pelan. Hati Iqbal terlonjak girang, dipanggil sayang seperti itu. “Kemarin, Lila ‘kan makan bareng dengan kita?” Iqbal mengangguk membenarkan kata-kata itu.  “Aku tahu pasti, ia tak ingin mengenalku. Ia hanya ingin mendekatimu. Entah karena hartamu ato karena orangtuamu. Aku…”

“Apa maksudmu?” Iqbal memotong marah.

Nana menjawab cepat. Agak marah sebenarnya,“Aku gak yakin ia mendekatimu karena tampangmu, yang menurutku biasa-biasa saja.” Nana memegang wajah Iqbal. “jadi, ia mendekatimu pastilah karena hartamu ato karena orangtuamu.”

“Lalu, emangnya kenapa?”

Nana mulai tak sabar. Ia menjelaskan cepat apa yag direncanakannya. Surat itu nanti akan ditaruh Nana di meja Lila. Pk. 09.55 Iqbal keluar dari kelas. Izin ke kamar mandi bukan ke taman belakang. “Setelah itu, kau balik ke kelas. Gak usah nemuin cewek bego itu,” Nana mengakhiri penjelasannya.

“Kau yakin, Lila akan menemuiku?”

“Seratus persen,” jawab Nana tegas. Ia kemudian meletakkan kertas yang dipegangnya di atas meja Lila. “Sekarang kita ke taman belakang. Kita letakkan ini (Nana menunjukkan bungkusan dalam tangannya) di bangku yang kau sebutkan dalam surat.”

Nana melangkah meninggalkan Iqbal. Iqbal buru-buru mengikutinya.

“Apa sebenarnya isinya?”

Nana menunjukkan isi bungkusan yang dipegangnya.

“Hanya buku?”

Nana mendengus kesal.“Baca dulu judulnya!”

Cara Memikat Iqbal. Apa maksudnya?”

“Lihat daftar isinya!”

Iqbal membaca keras. “Bab Satu: Bagaimana cara berbicara yang sopan, Bab dua: Bagaimana cara menjadi cewek rendah hati, Bab tiga….”

“Cukup!” potong Nana.

Iqbal mengerti maksud Nana. Ia tersenyum.

Di tengah jalan, ada cowok yang menghentikan langkah Iqbal. Darius namanya. Teman SMP Iqbal. Ayahnya dokter gigi. Iqbal berhenti. “Bisikkan ke telingaku yang ingin kau bicarakan,” Iqbal berkata pelan. Darius membisikkan sesuatu di telinga Iqbal. Nana terus berjalan. Tak peduli. “Aku tak bisa,” jawab Iqbal. “Kapan-kapan aku akan ikut dengan kalian.” Iqbal berlalu meninggalkan Darius. Ia berlari mengejar Nana.

Taman belakang SMA  META SES, sangat indah. Bunga berwarna-warni sedang bermekaran sekarang. Kupu-kupunya beterbangan menghisap sarinya. Nana sedang duduk di bangku di depan bunga Matahari yang sedang mekar. Iqbal berada di belakangnya.

“Kita taruh di sini saja, ya?” Nana meletakkan barang yang dibawanya di atas bangku itu. Ada kertas di atas barang itu. Buat Lila, tulisan yang ada di atas kertas itu.

“Kira-kira ada orang iseng yang akan mengambilnya gak?”

Nana mengangkat bahu. “Gak tahu. Kalo benar ada yang mengambilnya, hari ini hari keberuntungan Lila.”

Sementara itu, di kelas I A. Lila sedang membaca kertas berwarna merah jambu yang ada di atas mejanya. Ia tersenyum senang. Ia menyodorkan kertas yang dipegangnya, ke tangan sahabatnya. Rina membelalak tak percaya.

“Benarkah, Iqbal yang mengajakmu ketemuan?”

“Entahlah? Mungkin saja.”

“ Iqbal yang anaknya Pak Wali itu?”

“Emang ada Iqbal yang lain?”

Rina menggeleng. “Kamu akan datang?”

Lila mengangguk.

Tepat pada saat yang bersamaan, Nana masuk diikuti Iqbal. Lila buru-buru memasukkan kertas yang ada di tangannya ke dalam tasnya.

Iqbal tersenyum manis pada Lila. Lila membalasnya. Iqbal mengedipkan matanya. Lila terduduk di kursinya.

Pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Gurunya seorang perempuan muda berusia 29 tahun. Bajunya berwarna ungu muda, senada dengan celananya yang berwarna putih. Wajahnya putih bersih. Senyumnya mengambang setiap saat. Rambutnya sebahu, dibiarkan begitu saja. Ms. Anita namanya.

Nana aktif sekali di pelajaran ini. Ia menunjukkan jarinya hampir setiap saat Ms. Anita memberikan pertanyaan. Waktu terus berputar. Pk. 09.55. Nana menoleh ke arah Iqbal. Ia mengedipkan matanya. Iqbal mengerti. Iqbal buru-buru keluar kelas. Tak lama kemudian Lila mengikutinya. Nana tersenyum. Senyum kemenangan. Menit-menit berlalu. Iqbal sudah kembali ke kelas. Ia memberikan sebuah senyuman pada Nana. Nana membalas senyumnya.

Sementara itu, Lila sudah sampai di taman belakang. Ia menuju bangku di depan bunga matahari. Tak ada siapapun di sana. Lila merasakan darahnya naik perlahan. Ada bungkusan. Lila mengambil bungkusan itu.

Buat Lila. Lila buru-buru membuka bungkusan itu. Sebuah buku. “Cara Memikat Iqbal,” katanya membaca judul buku itu. Lila bertambah marah. Apalagi setelah membaca halaman-halaman selanjutnya. Kemarahan Lila tak terbendung.

Sebenarnya, maksudnya Nana meberikan buku itu supaya Lila bisa belajar menjadi orang yang rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. Buku itu dibuat Nana dengan menggunting dari artikel-artikel koran bekas tentang bagaimana memikat cowok ato bagaimana agar disukai orang lain. Sayangnya, Lila gak terima atas perlakuan itu. Peperangan pun dimulai. Belum berkobar memang. Tapi, ada masanya nanti Nana menerima balasannya.

“Akan kubalas kau Iqbal,” katanya dengan mata berapi-api. “Tak peduli, orang tuamu walikota ato bukan. Kau pasti akan menerima balasan dari perbuatanmu ini.” Lila buru-buru masuk ke kelas. Ia menatap Iqbal dan Nana bergantian. Matanya penuh kebencian.

Iqbal dan Nana saling tersenyum.

Itulah salah satu kekompakan Nana dan Iqbal.

 

 

BAB IV

L I L A

Lila? Siapa itu Lila? Apa hubungannya dengan Nana dan Iqbal? Lila bertemu Nana sejak di belajar di sekolah ini. Sedang Iqbal? Lila sudah tahu siapa Iqbal sebenarnya. Anak walikota yang artinya anak orang kaya. Pintar sekali anaknya Sayangnya, selama di SMA ini, prestasinya hancur-hancuran. Yang terpenting dari semuanya, Lila suka banget sama Iqbal. Sejak pertama kali mereka bertemu. Waktu SMP dulu.

 

 

BAB V

B A L I

Liburan ini, sekolah Nana berwisata ke Bali. Mahal harganya. Nana mati-matian ingin ikut. Sayangnya, program beasiswanya  tidak meliputi biaya ke Bali. Hasilnya, Nana mengambil uang tabungannya yang dikumpulkannya dari hasil mengerjakan tugas atau PR teman-temannya.

“Na, kita berada di bis yang sama,” umum Iqbal sambil memasukkan donat ke mulutnya. Nana tak bereaksi. Ia masih sedih harus kehilangan uang tabungannya. “Kamu ‘gak sakit ‘kan, Na?”

Nana menggeleng. Ia menghela nafas. Donat di tangan Iqbal menarik perhatiannya. Nana merebut donat dari tangan Iqbal dan memasukkan donat itu ke mulutnya.

“Jorok!”

“Aku lapar.”

Nana terus makan. Iqbal memperhatikannya. Denyut jantungya bergerak semakin cepat. “Aku mencin…”

“Nana! Iqbal,” panggil Bobbi. Iqbal buru-buru mendekap mulutnya. Ia bersyukur sekali, suara Bobbi menggagalkannya untuk mengucapkan kata-kata sakral itu. Ia berlari mendekat. “Kita berada di bis yang sama.”

“Aku sudah tahu,” Nana menjawab.

“Aku juga,” Iqbal mendukung.

“Aku senang sekali,” Bobbi berkomentar. Kemudian ia berlari masuk ke kelas.

Hari-hari berlalu. Hari pergi ke Bali pun datang juga. Nana mempersipakan dirinya. Ia sekarang sedang mematut diri di depan cermin dalam kamarnya yang tak seberapa luas. Tak ada apa Nana tampak tersenyum bahagia. I

Leave a Reply