So much be I know
So much I don’t know
Finally I know
Only one I know, is … that
I don’t know anything
Filed under: Puisi | Leave a Comment »
So much be I know
So much I don’t know
Finally I know
Only one I know, is … that
I don’t know anything
Filed under: Puisi | Leave a Comment »
BAB I
N A N A
Nana adalah gadis berusia 17 tahun. Ia masih duduk di bangku SMA. Anaknya pintar, jelita (maksudnya sih wajah dengan jerawat lima juta), dan miskin sekali (maksudnya orang tuanya). Yang paling buruk adalah ia sombong. Runyam ‘kan. Miskin tapi sombong. Emang ada? Jawabnya adalah absolutely yes. Nyatanya memang benar kok. Miskin sih miskin, tapi itu bukan halangan bagi Nana untuk sekolah di sekolah paling favorit di Semarang. Semuanya, kalian tahu karena apa? Tentu saja, karena sekolah favorit itu mengendus bakat Nana di bidang Matematika, Fisika dan Kimia. Maka dengan senang hati, mereka memberi Nana izin pada Nana untuk masuk ke sekolah itu tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Selain itu, Nana juga bukan gadis yang pelit. Ia senang-senang saja, PR-nya dicontek banyak orang. Ia juga dengan senang hati membantu temannya yang malamnya tidak belajar tapi paginya harus ulangan. Tapi, ya ada syaratnya. “Emang ada yang gratis di dunia ini?” begitu jawabnya kalau ditanya teman-temannya. Ia akan dengan senang hati menerima bayaran. Yang pasti ia menolak dengan tegas kalau bayarannya berupa makanan. Kalau uang, bola matanya yang hitam akan berubah menjadi hijau seketika. (Habis ia jarang pegang uang.) ” Uang yang kudapatkan untuk biaya kuliahku,” jawabnya ketika Iqbal, ketua kelasnya, yang menurut Nana, payah benar otaknya, bertanya untuk apa Nana melakukan hal itu. Iqbal tentu saja tak percaya. “Kamu ‘kan pintar. Aku yakin banyak universitas yang akan menerimamu dalam program beasiswa mereka. Jadi, tak seharusnya kau memperjualbelikan ilmu pengetahuan.”
“Aku ‘kan juga miskin,” balas Nana pendek. Iqbal diam seribu bahasa tak tahu harus menjawab apa. “Kamu sih enak. Orang tuamu memberimu uang saku yang cukup. Aku? Aku harus cari sendiri uang sakuku.” Iqbal semakin mengkerut mendengarnya.
Sesudah itu, Iqbal tak pernah menyinggung-nyinggung tentang memperjualbelikan ilmu pengetahuan pada gadis yang tak punya apa-apa untuk dijual kecuali otaknya yang pintar.
Meski pintar, kepemimpinannya payah benar. Pernah nih ia disuruh menjadi pemimpin lomba senam antar kelas. Nana jelas saja menolaknya. Ia benar-benar tidak bisa olahraga yang satu ini. Sayangnya, teman-temannya tak percaya padanya. “Basket aja kamu pintar, masak senam saja tidak bisa,” seru Iqbal sang ketua kelas. Nana tetap ngotot kalau ia tidak hafal gerakannya. “Ok! Aku emang pintar basket, tapi senam,” Nana berkata sambil menggerakkan jari tangannya membentuk huruf O beralasan. “nol besar.” Sayangnya, Iqbal keras kepala sekali. Ia tetap memilih Nana.
Hari H tiba. Nana dengan pede maju ke depan duluan karena seperti yang kalian tahu, pimpinannya. Teman-teman satu timnya mengikutinya di belakang. Musik sudah terdengar. Anak-anak sudah mulai mengerakan tubuh, badan dan tangannya. Nana dengan pede menengok ke belakang dan meniru gerakan teman-temannya. Penonton tertawa melihatnya. Iqbal melihat itu, yang dilakukannya kemudian adalah merutuk dirinya sendiri sekarang. “Sialan!” rutuk Iqbal. “Dia benar-benar tak hafal gerakan senam.” Alhasil kelas Nana kalah dalam lomba senam tersebut.
Iqbal marah-marah pada Nana. Nana tak kalah marahnya pada Iqbal.
“Tak bertanggung jawab!”
“Aku ‘kan sudah bilang aku tak hafal gerakan senam. Kau tetap paksa aku.”
“Kalau kau belum hafal, kau ‘kan bisa belajar.”
“Tak ada waktu!”
“Kau?”
“Emangnya kenapa? Aku tak ada waktu buat mempelajari hal-hal konyol seperti itu. Lebih baik waktuku kugunakan untuk mencari uang.”
Iqbal tak bisa berkata apa-apa. Teman-teman mereka telah melerai pertengkaran yang semakin seru. Iqbal didorong Bobbi ke belakang. Lila dan Rina mengajak Nana ke kantin.
Keesokan paginya Nana dan Iqbal sudah berbaikan.
“Pinjam PR-mu, Na,” rengek Iqbal. Nana mencibir. Iqbal mengeluarkan uangnya, uang kertas berwarna biru: Rp 50.000,00. Mata Nana melebar.
“Ambil sendiri di dalam.” Nana merebut uang yang ada di tangan Iqbal.
“Dasar MD!”
Nana melotot.
“Mata duitan.”
Nana tak peduli. Ia senang sekali.
Itulah Nana. Miskin tapi pede, keras hati dan agak sombong.
BAB II
I Q B A L
Siapa sih Iqbal itu? Dia nih teman sekelas Nana sejak kelas I SMA dulu. Anaknya sebenarnya waktu SMP pendiam dan pintar habis. Sejak kenal dengan Nana, ia jadi ngocol habis dan tiba-tiba prestasi akademiknya menurun tajam seumpama bis tanpa rem meluncur di jalan yang menurun. Atau seumpama penerjun payung, payungnya tak mau mengembang, meluncur ke bumi dengan deras. Tau kenapa? Semuanya dilakukannya karena kasihan sama Nana. Maksudnya apa sih kok pake kasihan pada Nana segala? Seperti yang kalian baca di atas, Nana masuk ke sekolah ini ‘kan karena program beasiswa. Takutnya Iqbal, kalau Nana sampai kalah darinya, Nana bisa dikeluarkan.. Iqbal mana mau Nana dikeluarkan dari sekolah megah dan mewah nan mahal ini. Iqbal gak jatuh cinta pada Nana ‘kan? Sabar, ya. Jawabannya ada di kalimat selanjutnya di bab ini juga.
Sebenarnya Iqbal itu anaknya pintar sekali. Ia pernah ikut olimpiade Matematika bahkan sampai di India pada waktu Sekolah Dasar dulu. Kalau Cuma PR, ia akan dengan mudah mengerjakan PR-PR yang diberikan gurunya. Lagian guru privatnya ‘kan berjibun jumlahnya. Kalau ia tidak bisa mengerjakan salah satu PR-nya, ia tinggal telepon mereka. Beres. Namun, karena ingin melihat senyum Nana, Iqbal pura-pura tak mengerjakan PR-nya. Kemudian, ia pinjam PR dari Nana. Alhasil Nana gembira sekali karena mendapatkan uang. Ia pun tertawa lebar. Iqbal tersenyum dikulum melihatnya.
Kebalikan dari Nana, Iqbal adalah anak orang kaya. Ayahnya walikota Semarang. Semua temannya mengetahui hal itu. Kecuali, tentu saja, Nana. Yang Nana tahu, Iqbal anak orang kaya. Kalau sekolah naik mobil mewah. Pulangnya dijemput dengan mobil yang berbeda. Mau kayanya darimana, Nana tak mau tahu. Selain itu, Nana merasa, Iqbal adalah temannya paling baik sedunia. Karena apa coba? Karena Iqbal baik sekali pada Nana. Selalu menolong dan mendukung Nana. Mereka pasangan yang serasi dalam hal ….. ngerjain teman-temannya. Untuk ngerjain guru? Nana tak berani sama sekali. “Anak program beasiswa gitu lho,” alasannya kepada Iqbal ketika Iqbal mengajaknya ngerjain guru Kimianya yang killer habis. “harus jaga imej. Biar dapat beasiswa terus.” Jadinya, gagal deh Iqbal ngerjain guru Kimianya.
Suatu ketika karena penasaran tentang alasan Nana menerima beasiswa di sekolah mewah ini, Iqbal memberanikan diri bertanya,”Na, kamu ‘kan miskin, tapi kenapa kamu kok kamu berani menerima beasiswa di sekolah ini?”
Nana terdiam agak lama sebelum menjawab pelan. Dahinya berkerut. Walaupun ia miskin, tak pernah ada yang bilang kalau ia miskin langsung di depan hidungnya. Seringnya, malah ia yang bilang kalau ia tuh miskin. Jadi, ia kaget juga mendapat pertanyaan yang tak disangka seperti itu.
Iqbal manatap Nana. Cemas sekali. “Maafkan aku,” ucapnya pelan.
“Untuk apa?” Nana ganti bertanya tak mengerti.
“Untuk pertanyaanku.”
“Sudahlah,” jawab Nana pendek. “Aku sudah siap menjawab pertanyaanmu sekarang. Aku hanya berpendapat, sekolah adalah salah satu jalan untuk menghancurkan kemiskinan. Kebetulan SMA ini aku mendapatkan kesempatan yang bagus untuk bersekolah di sekolah yang bagus juga. Harapanku, aku akan menjadi orang yang berkualitas dengan bersekolah di sini. Dengan menjadi orang yang berkualitas, aku bisa mendapat pekerjaan yang bagus dengan gaji yang bagus juga.” Nana berhenti sebentar. Ia menatap Iqbal. “Dengan begitu, satu kemiskinan teratasi. Satu beban pemerintah sudah hilang.”
“Maksudmu?”
“Orang-orang miskin seperti kami ‘kan beban bagi pemerintah. Tapi, pemerintah belum bergerak cepat mengatasinya. Mereka sibuk sendiri dengan korupsinya hingga melupakan orang terpinggirkan seperti kami,” mata Nana menerawang. “Tanggung jawab mereka atas orang-orang seperti kami akan berkurang karena kami berhasil menaikkan taraf kehidupan kami tanpa campur tangan mereka.” Nana menghela nafas panjang. “Pertanggungjawaban mereka selama memimpin di dunia kepada Hisab Allah di akhirat pun berkurang juga.”
Iqbal menatap Nana berkaca-kaca dan dengan perasaan kagum luar biasa. Sejak itu, cinta tumbuh di hati Iqbal untuk Nana. Cinta terpendam yang enggan ia sampaikan karena hanya akan merusak konsentrasi Nana untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan keluarganya.
“Suatu ketika, entah itu kapan, aku pasti akan menyampaikan perasaan ini,” Iqbal berjanji pada dirinya sendiri.
Sekarang kalian tahu ‘kan? Bagaimana dalamnya perasaan Iqbal ke Nana. Pengorbanannya? Jangan tanyakan itu padanya. Bukankah sudah kuceritakan salah satu pengorbanan Iqbal demi cinta dan rasa kasihannya pada Nana ‘kan?
BAB III
PERTEMUAN PERTAMA
Bagaimana sih awal persahabatan Nana dan Iqbal?
Ceritanya, hari itu adalah hari pertama masuk sekolah. Iqbal bangun kesiangan karena semalaman nonton bola Liverpool vs Chelsea. The Reds adalah klub favorit Iqbal. Sedangkan The Blues ato Chelsea adalah klub yang dijuluki Iqbal sebagai klub serakah. Klub yang hanya menghambur-hamburkan uangnya untuk mengumpulkan para pemain di dunia tanpa tahu mereka mau dijadikan apa. Tak ada keinginan dalam diri klub itu untuk menggondok bintang baru yang berasal dari akademi yuniornya. Benar-benar klub menyebalkan.
Hanya saja karena klub itu pula, Iqbal terlambat bangun yang berakibat ia terlambat masuk ke sekolah. Sesampai di sekolah, pintu gerbang sudah ditutup. Upacara sudah dimulai. Iqbal turun dari mobil yang mengantarnya. Ia menatap sedih ke gerbang yang sudah terkunci.
“Pasti nonton The Reds sama The Blues!” suara seorang gadis mengagetkan Iqbal.
Iqbal menoleh ke suara itu. “Tahu darimana?”
“Matamu,” jawab gadis itu singkat. “merah kurang tidur. By the way, The Reds hebat ya. Berjuang terus sampai titik darah penghabisan.” Gadis itu menghentikan celotehannya. Iqbal masih terpana di tempatnya berdiri. Biasanya ‘kan cewek suka bola karena pemainnya yang cakep sebagai bukti klub dimana David Beckham ato Christiano Ronaldo merumput pasti akan banyak penggemar ceweknya. Kedua pemain itu ‘kan sexi habis tampangnya. Tapi, ini lain sekali. “Aku suka The Reds. Awalnya karena perjuangan mereka mengalahkan AC Milan dalam final Liga Champion 2005. Sudah ketinggalan tiga gol, mereka bisa mengejarnya bahkan membalikkan keadaan dan menjadi kampium Liga Champion 2005. “
Iqbal semakin tertarik pada gadis itu.
“Aku Iqbal,” katanya memperkenalkan diri. Tangannya terulur. Gadis itu tak membalas uluran tangan Iqbal.
“Nana,” jawab gadis itu pendek.
Iqbal mengambil tangannya. “Aku juga pecinta The Reds. Kau terlambat karena nonton juga, ya?” tanya Iqbal lebih lanjut.
Nana menggeleng. “Aku jual molen dulu di pasar.”
Iqbal membekap mulutnya. Tak percaya. “Tapi, bagaimana kau tahu kalau tadi malam adalah jadwal The Reds lawan The Blues.”
“Baca,” jawab Nana pendek.
Gerbang terbuka. Upacara sudah selesai. Nana dan Iqbal buru-buru masuk ke sekolah. Mereka berjalan beriringan. Di jalan yang sama. Menuju satu tujuan yang sama.
“Kita sekelas,” kata Iqbal senang. Nana hanya tersenyum.
Hari pertama sudah ketahuan siapa anak paling pintar di kelas tersebut. Nana mengacungkan jarinya di setiap pelajaran. Tentu saja, pada saat gurunya memberikan pertanyaan.
“Kau pintar sekali,” puji Iqbal ketika istirahat datang.
“Pastilah,” jawab Nana tanpa bermaksud menyombongkan diri. “Kalo tidak pintar, emang aku bisa belajar di sekolah semewah dan semegah ini?”
Iqbal tak menanggapi pertanyaan yang tak perlu dijawab tersebut. Ia sedang menyesali mulutnya yang memberikan pujian pada gadis di depannya. “Kalo aku mau, aku bisa menjawab semua pertanyaan tadi. Hanya saja aku tak ingin menonjolkan diri,” kata Iqbal dalam hati. “Tidak ke kantin?” Iqbal bertanya mengalihkan topik pembicaraan.
Nana menggeleng.
Iqbal bisa menduga apa alasannya. “Aku yang traktir.”
Mata Nana melebar. Ia mengangguk senang.
Di kantin.
“Boleh aku bergabung dengan kalian?” seorang gadis mendekat dan duduk di samping Nana.
Tanpa menunggu persetujuan, gadis cantik bertubuh sangat wangi duduk di samping Nana. (Iqbal dan Nana bisa mencium keharuman tubuhnya) “Aku tahu siapa kamu,” kata gadis itu, matanya menatap ke arah Nana. “Kamu siswa program beasiswa ‘kan? Karena siswa seperti kamulah, kami, anak-anak dari kalangan mampu, harus membayar lebih.”
Iqbal tak senang mendengar perkataan itu. Perkataan itu bisa menohok orang sampai ke jantungnya dan langsung pingsan setelah mendengarnya.
Tapi Nana dengan lugas dan bangga menjawab “Begitulah. Maaf merepotkan.” Lanjutnya.
“Aku Lila,” gadis itu memperkenalkan diri tak mempedulikan kata-kata terakhir Nana. “teman sekelasmu yang tak sempat menonjolkan diri karena semua kesempatan sudah kau ambil.”
Nana menghentikan makannya. Ia menatap gadis yang bernama Lila lekat. Lila tak merasa gentar dipandang seperti itu.
“Dan kau?” Lila menatap ke arah Iqbal. “Aku juga tahu siapa dirimu.”
Iqbal berdiri, marah sekali. “Kurasa sudah waktunya kita kembali ke kelas, Na,” ajak Iqbal. Nana mengikuti perkataan Iqbal. Ia ikut-ikutan berdiri.
Setelah membayar makan mereka, Iqbal berjalan ke taman sekolah. Nana mengikutinya.
“Gadis itu perlu diberi pelajaran,” kata Nana cepat. Iqbal tak percaya mendengarnya. Lila, Iqbal yakin, bukan gadis biasa-biasa saja. Nana, Iqbal tahu pasti, gadis miskin yang bisa belajar di sekolah ini karena beasiswa, berani mengatakan hal seperti itu. “Aku akan cari cara untuk mengerjainya,” Nana berkata meyakinkan Iqbal. Iqbal tak percaya dengan kata-kata yang didengarnya barusan. “Kau ikut tidak?”Iqbal tak langsung menjawab. Nana tak sabar. “Baiklah akan kulakukan sendiri,” Nana berkata sambil berbalik meninggalkan Iqbal.
“Saatnya sudah tiba,” bisik hati Iqbal. “Menjadi anak manis cukup waktu SMP, sekarang saatnya mencari pengalaman menegangkan. Hidup biasa-biasa saja, bukan hidup namanya. Kau takkan pernah punya cerita yang bisa kau ceritakan pada anak cucumu kelak.” “Tunggu!” Iqbal akhirnya menghentikan langkah Nana.
Nana menoleh dan menghentikan langkahnya.
“Aku ikut denganmu,” katanya.
Nana tersenyum.
“Kamu tidak takut?”
“Takut?” Nana balas bertanya. “Kalo aku punya rasa takut, aku takkan pernah menerima tawaran beasiswa di sini. Sekolah yang hanya bisa dimasuki kalo ayahmu pejabat ato pengusaha sukses.”
“Apa rencanamu?” Iqbal bertanya mengalihkan perhatian.
“Kita lihat saja nanti,” Nana berkata sambil tersenyum nakal.
Iqbal merasakan sensasi yang aneh melihat senyuman itu.
Hari kedua sekolah.
Nana tidak terlambat ke sekolah seperti hari kemarin. Ia berjalan santai menuju sekolahnya. Di depan gerbang, ada Iqbal dengan gadis-gadis cantik yang mengelilinginya. Nana berjalan masuk tak mempedulikannya. Melihat Nana, Iqbal meninggalkan gadis-gadis yang mengelilinginya dan berlari mengejar Nana.
“Mereka teman-temanku waktu SMP,” jelas Iqbal setelah berhasil menjejeri langkah Nana. Nana tak begitu mendengarkan penjelasan itu. Pikirannya asyik dengan rencananya ngerjain cewek centil tak tahu diri. Iqbal tak melanjutkan penjelasananya setelah yang diajak bicara tak memberikan respon sama sekali.
Sampai di depan kelas IA, kelas Nana dan Iqbal, seorang anak laki-laki dengan tubuh tambun, menghadang langkah Nana.
“PRnya sudah, Na?”
Sebentar saja, popularitas otak Nana sudah sampai ke penjuru sekolah. Dari mulut ke mulut, tentu saja.
Nana mengangguk. Tangannya masuk ke dalam tasnya dan mengambil buku bersampul bunga matahari. “Jangan lupa taruh uangnya, di dalam bukunya, ya.”
Iqbal terlongong.
“Kamu gak bisa berbuat seperti ini, Na!”
“Kenapa tidak?” jawab Nana pelan. “Dengan membuatkan PR kepada anak-anak seperti Bobbi, aku tak perlu bangun pagi-pagi hanya untuk berjualan molen. Kau tahu,” Nana menambahkan “itu hanya akan membuatku terlambat ke sekolah.”
Iqbal tak mau kalah,“Itu hanya membuatnya malas.
“Sebelumnya apa ia tidak malas?”
Iqbal tak menjawab. Ia tidak yakin kalau Bobbi adalah anak yang mau bersusah-payah sedikit untuk belajar. Dilihat dari tampangnya saja, sangat jelas sekali. Ia hanya anak malas yang bisanya menghamburkan uang kedua orangtuanya.
“Kamu sudah siap?” Nana bertanya.
“Untuk apa?” Iqbal balik bertanya tak mengerti.
“Lila,” jawab Nana singkat.
“Kau sudah ada rencana?” Iqbal bertanya dengan mata berbinar-binar.
“Begitulah,” jawab Nana. “Kita lihat saja nanti.”
Istirahat pertama. Semua teman sekelas Nana pergi ke kantin. Nana masih asyik di tempatnya. Iqbal juga masih kasak-kusuk di kursinya. Nana tersenyum pada Iqbal. Iqbal membalas senyum Nana dan berjalan ke arahnya.
“Siap?”
Iqbal mengangguk. Nana mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kertas.
Buat Lila
Kutunggu kau di taman belakang sekolah Pk. 10.00. Di bangku di depan bunga Matahari.
Iqbal
Iqbal melotot membaca kalimat yang ada dalam kertas di genggaman Nana. “Apa maksudmu dengan kata-kata itu?”
Nana tersenyum manis. “Begini, Iqbal sayang,” jelasnya pelan. Hati Iqbal terlonjak girang, dipanggil sayang seperti itu. “Kemarin, Lila ‘kan makan bareng dengan kita?” Iqbal mengangguk membenarkan kata-kata itu. “Aku tahu pasti, ia tak ingin mengenalku. Ia hanya ingin mendekatimu. Entah karena hartamu ato karena orangtuamu. Aku…”
“Apa maksudmu?” Iqbal memotong marah.
Nana menjawab cepat. Agak marah sebenarnya,“Aku gak yakin ia mendekatimu karena tampangmu, yang menurutku biasa-biasa saja.” Nana memegang wajah Iqbal. “jadi, ia mendekatimu pastilah karena hartamu ato karena orangtuamu.”
“Lalu, emangnya kenapa?”
Nana mulai tak sabar. Ia menjelaskan cepat apa yag direncanakannya. Surat itu nanti akan ditaruh Nana di meja Lila. Pk. 09.55 Iqbal keluar dari kelas. Izin ke kamar mandi bukan ke taman belakang. “Setelah itu, kau balik ke kelas. Gak usah nemuin cewek bego itu,” Nana mengakhiri penjelasannya.
“Kau yakin, Lila akan menemuiku?”
“Seratus persen,” jawab Nana tegas. Ia kemudian meletakkan kertas yang dipegangnya di atas meja Lila. “Sekarang kita ke taman belakang. Kita letakkan ini (Nana menunjukkan bungkusan dalam tangannya) di bangku yang kau sebutkan dalam surat.”
Nana melangkah meninggalkan Iqbal. Iqbal buru-buru mengikutinya.
“Apa sebenarnya isinya?”
Nana menunjukkan isi bungkusan yang dipegangnya.
“Hanya buku?”
Nana mendengus kesal.“Baca dulu judulnya!”
“Cara Memikat Iqbal. Apa maksudnya?”
“Lihat daftar isinya!”
Iqbal membaca keras. “Bab Satu: Bagaimana cara berbicara yang sopan, Bab dua: Bagaimana cara menjadi cewek rendah hati, Bab tiga….”
“Cukup!” potong Nana.
Iqbal mengerti maksud Nana. Ia tersenyum.
Di tengah jalan, ada cowok yang menghentikan langkah Iqbal. Darius namanya. Teman SMP Iqbal. Ayahnya dokter gigi. Iqbal berhenti. “Bisikkan ke telingaku yang ingin kau bicarakan,” Iqbal berkata pelan. Darius membisikkan sesuatu di telinga Iqbal. Nana terus berjalan. Tak peduli. “Aku tak bisa,” jawab Iqbal. “Kapan-kapan aku akan ikut dengan kalian.” Iqbal berlalu meninggalkan Darius. Ia berlari mengejar Nana.
Taman belakang SMA META SES, sangat indah. Bunga berwarna-warni sedang bermekaran sekarang. Kupu-kupunya beterbangan menghisap sarinya. Nana sedang duduk di bangku di depan bunga Matahari yang sedang mekar. Iqbal berada di belakangnya.
“Kita taruh di sini saja, ya?” Nana meletakkan barang yang dibawanya di atas bangku itu. Ada kertas di atas barang itu. Buat Lila, tulisan yang ada di atas kertas itu.
“Kira-kira ada orang iseng yang akan mengambilnya gak?”
Nana mengangkat bahu. “Gak tahu. Kalo benar ada yang mengambilnya, hari ini hari keberuntungan Lila.”
Sementara itu, di kelas I A. Lila sedang membaca kertas berwarna merah jambu yang ada di atas mejanya. Ia tersenyum senang. Ia menyodorkan kertas yang dipegangnya, ke tangan sahabatnya. Rina membelalak tak percaya.
“Benarkah, Iqbal yang mengajakmu ketemuan?”
“Entahlah? Mungkin saja.”
“ Iqbal yang anaknya Pak Wali itu?”
“Emang ada Iqbal yang lain?”
Rina menggeleng. “Kamu akan datang?”
Lila mengangguk.
Tepat pada saat yang bersamaan, Nana masuk diikuti Iqbal. Lila buru-buru memasukkan kertas yang ada di tangannya ke dalam tasnya.
Iqbal tersenyum manis pada Lila. Lila membalasnya. Iqbal mengedipkan matanya. Lila terduduk di kursinya.
Pelajaran Bahasa Inggris dimulai. Gurunya seorang perempuan muda berusia 29 tahun. Bajunya berwarna ungu muda, senada dengan celananya yang berwarna putih. Wajahnya putih bersih. Senyumnya mengambang setiap saat. Rambutnya sebahu, dibiarkan begitu saja. Ms. Anita namanya.
Nana aktif sekali di pelajaran ini. Ia menunjukkan jarinya hampir setiap saat Ms. Anita memberikan pertanyaan. Waktu terus berputar. Pk. 09.55. Nana menoleh ke arah Iqbal. Ia mengedipkan matanya. Iqbal mengerti. Iqbal buru-buru keluar kelas. Tak lama kemudian Lila mengikutinya. Nana tersenyum. Senyum kemenangan. Menit-menit berlalu. Iqbal sudah kembali ke kelas. Ia memberikan sebuah senyuman pada Nana. Nana membalas senyumnya.
Sementara itu, Lila sudah sampai di taman belakang. Ia menuju bangku di depan bunga matahari. Tak ada siapapun di sana. Lila merasakan darahnya naik perlahan. Ada bungkusan. Lila mengambil bungkusan itu.
Buat Lila. Lila buru-buru membuka bungkusan itu. Sebuah buku. “Cara Memikat Iqbal,” katanya membaca judul buku itu. Lila bertambah marah. Apalagi setelah membaca halaman-halaman selanjutnya. Kemarahan Lila tak terbendung.
Sebenarnya, maksudnya Nana meberikan buku itu supaya Lila bisa belajar menjadi orang yang rendah hati dan tidak meremehkan orang lain. Buku itu dibuat Nana dengan menggunting dari artikel-artikel koran bekas tentang bagaimana memikat cowok ato bagaimana agar disukai orang lain. Sayangnya, Lila gak terima atas perlakuan itu. Peperangan pun dimulai. Belum berkobar memang. Tapi, ada masanya nanti Nana menerima balasannya.
“Akan kubalas kau Iqbal,” katanya dengan mata berapi-api. “Tak peduli, orang tuamu walikota ato bukan. Kau pasti akan menerima balasan dari perbuatanmu ini.” Lila buru-buru masuk ke kelas. Ia menatap Iqbal dan Nana bergantian. Matanya penuh kebencian.
Iqbal dan Nana saling tersenyum.
Itulah salah satu kekompakan Nana dan Iqbal.
BAB IV
L I L A
Lila? Siapa itu Lila? Apa hubungannya dengan Nana dan Iqbal? Lila bertemu Nana sejak di belajar di sekolah ini. Sedang Iqbal? Lila sudah tahu siapa Iqbal sebenarnya. Anak walikota yang artinya anak orang kaya. Pintar sekali anaknya Sayangnya, selama di SMA ini, prestasinya hancur-hancuran. Yang terpenting dari semuanya, Lila suka banget sama Iqbal. Sejak pertama kali mereka bertemu. Waktu SMP dulu.
BAB V
B A L I
Liburan ini, sekolah Nana berwisata ke Bali. Mahal harganya. Nana mati-matian ingin ikut. Sayangnya, program beasiswanya tidak meliputi biaya ke Bali. Hasilnya, Nana mengambil uang tabungannya yang dikumpulkannya dari hasil mengerjakan tugas atau PR teman-temannya.
“Na, kita berada di bis yang sama,” umum Iqbal sambil memasukkan donat ke mulutnya. Nana tak bereaksi. Ia masih sedih harus kehilangan uang tabungannya. “Kamu ‘gak sakit ‘kan, Na?”
Nana menggeleng. Ia menghela nafas. Donat di tangan Iqbal menarik perhatiannya. Nana merebut donat dari tangan Iqbal dan memasukkan donat itu ke mulutnya.
“Jorok!”
“Aku lapar.”
Nana terus makan. Iqbal memperhatikannya. Denyut jantungya bergerak semakin cepat. “Aku mencin…”
“Nana! Iqbal,” panggil Bobbi. Iqbal buru-buru mendekap mulutnya. Ia bersyukur sekali, suara Bobbi menggagalkannya untuk mengucapkan kata-kata sakral itu. Ia berlari mendekat. “Kita berada di bis yang sama.”
“Aku sudah tahu,” Nana menjawab.
“Aku juga,” Iqbal mendukung.
“Aku senang sekali,” Bobbi berkomentar. Kemudian ia berlari masuk ke kelas.
Hari-hari berlalu. Hari pergi ke Bali pun datang juga. Nana mempersipakan dirinya. Ia sekarang sedang mematut diri di depan cermin dalam kamarnya yang tak seberapa luas. Tak ada apa Nana tampak tersenyum bahagia. I
Filed under: Novel | Leave a Comment »
Hari ini aku merasa capai sekali. Ingin menyerah pada keadaan tapi tak mudah dilakukan. Hidup bukan untuk diserahkan tapi untuk diperjuangkan hingga mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Terkadang putus asa datang menyerang tanpa diundang mengundang malapetaka pada rel kehidupan yang berjalan. Benar, aku merasa lelah. Sendirian dalam keramaian, sendirian dalam kebersamaan.
Dalam perjuangan yang semakin berat ini, indah nian ada teman.
Sayangnya, aku memilih tak berteman. Bukan tak ada tapi aku tak mau.
Aneh.
Entah.
Filed under: My Diary | Leave a Comment »
Tadi aku jaga UAS di SD Srondol Wetan III. Karena bosan dan megantuk, aku membuat puisi-puisi berikut ini:
Ketika kau tanya sebesar apa cinta yang kupunya
Aku takkan menjawab sebesar gunung Himalaya
Ketika kau tanya sedalam apa cinta yang kupunya
Aku takkan menjawab sedalam palung Mindanao, palung terdalam di dunia
Ketika kau tanya setinggi apa cinta yang kupunya
Aku takkan mnejawab setinggi bintang di angkasa
Karena
Kau tahu kenapa?
Cintaku dekat saja
Sedekat nadi dalam tubuh kita
Menyatau sahdu dalm nyanyian kalbu
Menemanimu bak buluh perindu
Bisakah kau merasakannya?
Filed under: Puisi | Leave a Comment »
Senin, 12 Mei 2008
Kemarin, hari Minggu 11 Mei 2008 aku pergi ke Klaten untuk bertakziah. Ayah seorang teman meninggal. Sebanrnya aku sudah kirim SMS sih (kutulis SMS-nya dalam kalimat lengkap ya):
Waktu Pak Iqbal bilang keluar kota
Aku ingin bertanya ada apa?
Sayang pulsa tinggal lima pulu lima
Karena kalau itu untuk taaruf, aku akan bilang “Akhirnya Pak Iqbal nikah juga. Selamat.” (Sumpah, ini lho yang terlintas dalam pikiranku ketika jenengan bilang di LK)
Tapi ternyata
Kebenaran bukan hasil dari persangkaan.
Jadi, ucapanku berubah menjad “AKu ikut berduka. Smeoga duka berganti suka entah apapun itu wujudnya.
Kebetulan kemarin aku dimintai tolong Majid untuk menggantikan dirinya mengajar bahasa Inggris. Jadi aku ke kejar paket. Ada yang tanya “Riya ikut kan ke tempatnya Pak Iqbal?”
“Absolutely yes,” jawabku tanpa pikir panjang.
Asyik ‘kan bisa ke sana.
Niatnya mau pergi ke Klaten kan Takziah tapi beberapa kejadian konyol membuat kita tertawa bersama. Contohnya:
Syfa :Rumah Pak Iqbal luas, ya?
Iqbal : Iya. Ke samping masih ada lagi.
Aku : Aduh ini mau takziah atau mau ngukur luas tanah sih?
Naifah : Pak Iqbal punya sapi?
Iqbal : dulu waktu Mbahku masih ada, aku punya. Sekarang….
Aku : Tidak punya karena mbahnya sudah tidak ada.
Aku : konyol banget topiknya
Lucu. Banyak lagi cerita lucu tapi aku tidak begitu masuk dalam pembicaraan itu.
Aku
Kulihat iqbal gak begitu nyaman). Pak, kita bisa ditinggal.
Iqbal : ditinggal kemana?
Aku : ke depan (sambil menunjuk kerumunan orang)
Iqbal : mereka sudah ada yang nemenin.
Aku : masih merasa, kalau dia merasa tidak nyaman.(Maklum kami berenam cewek semua, baru 2 yang sudah punya calon suami.)
Aku : Ya, sudah. Hanya nyaranin.
*****
Aku : Fotomu mana?
Iqbal : Itu (sambil menunjuk belakangku)
Aku : ( Menengok ke belakang. Fotonya terlalu kecil. Jadi, gak kelihatan.)
Ema : Mau lebih jelas? Lihat sana!
Aku : Itu yang di depanku siapa (Sambil menunjuknya)
Iqbal : Iya. Lebih nyata dan jelas daripada fotonya.
Filed under: My Diary | Leave a Comment »
PROLOG
Hari ini lagi-lagi kubaca tentang bunuh diri. Hanya karena masalah sepele. Tuntutan hidup. Tak kuat menanggung biaya hidup, orang-orang bodoh itu memilih jalan pintas: bunuh diri. Mulai dari sopir angkutan, polisi, ibu rumah tangga bahkan pengusaha. Mereka mengambil jalan pintas. Bodoh! Bodoh sekali orang-orang itu. Kubuang koran itu ditumpukan sampah di pojok ruang kerjaku. Kupandangi Jakarta dari lantai 25 kantorku. “Aku harus bertindak!” tanpa sadar aku berteriak. Aku muak dengan kondisi saat ini. Orang-orang yang berada di teras kekuasaan, seenaknya menjual negara tercinta kepada pihak asing yang kemudian mengeksploitasi Indonesia tanpa peduli pada masyarakat sekitarnya. AKu muak dengan pejabat yang baru dua memerintah kekayaannya menjadi berlipat-lipat. Aku muak dengan semuanya.
Kunyalakan notebookku yang langsung tersambung ke internet yang memang sudah LAN sejak aku pertama masuk kerja di kantor ini. Kubuka www.google.com. Kuketik dua kata pembunuh bayaran. Keluar berbagai menu tentangnya. Mataku terpaku pada satu judul “Email Pembunuh BAyaran.” Buru-buru aku membuka artikel itu. Ini benar-benar yang kubutuhkan.
Kutulis surat untuknya.
Aha! Langsung dibalas. Pembunuh itu sedang online rupanya.
Aku berpikir sebentar. Tak langsung membalas e-mailnya.
Kalau hanya sekedar pembunuh bayaran, takkan merampungkan pekerjaan ini. Aku butuh hal yang lebih besar.
Nanti kuhubungi lagi
Tulisku.Kukirimkan kata-kata itu ke pembunuhbayaran@****.com
Aku berpikir sebentar.
Kuketik dua kata lagi: pecinta indonesia.
Aha ketemu. Ini dia yang kubutuhkan.
Lima Tahun Kemudian
BAB I
“Bagimana dengan kasus terbunuhnya Gubernur Sumatera Utara?”
Tanpa disuruh perwira menengah yang menangani terbunuhnya gubernur Sumatera Utara memberikan penjelasannya.
“Hampir sama dengan Menteri Kehutanan dan Walikota Semarang. Ia dituduh korupsi tidak hanya milyaran tapi trilyunan rupiah. Belum ada yang dicurigai dalam kasus ini. Mayat gubernur Sumatera Utara ditemukan di pinggir jalan. Mobil dinas dan pengawal yang mengawalnya ditemukan pingsan di samping mayatnya. Mereka tak luka sedikit pun juga.”
Kepola Polisi RI tampak berpikir keras sekarang. Dahinya berkerut. “Semua pejabat yang tewas terbunuh adalah koruptor kelas kakap yang layak mati.”
“Apa kasus yang sedang dihadapi ketua DPR hingga ia harus ditemukan mati di pinggir jalan?” tanyanya langsung.
Jenderal Amir Hasibuan terhenyak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang langsung menghujam ke intinya. Tanpa basa-basi.
“Ia mengesahkan UU tentang kenaikan tunjangan anggota dewan. Selain itu, ia dan jajarannya melancong ke Amerika dengan uang rakyat. Negara dirugikan trilyunan rupiah.”
Jenderal Hasan Siregar menangkap satu titik terang.
“Sekarang, kumpulkan data para pejabat teras yang sedang bermasalah, terutama sekali karena kasus korupsi! Satu jam lagi kutunggu kalian semua di sini!”
Rapat bubar. Para perwira blingsatan menuju ruang data. Mereka tampak sibuk menelepon jajaran di bawahnya. Mencari informasi tentang para pejabat yang sedang bermasalah di daerahnya masing-masing, sambil menduga-duga apa yang akan disuruhkan kepala polisinya selanjutnya.
Sementara itu, masih di tempatnya berdiri tadi Jenderal Hasan tampak tersenyum puas. Tangannya memegang ponsel. Ia tampak berbicara dengan seseorang.
BAB II
Aku sedang membaca berita di koran tentang terbunuhnya gubernur Kalimantan Barat. Tadi pagi mayatnya ditemukan di semak belukar di pinggir kota Pontianak. Aku menghela nafas panjang. Sudah seharusnya para pejabat itu mati di jalanan seperti itu. Mereka tak tahu diri. Hanya bisa memperkaya diri sendiri.
Rasa senang mengaliri tubuhku sekarang. Notebookku tampak berkerlap-kerlip. E-mail masuk. Kubuka e-mail itu.
Hati-hati ada rapat besar kepala polisi seluruh Indonesia. Mereka sedang mencari pembunuh para pejabat teras itu.
Aku tak berusaha membalas e-mail itu. Lagian apa hubunganku dengan para pejabat yang terbunuh itu? Tak ada! Sudah seharusnya ‘kan kalau kepolisian bertindak? Mereka tak ingin ‘kan dipermalukan di depan rakyatnya sendiri. Mereka ‘kan tak ingin kelihatan bloon di depan presiden RI juga.
Aku lebih memilih mengirim e-mail ke temanku.
Aku senang hari ini. Kekasihku mengirimiku tidak hanya setangkai tapi ratusan karangan bunga. Aku senang hadiah yang kau berikan. Minggu depan aku tidak mau bunga lagi. Aku ingin burung cendrawasih langsung dari Papua.
Ku klik menu send. E-mailku, kuyakin sudah sampai ke kekasihku yang sedang on line di seberang sana.
Dear, you will get it.
Balasnya singkat dan padat.
Aku tersenyum puas.
BAB III
Sehari kemudian, kepolisian Republik Indonesia kembali ditutupi mendung. Satu kasus pembunuhan terjadi. Dari pulau di ujung timur Indonesia, Papua. Salah satu putra terbaik mereka terbunuh. Sama seperti pembunuhan lain. Tak ada jejak. Tak ada tersangka.
“Kau semua ‘kan sudah kuminta untuk mencari dan melindungi para pejabat yang sedang bermasalah? Mengapa kita masih kecolongan juga?” suara Jenderal Hasan Siregar, besar dan menggelegar di telepon.
“Maaf, maaf, Pak. Saya sudah menugaskan anak buah saya untuk menjaga pejabat itu, maksud saya gubernur Papua. Tapi, kami kecolongan,” jelas suara di seberang sana, yang ternyata suara kepala polisi propinsi Papua.
“Apa kasus yang sedang dihadapinya?”
“Seperti para pejabat yang terbunuh sebelumnya: korupsi.”
Jenderal Hasan Sieregar menutup teleponnya. Ia menghela nafas panjang.
“Sudah saatnya, Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang bersih, tapi tidak seperti ini caranya,” Jenderal Hasan Siregar membatin. “Pembunuhan tetap tak berhak dilakukan sebelum orang yang bersalah itu diputuskan bersalah.”
Jenderal Hasan Siregar mengambil telepon yang tadi diletakkannya. Ia menghubungi anak buahnya dari 33 propinsi di Indonesia.
BAB IV
Aku masih di kantorku di lantai 25 sebuah gedung perkantoran. Mataku melebar menatap e-mail yang baru masuk.
Dear
Kukirimkan kepadamu tidak hanya cenderawasih tapi juga kasuari sekalian.
Buru-buru kubalas e-mail itu
Thanks Honey.
Aku ingin ratu yang ditutup matanya. Besok, kutunggu berita gembiranya.
Aku puas sekali.
BAB V
Sementara itu di rumah ketua Mahkamah Agung, Charles Sirait, sedang bersiap-siap berangkat ke kantornya ketika ponselnya berdering. Buru-buru, laki-laki lulusan Universitas Parahyangan, mengangkat teleponnya.
“Hati-hati banyak pembunuh bayaran berkeliaran mengintai orang seperti kita,” kata suara di seberang sana langsung saja. Telepon langsung ditutup.
Charles Sirait buru-buru menghubungi anak buahnya. Ia minta dikawal sampai ke kantornya.
Mobil Charles Sirait telah siap. Charles Sirait sedang berjalan ke mobilnya. Seorang pengawalnya membukakan pintunya.
“Aku belum pernah melihatmu,” kata Charles Sirait setelah melihat laki-laki yang membukakan pintu mobilnya.
Laki-laki itu hanya menjawab pernyataan itu dengan tersenyum tipis. “Saya orang baru,” ucapnya pelan hampir tak terdengar. Mobil kemudian melaju pelan dikendarai oleh laki-laki yang tadi membukakan pintu untuk Charles Sirait.
“Mana pengawalku lainnya?”
“Bapak tak memerlukan pengawal lainnya,” jawab laki-laki itu singkat sambil mengacungkan pistol kedap suara di tangannya. Charles Sirait terkejut sekali. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pistol itu telah menyalak tanpa suara. Peluru tepat megenai dada Charle Sirait. Tenang namun pasti laki-laki itu membawa mobil itu keluar. Tak ada yang menghentikannya karena semua pengawal di rumah ketua Mahkamah Agung telah dibuat pingsan semalam. Mobil itu terus berjalan menuju keluar Jakarta. Tanpa bereksprsi, laki-laki itu meninggalkan mayat Charles Sirait begitu saja di pinggiran Jakarta. Ia sendiri kemudian berlalu dengan sepeda motornya yang sudah disiapkan sebelumnya.
BAB VI
Sementara itu di kantor berita Antara, seorang laki-laki setengah baya tampak menekuri artikel-artikel dari berbagai koran. Semua artikel itu menceritakan tentang pembunuhan para pejabat yang terbukti melakukan korupsi tapi belum diputuskan bersalah oleh pengadilan. Dahinya berkerut.
“Hebat sekali pelakunya!” ucap mulutnya tak henti-henti. “Siapapun dia, dia telah siap mengobrak-abrik mafia peradilan yang selama ini kebal hukum.”
Laki-laki itu berdiri dari duduknya. Ia tampak menelepon seseorang.
“Kau pasti sedang kesulitan sekarang?” ucapnya langsung saja tanpa basa-basi. “APakah anak buahmu sudah berhasil menemukan tersangkanya, Hasan Siregar?”
“Rupanya kau yang menelepon teman lama,” jawab Hasan Siregar, Kepala Polisi Republik Indonesia. “Kau benar sekali, pembunuh itu benar-benar menyulitkan jajaranku. Kau tahu ‘kan mereka rata-rata memang tak becus kerja? Kau punya ide mengenai pelakunya?”
“Kalau dilihat dari kasus yang dihapai para pejabat yang terbunuhm, tersangkamu pastilah seseorang yang sangat membenci mafia peradilan dan korupsi besar-besaran di negeri ini. Mengenai siapa dia, aku tak punya ide. Aku sudah lama tidak mencari berita di bidang politik. jadi,… .Aku meneleponmu sebenarnya untuk mencari tahu, kau ‘kan punya banyak anak buah. Siapa tahu…?
“Sayang sekali,” jawab Hasan Siregar sambil menghela nafas panjang. “Aku belum menemukan satu tersangka pun. Masih gelap.”
Sambungan terputus. Laki-laki itu memutuskan sambungan teleponnya. Seseorang sedang berdiri di depannya, tak memungkinnya melanjutkan pembicaraan.
“Aku menemukan sesuatu,” ucapnya pelan. Mata laki-laki setengah baya itu tampak melebar.
“E-mail aneh yang kubajak dari server internet.”
“Kita ke kafe,” ajak laki-laki setengah baya kepada laki-laki muda berkaca mata minus yang sedari tadi berdiri melihat perbincangannya dengan Hasan Siregar.
Di sebuah kafe di area Bandara Sukarno Hatta, laki-laki setengah baya meminta pemuda di depannya membuka berita yang dibawanya, dalam notebook yang ada dalam tas di tangannya.
“Aku sudah mencetak e-mail itu, Pak Husein?”
Pemuda itu mengeluarkan selembar kertas dari tangannya. Laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Husein mengambil kertas yang ada di tangan pemuda itu.
Aku senang hari ini. Kekasihku mengirimiku tidak hanya setangkai tapi ratusan karangan bunga. Aku senang hadiah yang kau berikan. Minggu depan aku tidak mau bunga lagi. Aku ingin burung cendrawasih langsung dari Papua.
“Sehari setelah e-mail itu terkirim, gubernur Papua terbunuh. Sampai sekarang belum ditemukan pembunuhnya,” jelas pemuda itu tanpa diminta.
“Menurut investigasiku, semua pejabat yang terbunuh itu adalah para koruptor kelas kakap yang tak bisa diadili pengadilan.”
“Sepertinya memang begitu,” jawab pemuda itu sambil mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Ia menyerahkan kertas itu kepada Pak Husein. “Hari ini aku membajak e-mail ini.” Pak Husein mengambil e-mail dari tangan pemuda itu. Ia membaca. “kita lihat besok, apakah Charles Sirait terbunuh atau tidak?”
“Apa maksudmu?”
” Ratu yang tertutup bukankan simbol pengadilan,” jelas pemuda itu. “Siapa tokah peradilan di negeriini yang paling kontroversial? Charles Sirait bukan?”
Pak Husein tampak mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu.
“Bisa kau lacak pemilik e-mail ini, Iqbal?”
Pemuda yang bernama Iqbal itu tampak menggeleng lemah. “Sudah kucoba. Tapi aku belum bisa menemukannya. Tunggu beberapa hari lagi.”
BAB VII
“Iqbal, kamu benar!” suara Pak Husein, keras ditelepon.
“Maksud Bapak?”
“Mayat Charles sirait ditemukan di pinggiran Jakarta. Tadi sore.”
“benarkah?”
“Cepatlah kau temukan pemilik e-mail tadi.”
Telepon ditutup.
BAB VIII
Aku sedang tersenyum sekarang. Hakim brengsek itu akhirnya meninggal. Mengapa kusebut brengsek? Banyak terbaca berita di koran, ia melarang lembaga yang dipimpinnya diperiksa oleh KPK. belum lagi banyaknya kasus besar yang pelakunya dibiarkan bebas berkeliaran. Ia layak dibunuh. Aku bersyukur ada yang melakukannya. Tidak harus aku ‘kan pelakunya?
HPku berbunyi. Dari ayahku: Jenderal Hasan Siregar. Kau tahu, dia sangat bersih. Tak sepeprti pejabat lainnya. Ia pasti sedang kebingungan mencari para pembunuh itu.
Kuangkat teleponnya.
“Iya Ayah. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin mendengar kabarmu saja,” jawab ayahku.
“Aku baik-baik saja, Yah. Banyak kasus berat ya, Yah?”
“Begitulah! Kau tidak terlibat kan di belakang semuanya?”
“Mengapa ayah berpikir seperti itu?”
“Ayah kenal kamu, NAk. Sudah menjadi cita-citamu menjadikan Indonesia jaya dan makmur. Tapi, kalau itu dnegan membunuh para koruptor, itu bukan cara yang benar.”
“Kalau ayah bisa menjebloskan mereka ke penjara, aku takkan mungkin melakukan ini semua. Tapi, peradilan telah diobok-obok. Ayahk tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, tidak ada salahnya ‘kan kalau misalnya aku bertindak.”
“Jadi, kamu yang berada di balik ….?”
“Ayah, aku ‘kan bilang, misalnya. AKu tidak cukup bodoh untuk melakukan itu semua. AKu senang dengan pekerjaanku sekarang. Bisnisku semakin maju. Banyak rakyat yang tertolong dengan usaha yang kulakukan.”
“Ya, sudah kalau begitu. AYah tak perlu khawatir tentangmu.”
Telepon ditutup.
Ada e-mail masuk.
Kita sedang diawasi. Ada hacker yang membajak e-mail kita. Komunikasi diubah saja.
Pesan yang pendek.
Ok. Aku ingin bunga raflesia. Besok sudah harus ada di Jakarta.
Balasku.
Sudah kubilang, komunikasi diubah saja. Lewat HP. Beli nomor yang tak bisa dilacak dari provider komunikasi.
Ok. Maaf. Aku lupa. Cari tahu siapa hacker itu?
Balasku
Kerja kerasku selama lima tahun ini tak boleh sia-sia. Tak seroangpun boleh menggagalkan rencana yang sudah kususun dengan matang ini. Tak boleh. Tidak. Aku takkan membereskan hacker itu. Aku akan merekrutnya.
BAB IX
Jenderal Hasan Siregar sedang sibuk rapat dengan anak buahnya.
“Kita kecolongan lagi. Ketua Mahkamah Agung Charles Sirait dibunuh kemarin. Apa yang akan kalian laporkan padaku?”
Semua peserta rapat terdiam. Mereka tak sanggup bicara.
Hasan Siregar menatap marah ke semua anak buahnya.
“Semua pejabat tersangka korupsi yang masih bebas berkeliaran yang ada di daerah saya sudah saya amankan,” Jenderal Amir Hasibuan memberanikan diri menjawab.
Hasan Siregar menatap tajam sahabatnya semasa di Akpol dulu. “Dia masih tangkas dan cekatan,” pikir Hasan Siregar.
“Bagaimana dengan Bengkulu? Kudengar ada illegal logger kelas kakap bermukim di sana?”
Perwira menengah polisi, Mayor Arif Komarudin, gelagapan ditanya seperti itu.
“Be…benar jenderal. Sekarang dia telah dalam perlindungan anak buah saya.”
“Benarkah?”
“Dia, gubernur Bengkulu, telah diungsikan ke tempat yang lebih aman.”
“Bagus. Karena saya tak akan mentolerir kegagalan kalian sekali lagi.”
Setelah berkata-kata seperti itu, Jenderal Hasan Siregar melihat ke notebooknya. Ada e-mail masuk.
“Ayah, kalau ayah tak menindak anak buah ayah, seorang Mayor kepala kepolisian Bengkulu, ia terbukti menjadi backing gubernur Bengkulu, reputasi ayah di depan anak ayah ini akan tak ada artinya. Kelompok yang selama ini meresahkan ayah pasti akan bertindak.”
Jenderal Hasan Siregar terkejut sekali membaca e-mail dari anak laki-lakinya. Mayor, yang dituliskan anaknya, dalam e-mail itu sekarang ada di depannya. Jenderal Hasan Siregar menatap Mayor Arif Qomarudin tajam, seperti elang menatap mangsa yang tak mau dilepaskan lagi. Semua peserta rapat ikut-ikutan menatap Mayor Arif Qomarudin. Mayor Arif Qomarudin tampak gelagapan ditatap seperti itu.
“Kalau aku jadi kau, Mayor, aku akan berhati-hati,” ucap Jenderal Hasan Siregar tegas dan menahan marah. “Rapat bubar!”
Jenderal Hasan Siregar berhak marah. Ia tahu benar, anak informasi dari anak laki-lakinya yang baru diterimanya tadi pasti valid. Anak laki-lakinya tak pernah berbohong. Data yang didapatnya selalu bukan data mentah tapi data yang telah diolah.
Dia, dengan enaknya, mengundang Mayor pelaku illegal logger rapat di kantornya yangbersih dan rapi. Bersih yang berarti benar-benar bersih. Tak ada korupsi, kolusi dan nepotisme di kantornya ini. Tidak pula untuk anak laki-lakinya yang sekarang menjadi direktur utama di perusahaan paling besar di Indonesia “PT Indonesia Jaya.”
Jenderal Hasan siregar hanya bisa tercenung.
telepon gengggam Jenderal Hasan Siregar berbunyi.
Dari sahabatnya semasa SMA yangs ekarang menajdi wartawan di kantor berita ANTARA.
“Aku dapat informasi, bunga raflesia besok akan dibunuh. Kau tahu apa maksudnya? Gubernur Bengkulu: pelaku illegal logging paling besar se-Indonesia,” cerocosnya tanpa salam pembuka.
“Darimana kau tahu?”
“Hackerku berhasil membajak e-mail yang mereka kirimkan.”
“Terimakasih atas informasinya.”
Sambungan terputus.
Jenderal HAsan Siregar buru-buru menghubungi, Mayor Arif Qomarudin. Dia tidak ada di tempat. HP pribadinya juga tdiak bisa dihubungi. Jenderal Hasan Siregar hanya meninggalkan pesan: Saya hanya ingin bicara padamu. Penting.
Esok hari adalah hari yang akan disesali oleh Mayor Arif Qomarudin.
BAB X
Sekarang aku sedang bersiap-siap menjalankan tugas selanjutnya. Menghancurkan pelaku illegal logging paling top se-Indonesia. Rencana sudah kusiapkan dengan matang. Aku tahu sekarang gubernur Bengkulu sedang rapat dengan Kepala Polisi Bengkulu, Mayor Arif Qomarudin. Mereka sedang merencanakan untuk melarikan diri ke luar Indonesia. Kau tahu, bosku takkan membiarkan hal itu terjadi. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat mereka tak bisa ke luar dari Indonesia. Sesuatu itu adalah … aku. Ya, akulah yang akan membuat mereka tak bisa ke luar dari Indoensia.
Segala sesuatu yang akan kugunakan untuk melakukan tugasku sudah siap. Sinyal pengacak, senjata dengan peredam suara, pisau serba guna dan obat bius tentu saja. Aku takkan membunuh para pengawal mereka. Yang akan kubunuh hanya Mayor Arif Qomarudin dan Gubernur Bengkulu. Mereka berdua yang bersalah.
Motorku sedang berjalan menyusuri jalanan Jakarta. Menuju sebuah vila yang ada di pinggiran Jakarta. Vila itu biasa digunakan
Filed under: Novel | 4 Comments »
PROLOG
Hari ini lagi-lagi kubaca tentang bunuh diri. Hanya karena masalah sepele. Tuntutan hidup. Tak kuat menanggung biaya hidup, orang-orang bodoh itu memilih jalan pintas: bunuh diri. Kubuang koran itu ditumpukan sampah di pojok ruang kerjaku. Kupandangi Jakarta dari lantai 25 kantorku. “Aku harus bertindak!” tanpa sadar aku berteriak. Aku muak dengan kondisi saat ini. Orang-orang yang berada di teras kekuasaan, seenaknya menjual negara tercinta kepada pihak asing yang kemudian mengeksploitasi Indonesia tanpa peduli pada masyarakat sekitarnya. AKu muak dengan pejabat yang baru dua memerintah kekayaannya menjadi berlipat-lipat. Aku muak dengan semuanya.
Kuhidupkan notebookku. Kutunggu sebentar. Mozila firefox sudah kelihatan. KUketik salah satu nama mesin pencari yang banyak digunakan semua orang. Kuketik dua kata: pembunuh bayaran. Keluar berbagai menu tentangnya. Mataku terpaku pada satu artikel. Kuklik artikel itu.
Aha! Ini dia yang kubutuhkan. Kukirim e-mail.
AKu butuh pembunuh bayaran
Tulisku.
Tak lama kemudian, ada e-mail masuk. Pembunuh itu sedang online rupanya.
Filed under: Uncategorized | Leave a Comment »
Beberapa waktu yang lalu, ketika aku merasa putus asa, Allah pertemukanku dengan sebuah buku: QUantum Ikhlas.
Berikut ini adalah bagian-bagian Quantum Ikhlas yang mengenai di hatiku dan kupraktekkan meski belum maksimal:
Jika ada konflik antara apa yang terucap di mulut dengan apa yang terasa di hati maka yang ada di hati kilah yang kan terwujud.
(Jadi, jika mulut kita bilang kalau kita membenci seseorang, di hati berkata kita masih mencintainya walau setitik saja, yang ‘kan terjadi adalah kita ‘kan terus mencintainya. Jadi, mumpung hati bilang mencintainya, pada saat bersamaan, lukislah impian untuk menikah dengannya. Kalau kita meyakininya, hal inilah yang ‘kan terjadi. Ini hanya salah satu contoh lho.)
Karena manusia akan selalu menerima apa yang ada di hatinya meskipun ia tidak menginginkannya. Jadi, penuhilah hati anda dengan keinginan yang baik dan sesuai dengan harapan dan impian kita.
Ketika manusia benar-benar ikhlas, saat itulah doa dan niatnya berjabat tangan melakukan kolaborasi dengan energi vibrasi quanta. Sehingga, melalui mekanisme kuntum yang tidak terlihat kekuatan tuhanlah yang sebenarnya sedang bekerja.
PIKIRAN BAWAH SADAR DAN PIKIRAN SADAR
Pikiran sadar 12 %.
Pikiran bawah sadar 88 %
Pikiran bawah sadar 88%
Pikiran bawah sadar bukan saja terjadi di otak melainkan di seluruh sel tubuh manusia.
Di hati bawah sadar itulah doa (imajinasi) diolah menjadi sehingga menjadi realitas.
Syarat doa terkabul:
1. Minta
Tanyakan terus pada Tuhan apa yang sebaiknya anda inginkan
2. Yakin
Perhatian anda harus terfokus pada apa yang sedang anda inginkan. Letakkan hati anda di situ. Sambil mensyukuri apapun kondisi yang ingijn anda ubah saat ini.
3. Terima
Bersyukur yang keras bukan hanya bekerja keras. (hal 150-151)
SADAR BAHWA DENGAN BANTUAN TUHAN SEGALANYA MUNGKIN (hal. 152)
Filed under: My Diary | Leave a Comment »
Kosakata bahasa Inggrisku, yang kurang kuperhatikan waktu SMA dulu karena dulu aku hanya diajar tentang grammar saja, kini membuatku kalang kabut untuk mempelajarinya. Tiap ada kata baru yang takkuketahui maknanya, kucari dalam kamus dan mereka inilah adanya:
snub nose pliers : tang
compass : Jangka
screw driver : obeng
drill : bor
premise : dasar
piety : kealiman
splendid : indah
bribed ; menguap
frolicked : bermain-main
dandified : bagus
peep at : melirik
scrape : perkelahian
cellar : gudang bawah tanah
garret : loteng
and many more. Next time disambung lagi.
Filed under: Learning English | Leave a Comment »
Dulu, waktu SMA beberapa tahun yang lalu, tahun 1994 tepatnya, aku membaca sebuah majalah. UMMI. Salah satu artikel dalam majalah ini sangat berkesan padaku. Artikel tentang seorang wanita yang masuk surga karena ketaatannya pada suaminya.
Nama wanita itu, kalau tidak salah, Mutiah. Ia menikah dengan seorang laki-laki Madinah. Ia mempunyai 3 benda yang kuingat adalah cambuk dan handuk.
Handuk digunakannya untuk membasuh tubuh suaminya setelah ia pulang dari kerja. Setelah membasuh tubuh suaminya, ia akan meminta suaminya untuk beristirahat. Ia sendiri kemudian memasak air untuk mandi suaminya. Setelah air siap, ia bangunkan suaminya. Ia sendiri telah berdandan lengkap dengan celaknya. Suaminya pun dimintanya mandi.
Pada saat yang bersamaan ia menghangatkan makanan. Selesai mandi, suaminya dimintanya untuk makan malam. Ia menemaninya. Setelah itu, ia mengajak suaminya ke kamar.
“Suamiku,” katanya dengan penuh sayang dan hormat. “kalau ada yang kurang dengan pelayananku, kau boleh mencambukku.”
suaminya terpana. Tak bisa berkata apa-apa. Setelah semua yang dilakukan istrinya, apakah ia masih menganggap ada kekurangan?
Suaminya mengambil cambuk itu, dan meletakkannya di tempatnya semula.
Indah bukan kisah ini. Kisah ini begitu terpatri di hatiku. Hingga aku tak bisa lepas dari impian ini. Sayang, Allah belum berkenan aku mencapai impian ini.
Entah itu kapan, akan kutunggu dengan sabar, impian ini menjadi kenyataan. Impian lama masa SMA dulu. Amin.
Dulu ketika aku ingin berganti nama aku ingin memakai nama Mutiah. Sayang, dulu aku lupa nama tokoh itu. Akhirnya, aku berganti nama dengan arti yang jauh berbeda dengan nama itu. Tapi, biarlah. Keinginanku menjadi seperti Mutiah tak ada hubungannya ‘kan dengan sebuah nama ‘kan?
Filed under: My Diary | Leave a Comment »