INDONESIAN TOP HUNTER

PROLOG


Hari ini lagi-lagi kubaca tentang bunuh diri. Hanya karena masalah sepele. Tuntutan hidup. Tak kuat menanggung biaya hidup, orang-orang bodoh itu memilih jalan pintas: bunuh diri. Mulai dari sopir angkutan, polisi, ibu rumah tangga bahkan pengusaha. Mereka mengambil jalan pintas. Bodoh! Bodoh sekali orang-orang itu. Kubuang koran itu ditumpukan sampah di pojok ruang kerjaku. Kupandangi Jakarta dari lantai 25 kantorku. “Aku harus bertindak!” tanpa sadar aku berteriak. Aku muak dengan kondisi saat ini. Orang-orang yang berada di teras kekuasaan, seenaknya menjual negara tercinta kepada pihak asing yang kemudian mengeksploitasi Indonesia tanpa peduli pada masyarakat sekitarnya. AKu muak dengan pejabat yang baru dua memerintah kekayaannya menjadi berlipat-lipat. Aku muak dengan semuanya.

Kunyalakan notebookku yang langsung tersambung ke internet yang memang sudah LAN sejak aku pertama masuk kerja di kantor ini. Kubuka http://www.google.com. Kuketik dua kata pembunuh bayaran. Keluar berbagai menu tentangnya. Mataku terpaku pada satu judul “Email Pembunuh BAyaran.” Buru-buru aku membuka artikel itu. Ini benar-benar yang kubutuhkan.

Kutulis surat untuknya.

Aha! Langsung dibalas. Pembunuh itu sedang online rupanya.

Aku berpikir sebentar. Tak langsung membalas e-mailnya.

Kalau hanya sekedar pembunuh bayaran, takkan merampungkan pekerjaan ini. Aku butuh hal yang lebih besar.

Nanti kuhubungi lagi
Tulisku.Kukirimkan kata-kata itu ke pembunuhbayaran@****.com

Aku berpikir sebentar.
Kuketik dua kata lagi: pecinta indonesia.
Aha ketemu. Ini dia yang kubutuhkan.

Lima Tahun Kemudian


BAB I

“Bagimana dengan kasus terbunuhnya Gubernur Sumatera Utara?”

Tanpa disuruh perwira menengah yang menangani terbunuhnya gubernur Sumatera Utara memberikan penjelasannya.

“Hampir sama dengan Menteri Kehutanan dan Walikota Semarang. Ia dituduh korupsi tidak hanya milyaran tapi trilyunan rupiah. Belum ada yang dicurigai dalam kasus ini. Mayat gubernur Sumatera Utara ditemukan di pinggir jalan. Mobil dinas dan pengawal yang mengawalnya ditemukan pingsan di samping mayatnya. Mereka tak luka sedikit pun juga.”

Kepola Polisi RI tampak berpikir keras sekarang. Dahinya berkerut. “Semua pejabat yang tewas terbunuh adalah koruptor kelas kakap yang layak mati.”

“Apa kasus yang sedang dihadapi ketua DPR hingga ia harus ditemukan mati di pinggir jalan?” tanyanya langsung.

Jenderal Amir Hasibuan terhenyak mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang langsung menghujam ke intinya. Tanpa basa-basi.

“Ia mengesahkan UU tentang kenaikan tunjangan anggota dewan. Selain itu, ia dan jajarannya melancong ke Amerika dengan uang rakyat. Negara dirugikan trilyunan rupiah.”

Jenderal Hasan Siregar menangkap satu titik terang.

“Sekarang, kumpulkan data para pejabat teras yang sedang bermasalah, terutama sekali karena kasus korupsi! Satu jam lagi kutunggu kalian semua di sini!”

Rapat bubar. Para perwira blingsatan menuju ruang data. Mereka tampak sibuk menelepon jajaran di bawahnya. Mencari informasi tentang para pejabat yang sedang bermasalah di daerahnya masing-masing, sambil menduga-duga apa yang akan disuruhkan kepala polisinya selanjutnya.

Sementara itu, masih di tempatnya berdiri tadi Jenderal Hasan tampak tersenyum puas. Tangannya memegang ponsel. Ia tampak berbicara dengan seseorang.

 

 

BAB II

Aku sedang membaca berita di koran tentang terbunuhnya gubernur Kalimantan Barat. Tadi pagi mayatnya ditemukan di semak belukar di pinggir kota Pontianak. Aku menghela nafas panjang. Sudah seharusnya para pejabat itu mati di jalanan seperti itu. Mereka tak tahu diri. Hanya bisa memperkaya diri sendiri.

Rasa senang mengaliri tubuhku sekarang. Notebookku tampak berkerlap-kerlip. E-mail masuk. Kubuka e-mail itu.

Hati-hati ada rapat besar kepala polisi seluruh Indonesia. Mereka sedang mencari pembunuh para pejabat teras itu.

Aku tak berusaha membalas e-mail itu. Lagian apa hubunganku dengan para pejabat yang terbunuh itu? Tak ada! Sudah seharusnya ‘kan kalau kepolisian bertindak? Mereka tak ingin ‘kan dipermalukan di depan rakyatnya sendiri. Mereka ‘kan tak ingin kelihatan bloon di depan presiden RI juga.

Aku lebih memilih mengirim e-mail ke temanku.

Aku senang hari ini. Kekasihku mengirimiku tidak hanya setangkai tapi ratusan karangan bunga. Aku senang hadiah yang kau berikan. Minggu depan aku tidak mau bunga lagi. Aku ingin burung cendrawasih langsung dari Papua.

Ku klik menu send. E-mailku, kuyakin sudah sampai ke kekasihku yang sedang on line di seberang sana.

Dear, you will get it.

Balasnya singkat dan padat.

 

Aku tersenyum puas.

 

BAB III

Sehari kemudian, kepolisian Republik Indonesia kembali ditutupi mendung. Satu kasus pembunuhan terjadi. Dari pulau di ujung timur Indonesia, Papua. Salah satu putra terbaik mereka terbunuh. Sama seperti pembunuhan lain. Tak ada jejak. Tak ada tersangka.

“Kau semua ‘kan sudah kuminta untuk mencari dan melindungi para pejabat yang sedang bermasalah? Mengapa kita masih kecolongan juga?” suara Jenderal Hasan Siregar, besar dan menggelegar di telepon.

“Maaf, maaf, Pak. Saya sudah menugaskan anak buah saya untuk menjaga pejabat itu, maksud saya gubernur Papua. Tapi, kami kecolongan,” jelas suara di seberang sana, yang ternyata suara kepala polisi propinsi Papua.

“Apa kasus yang sedang dihadapinya?”

“Seperti para pejabat yang terbunuh sebelumnya: korupsi.”

Jenderal Hasan Sieregar menutup teleponnya. Ia menghela nafas panjang.

“Sudah saatnya, Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang bersih, tapi tidak seperti ini caranya,” Jenderal Hasan Siregar membatin. “Pembunuhan tetap tak berhak dilakukan sebelum orang yang bersalah itu diputuskan bersalah.”

Jenderal Hasan Siregar mengambil telepon yang tadi diletakkannya. Ia menghubungi anak buahnya dari 33 propinsi di Indonesia.

BAB IV

Aku masih di kantorku di lantai 25 sebuah gedung perkantoran. Mataku melebar menatap e-mail yang baru masuk.

Dear

Kukirimkan kepadamu tidak hanya cenderawasih tapi juga kasuari sekalian.

Buru-buru kubalas e-mail itu

Thanks Honey.

Aku ingin ratu yang ditutup matanya. Besok, kutunggu berita gembiranya.

Aku puas sekali.

BAB V

Sementara itu di rumah ketua Mahkamah Agung, Charles Sirait, sedang bersiap-siap berangkat ke kantornya ketika ponselnya berdering. Buru-buru, laki-laki lulusan Universitas Parahyangan, mengangkat teleponnya.

“Hati-hati banyak pembunuh bayaran berkeliaran mengintai orang seperti kita,” kata suara di seberang sana langsung saja. Telepon langsung ditutup.

Charles Sirait buru-buru menghubungi anak buahnya. Ia minta dikawal sampai ke kantornya.

Mobil Charles Sirait telah siap. Charles Sirait sedang berjalan ke mobilnya. Seorang pengawalnya membukakan pintunya.

“Aku belum pernah melihatmu,” kata Charles Sirait setelah melihat laki-laki yang membukakan pintu mobilnya.

Laki-laki itu hanya menjawab pernyataan itu dengan tersenyum tipis. “Saya orang baru,” ucapnya pelan hampir tak terdengar. Mobil kemudian melaju pelan dikendarai oleh laki-laki yang tadi membukakan pintu untuk Charles Sirait.

“Mana pengawalku lainnya?”

“Bapak tak memerlukan pengawal lainnya,” jawab laki-laki itu singkat sambil mengacungkan pistol kedap suara di tangannya. Charles Sirait terkejut sekali. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pistol itu telah menyalak tanpa suara. Peluru tepat megenai dada Charle Sirait. Tenang namun pasti laki-laki itu membawa mobil itu keluar. Tak ada yang menghentikannya karena semua pengawal di rumah ketua Mahkamah Agung telah dibuat pingsan semalam. Mobil itu terus berjalan menuju keluar Jakarta. Tanpa bereksprsi, laki-laki itu meninggalkan mayat Charles Sirait begitu saja di pinggiran Jakarta. Ia sendiri kemudian berlalu dengan sepeda motornya yang sudah disiapkan sebelumnya.

BAB VI

Sementara itu di kantor berita Antara, seorang laki-laki setengah baya tampak menekuri artikel-artikel dari berbagai koran. Semua artikel itu menceritakan tentang pembunuhan para pejabat yang terbukti melakukan korupsi tapi belum diputuskan bersalah oleh pengadilan. Dahinya berkerut.

“Hebat sekali pelakunya!” ucap mulutnya tak henti-henti. “Siapapun dia, dia telah siap mengobrak-abrik mafia peradilan yang selama ini kebal hukum.”

Laki-laki itu berdiri dari duduknya. Ia tampak menelepon seseorang.

“Kau pasti sedang kesulitan sekarang?” ucapnya langsung saja tanpa basa-basi. “APakah anak buahmu sudah berhasil menemukan tersangkanya, Hasan Siregar?”

“Rupanya kau yang menelepon teman lama,” jawab Hasan Siregar, Kepala Polisi Republik Indonesia. “Kau benar sekali, pembunuh itu benar-benar menyulitkan jajaranku. Kau tahu ‘kan mereka rata-rata memang tak becus kerja? Kau punya ide mengenai pelakunya?”

“Kalau dilihat dari kasus yang dihapai para pejabat yang terbunuhm, tersangkamu pastilah seseorang yang sangat membenci mafia peradilan dan korupsi besar-besaran di negeri ini. Mengenai siapa dia, aku tak punya ide. Aku sudah lama tidak mencari berita di bidang politik. jadi,… .Aku meneleponmu sebenarnya untuk mencari tahu, kau ‘kan punya banyak anak buah. Siapa tahu…?

“Sayang sekali,” jawab Hasan Siregar sambil menghela nafas panjang. “Aku belum menemukan satu tersangka pun. Masih gelap.”

Sambungan terputus. Laki-laki itu memutuskan sambungan teleponnya. Seseorang sedang berdiri di depannya, tak memungkinnya melanjutkan pembicaraan.

“Aku menemukan sesuatu,” ucapnya pelan. Mata laki-laki setengah baya itu tampak melebar.

“E-mail aneh yang kubajak dari server internet.”

“Kita ke kafe,” ajak laki-laki setengah baya kepada laki-laki muda berkaca mata minus yang sedari tadi berdiri melihat perbincangannya dengan Hasan Siregar.

Di sebuah kafe di area Bandara Sukarno Hatta, laki-laki setengah baya meminta pemuda di depannya membuka berita yang dibawanya, dalam notebook yang ada dalam tas di tangannya.

“Aku sudah mencetak e-mail itu, Pak Husein?”

Pemuda itu mengeluarkan selembar kertas dari tangannya. Laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Husein mengambil kertas yang ada di tangan pemuda itu.

Aku senang hari ini. Kekasihku mengirimiku tidak hanya setangkai tapi ratusan karangan bunga. Aku senang hadiah yang kau berikan. Minggu depan aku tidak mau bunga lagi. Aku ingin burung cendrawasih langsung dari Papua.

“Sehari setelah e-mail itu terkirim, gubernur Papua terbunuh. Sampai sekarang belum ditemukan pembunuhnya,” jelas pemuda itu tanpa diminta.

“Menurut investigasiku, semua pejabat yang terbunuh itu adalah para koruptor kelas kakap yang tak bisa diadili pengadilan.”

“Sepertinya memang begitu,” jawab pemuda itu sambil mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Ia menyerahkan kertas itu kepada Pak Husein. “Hari ini aku membajak e-mail ini.” Pak Husein mengambil e-mail dari tangan pemuda itu. Ia membaca. “kita lihat besok, apakah Charles Sirait terbunuh atau tidak?”

“Apa maksudmu?”

” Ratu yang tertutup bukankan simbol pengadilan,” jelas pemuda itu. “Siapa tokah peradilan di negeriini yang paling kontroversial? Charles Sirait bukan?”

Pak Husein tampak mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu.

“Bisa kau lacak pemilik e-mail ini, Iqbal?”

Pemuda yang bernama Iqbal itu tampak menggeleng lemah. “Sudah kucoba. Tapi aku belum bisa menemukannya. Tunggu beberapa hari lagi.”

BAB VII

“Iqbal, kamu benar!” suara Pak Husein, keras ditelepon.

“Maksud Bapak?”

“Mayat Charles sirait ditemukan di pinggiran Jakarta. Tadi sore.”

“benarkah?”

“Cepatlah kau temukan pemilik e-mail tadi.”

Telepon ditutup.

BAB VIII

Aku sedang tersenyum sekarang. Hakim brengsek itu akhirnya meninggal. Mengapa kusebut brengsek? Banyak terbaca berita di koran, ia melarang lembaga yang dipimpinnya diperiksa oleh KPK. belum lagi banyaknya kasus besar yang pelakunya dibiarkan bebas berkeliaran. Ia layak dibunuh. Aku bersyukur ada yang melakukannya. Tidak harus aku ‘kan pelakunya?

HPku berbunyi. Dari ayahku: Jenderal Hasan Siregar. Kau tahu, dia sangat bersih. Tak sepeprti pejabat lainnya. Ia pasti sedang kebingungan mencari para pembunuh itu.

Kuangkat teleponnya.

“Iya Ayah. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin mendengar kabarmu saja,” jawab ayahku.

“Aku baik-baik saja, Yah. Banyak kasus berat ya, Yah?”

“Begitulah! Kau tidak terlibat kan di belakang semuanya?”

“Mengapa ayah berpikir seperti itu?”

“Ayah kenal kamu, NAk. Sudah menjadi cita-citamu menjadikan Indonesia jaya dan makmur. Tapi, kalau itu dnegan membunuh para koruptor, itu bukan cara yang benar.”

“Kalau ayah bisa menjebloskan mereka ke penjara, aku takkan mungkin melakukan ini semua. Tapi, peradilan telah diobok-obok. Ayahk tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, tidak ada salahnya ‘kan kalau misalnya aku bertindak.”

“Jadi, kamu yang berada di balik ….?”

“Ayah, aku ‘kan bilang, misalnya. AKu tidak cukup bodoh untuk melakukan itu semua. AKu senang dengan pekerjaanku sekarang. Bisnisku semakin maju. Banyak rakyat yang tertolong dengan usaha yang kulakukan.”

“Ya, sudah kalau begitu. AYah tak perlu khawatir tentangmu.”

Telepon ditutup.

Ada e-mail masuk.

Kita sedang diawasi. Ada hacker yang membajak e-mail kita. Komunikasi diubah saja.

Pesan yang pendek.

Ok. Aku ingin bunga raflesia. Besok sudah harus ada di Jakarta.

Balasku.

Sudah kubilang, komunikasi diubah saja. Lewat HP. Beli nomor yang tak bisa dilacak dari provider komunikasi.

Ok. Maaf. Aku lupa. Cari tahu siapa hacker itu?

Balasku

Kerja kerasku selama lima tahun ini tak  boleh sia-sia. Tak seroangpun boleh menggagalkan rencana yang sudah kususun dengan matang ini. Tak boleh. Tidak. Aku takkan membereskan hacker itu. Aku akan merekrutnya.

 

BAB IX

Jenderal Hasan Siregar sedang sibuk rapat dengan anak buahnya.

“Kita kecolongan lagi. Ketua Mahkamah Agung Charles Sirait dibunuh kemarin. Apa yang akan kalian laporkan padaku?”

Semua peserta rapat terdiam. Mereka tak sanggup bicara.

Hasan Siregar menatap marah ke semua anak buahnya.

“Semua pejabat tersangka korupsi yang masih bebas berkeliaran yang ada di daerah saya sudah saya amankan,” Jenderal Amir Hasibuan memberanikan diri menjawab.

Hasan Siregar menatap tajam sahabatnya semasa di Akpol dulu. “Dia masih tangkas dan cekatan,” pikir Hasan Siregar.

“Bagaimana dengan Bengkulu? Kudengar ada illegal logger kelas kakap bermukim di sana?”

Perwira menengah polisi, Mayor Arif Komarudin, gelagapan ditanya seperti itu.

“Be…benar jenderal. Sekarang dia telah dalam perlindungan anak buah saya.”

“Benarkah?”

“Dia, gubernur Bengkulu, telah diungsikan ke tempat yang lebih aman.”

“Bagus. Karena saya tak akan mentolerir kegagalan kalian sekali lagi.”

Setelah berkata-kata seperti itu, Jenderal Hasan Siregar melihat ke notebooknya. Ada e-mail masuk.

“Ayah, kalau ayah tak menindak anak buah ayah, seorang Mayor kepala kepolisian Bengkulu, ia terbukti menjadi backing gubernur Bengkulu, reputasi ayah di depan anak ayah ini akan tak ada artinya. Kelompok yang selama ini meresahkan ayah pasti akan bertindak.”

Jenderal Hasan Siregar terkejut sekali membaca e-mail dari anak laki-lakinya. Mayor, yang dituliskan anaknya, dalam e-mail itu sekarang ada di depannya. Jenderal Hasan Siregar menatap Mayor Arif Qomarudin tajam, seperti elang menatap mangsa yang tak mau dilepaskan lagi. Semua peserta rapat ikut-ikutan menatap Mayor Arif Qomarudin. Mayor Arif Qomarudin tampak gelagapan ditatap seperti itu.

“Kalau aku jadi kau, Mayor, aku akan berhati-hati,” ucap Jenderal Hasan Siregar tegas dan menahan marah. “Rapat bubar!”

Jenderal Hasan Siregar berhak marah. Ia tahu benar, anak informasi dari anak laki-lakinya yang baru diterimanya tadi pasti valid. Anak laki-lakinya tak pernah berbohong. Data yang didapatnya selalu bukan data mentah tapi data yang telah diolah.

Dia, dengan enaknya, mengundang Mayor pelaku illegal logger rapat di kantornya yangbersih dan rapi. Bersih yang berarti benar-benar bersih. Tak ada korupsi, kolusi dan nepotisme di kantornya ini. Tidak pula untuk anak laki-lakinya yang sekarang menjadi direktur utama di perusahaan paling besar di Indonesia “PT Indonesia Jaya.”

Jenderal Hasan siregar hanya bisa tercenung.

telepon gengggam Jenderal Hasan Siregar berbunyi.

Dari sahabatnya semasa SMA yangs ekarang menajdi wartawan di kantor berita ANTARA.

“Aku dapat informasi, bunga raflesia besok akan dibunuh. Kau tahu apa maksudnya? Gubernur Bengkulu: pelaku illegal logging paling besar se-Indonesia,” cerocosnya tanpa salam pembuka.

“Darimana kau tahu?”

“Hackerku berhasil membajak e-mail yang mereka kirimkan.”

“Terimakasih atas informasinya.”

Sambungan terputus.

Jenderal HAsan Siregar buru-buru menghubungi, Mayor Arif Qomarudin. Dia tidak ada di tempat. HP pribadinya juga tdiak bisa dihubungi. Jenderal Hasan Siregar hanya meninggalkan pesan: Saya hanya ingin bicara padamu. Penting.

Esok hari adalah hari yang akan disesali oleh Mayor Arif Qomarudin.

BAB X

Sekarang aku sedang bersiap-siap menjalankan tugas selanjutnya. Menghancurkan pelaku illegal logging paling top se-Indonesia. Rencana sudah kusiapkan dengan matang. Aku tahu sekarang gubernur Bengkulu sedang rapat dengan Kepala Polisi Bengkulu, Mayor Arif Qomarudin. Mereka sedang merencanakan untuk melarikan diri ke luar Indonesia. Kau tahu, bosku takkan membiarkan hal itu terjadi. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat mereka tak bisa ke luar dari Indonesia. Sesuatu itu adalah … aku. Ya, akulah yang akan membuat mereka tak bisa ke luar dari Indoensia.

Segala sesuatu yang akan kugunakan untuk melakukan tugasku sudah siap. Sinyal pengacak, senjata dengan peredam suara, pisau serba guna dan obat bius tentu saja. Aku takkan membunuh para pengawal mereka. Yang akan kubunuh hanya Mayor Arif Qomarudin dan Gubernur Bengkulu. Mereka berdua yang bersalah.

Motorku sedang berjalan menyusuri jalanan Jakarta. Menuju sebuah vila yang ada di pinggiran Jakarta. Vila itu biasa digunakan

Advertisements

About sulthanah

Just a woman who have been travelling so far to find her true self. Ketika seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersinergi mewujudkan impiannya.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to INDONESIAN TOP HUNTER

  1. mochridwan93 says:

    q benci cinta cinta buat gila
    hidu adalah kutukan.

  2. sulthanah says:

    ini cinta untuk negara. butuh pengorbanan. jangan kau benci cinta, cinta membuat kita bahagia

  3. Nisha says:

    Wuih … pesan yg dahsyat! Mantap. Indah. Penuh darah.

    Kenapa juga mr wordpress menautkan yg begini indah dengan cerita karaoke aku ya hahaha. Ada ada ajah.

    Salam kenal bung!

  4. sulthanah says:

    biar kita berteman. asyik ‘kan punya teman baru. indahkah tulisanku ini? gak percaya aja, ada yang bilang begitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s