WELCOME BACK TO WRITE, WELCOME TO SONY VAIO BECAUSE IT’S ME

Sony VAIO E seri 14P adalah produk baru luar biasa yang dilengkapi dengan generasi ketiga Intel Core i7 CPU dengan AMD Radeon HD 7670M GPU diskrit (VRAM 1GB). Notebook 14 inchi dengan kombinasi tegas antara garis merah dan warna hitam yang melambangkan energi dan keberanian ini cocok sekali buatku yang kuat dan energik. Hmm… boleh dong menilai diri sendiri sebagai orang yang kuat dan energik. Selain itu, pastinya ada kan yang bertanya-tanya mengapa aku menganggap diriku sendiri mempunyai kepribadian yang powerful and energetic? Semua pengakuanku dan jawaban pertanyaan itu ada dalam ceritaku di bawah ini. Keep reading it, please!

Aku dan Kelasku
Kenalkan, namaku Riya. Aku seorang guru di Sekolah Dasar Islam di Banyumanik, Semarang. Sehari-hari aku mengajar bahasa Inggris untuk murid-murid kelas 4, 5, dan 6. Pekerjaan yang sangattttt… membosankan I am sorry, I am kidding LOL. Pekerjaan ini sangat menyenangkan. Aku bertemu anak-anak yang mulutnya membuka dan menutup seperti katak kehabisan air ketika mereka melihatku mulai berbicara bahasa Inggris. *Hehehe, pertanda kagum kali ya?

Selain itu, mereka juga suka protes, “Ms. Riya, jangan cepat-cepat kalau berbicara bahasa Inggris?” *Kalau sudah seperti ini, aku tidak tahu harus berbuat apa? Paling berbicara lebih kalem.

Mereka juga suka sekali meniru gayaku ketika sedang berbicara. “Do you want to speak English fluently like me?” tanyaku pada seorang anak yang meniru gayaku berbicara dengan percaya diri penuh seorang guru.

“Hmm…hmmm…,” anak itu tak bisa menjawab apa-apa. Dia hanya membuka dan menutup mulutnya tanpa tahu harus mengucapkan apa.

“That’s why you are here to study English with me so you will be able to speak English fluently,” ucapku dengan bahasa yang aku yakin tak dimengertinya tapi pada suatu saat akan dimengertinya juga.

Yang paling kusukai ketika di kelas adalah lima atau sepuluh menit sebelum pelajaran selesai. Aku sering memotovasi mereka dengan cerita-cerita yang kubaca dari berbagai artikel di Koran atau internet atau … cerita tentang masa kecilku.

“Apakah Anak-Anak suka menggembala kambing?”
“Suka!” balas mereka.
“Apakah Kalian pernah menggembala kambing?”
Mereka tak menjawab pertanyaanku. Mereka hanya diam dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Maklum yang belajar di sekolah yang kuajar rata-rata anak-anak dari kalangan menengah ke atas. So, menggembala kambing? What is that? You are not kidding, aren’t you? Merapikan kamar tidurnya sendiri saja banyak yang tidak bisa kok menggembala kambing. Hehehe.

Mulailah aku bercerita tentang masa kecilku.
“Sewaktu aku kecil dulu, aku menggembala kambing dengan harapan kambing-kambing itu akan membantuku mewujudkan cita-citaku. Kok bisa ya kambing mewujudkan cita-citaku?” aku bertanya pada murid-muridku. *Biasanya kalau di kelas saya membiasakan diri dengan kata saya atau Bu Riya atau Ms. Riya. Dalam tulisan ini, agar sama, saya gunakan kata aku.

Mereka lagi-lagi tak menjawab.
“Aku sangat ingin bersekolah lebih tinggi dan tinggi tapi dengan keadaan orang tuaku yang hanya tukang becak, apakah itu mungkin?”

Murid-muridku melongo tak percaya. Masak guru sepintar aku orang tuanya tukang becak? Hehehe. Tapi, itulah kenyataannya. Kita tak pernah bisa mengubah kenyataan meski kita sangat ingin mengubahnya.

“Tidak!” aku menjawab pertanyaanku sendiri. “Karena itu, aku minta dibelikan kambing yang akan aku pelihara. Orang tuaku mewujudkan keinginanku. Mereka membelikanku kambing. Selepas SD, aku masuk SMP. Dari 32 temanku, hanya 5 yang melanjutkan ke SMP. Aku salah satunya. Beruntung sekali kan aku? Bukan, bukan beruntung sebenarnya. Ini adalah perjuangan. Perjuangan keras yang berawal dari kambing yang kupelihara tadi. Selepas SMP, aku melanjutkan ke SMA. Dari lima temanku yang lulus SMP, hanya tiga yang melanjutkan ke SMA. Wowww….luar biasa kan? Aku salah satunya. Dengan nilai yang kupunyai, aku bisa saja memilih sekolah bonafide di kota kabupaten tapi aku tak melakukannya. Ketiadaan biaya transport alasanku. Jadi, aku memilih ke SMA yang dekat rumahku. Well, aku lulus dengan nilai tertinggi di SMA dan … aku maju terus pantang mundur. Tidak mau berhenti selepas SMA meski biaya tidak ada. Aku melanjutkan sekolah hingga aku kuliah di D 3 bahasa Inggris Universitas Diponegoro dan…di sinilah aku sekarang. Mengajar kalian,” aku menatap murid-muridku lekat.

“Ada yang bertanya tidak, bagaimana Ms. Riya bisa kuliah padahal mungkin kambingnya sudah habis untuk biaya sekolah waktu SMP dan SMA?” aku menatap seluruh kelas.

“Saya!” beberapa murid mengacungkan jarinya.

“Ms. Riya menjadi guru privat dari tahun 1999 sampai sekarang. Dari gaji sebagai guru privat itulah Ms. Riya bisa membiayai kuliah Ms. Riya bahkan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi: ke SI Sastra Inggris Universitas Diponegoro,” aku berhenti sebentar. “Selain memberi les privat, Ma. Riya juga membuat molen, menjualnya di pasar dan menitipkannya di warung-warung. Bisa dikatakan hanya ada waktu tiga sampai empat jam sehari buat Ms. Riya untuk tidur pada saat itu.”

Aku dan Manulis
Hihihi…itu tentang aku kalau aku di kelas. Bagaimana dengan diriku sehari-hari?
Well, aku suka menulis. Sangat suka sekali. Blogku saja kuberi tag Merajut Mimpi Menjadi Penulis Sejati. Menjadi penulis adalah cita-citaku sejak dari dulu. Karena itu, aku sering mengirimkan karya-karyaku di majalah dan Koran. Puisi-puisiku pernah dimuat di majalah Horison dan tabloid Tren. Cerpen untuk anakku pernah dimuat di majalah Mombi, Suara Merdeka, dan Kompas. Aku juga nekad menerbitkan bukuku secara indie. Buku pertamaku, Liburan yang Tak Terlupakan, kuterbitkan sebanyak 1000 eksemplar dan kujual dengan cara aku mengadakan lomba mata pelajaran di Semarang. Modal untuk menerbitkannya sudah kembali dan bahkan menghasilkan keuntungan buatku.

Aku juga sering mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh komunitas online. Pernah menjadi juara 1 lomba menulis essay yang diadakan British Council dan pernah menjadi juara 2 lomba menulis flash fiction yang diadakan http://www.ceritaeka.com. Selebihnya…aku gagal dalam berbagai lomba yang kuikuti. Tapi, apakah kita harus menyerah di tengah jalan? Aniyaaaaaaa!!! (Artinya tidak. Ini bahasa Korea. Aku sedang getol belajar bahasa Korea sekarang. Rencananya tahun depan mau backpacker ke Korea. So, harus siap-siap ‘kan? ^_^)

Petualanganku di dunia online mengenalkanku kepada jasa penerbitan indie. Buku keduaku, Petualangan Alanur dan Kamelon si Unta Terbang, digarap secara indie dan professional menghabiskan budget puluhan juta rupiah dan…didistribusikan ke seluruh Indonesia oleh distributor Nalar. Sayangnya, penjualannya tidak menggembirakan. Aku mengalami kerugian lumayan banyak karena penerbitan buku ini. Ribuan 3000an eksemplar buku dikembalikan padaku. Hampir menangis aku melihat tumpukan buku itu.

Di samping adalah buku Indie keduaku yang kutulis secara estafet bareng sama Mbak Yudith Fabiola dan Teguh Rasyid.

Apakah aku berhenti begitu saja?
Tentu saja tidak! Aku tak pernah menghentikan langkahku. Aku bagikan buku-buku itu ke panti asuhan dan ke dua sekolah miskin yang ada di Semarang. Aku gencar menjual online. Setiap temanku di facebook aku inbox dan aku tawari buku ini. Alhamdulillah, ada yang beli juga. Aku juga menjual buku ini di acara market day yang diadakan di sekolah. Beberapa muridku membelinya juga. Aku masih tetap menulis juga baik untuk media massa ataupun untuk diikutkan ke lomba. Sayangnya, kegagalan yang kuterima. Selama 2011 hanya satu ceritaku yang dimuat di Mombi dan tak satupun lomba yang kuikuti mengantarkanku menjadi juara.

Selain itu, lubang yang kugali untuk menerbitkan buku ini lumayan lebar dan dalam. Aku terengah-engah menjalani kehidupanku. Akhirnya, aku putuskan untuk berhenti menulis sementara. Aku banting setir menjadi Independent oriflame consultant yang menawarkan peluang lebih besar (baca: uang yang lebih banyak). Harapanku, aku akan kembali menulis setelah kondisi keuanganku stabil. *Hehehe…penerbitan buku keduaku membuatku agak kelimpungan. Lubang yang kugali terlalu lebar dan wajib untuk ditutup. Sedangkan dari menulis, aku belum mendapatkan penghasilan tetap.

Alhasil, aku pun fokus menjadi independent oriflame consultant. Alhamdulillah, pipa kedua ini mem
beriku penghasilan yang lumayan hingga aku bisa kembali ke dunia yang sangat kucintai ini: MENULIS. Selain itu, aku dapat dua perjalanan gratis dari Oriflame. Satu ke Jakarta dan satunya lagi ke Bali. Keduanya menginap di hotel yang mewah dan megah, di hotel yang harga semalamnya sampai jutaan rupiah. Kecapaian dan kesedihan serasa terbayar tunai. *Gambar di samping adalah fotoku dengan Area Sales Manager Oriflame cabang Semarang ketika aku mencapai level 15%.

Tulisan ini adalah tulisan pertamaku setelah dua tahun vakum dari dunia tulis-menulis. Thanks to Sony dan lombanya yang membuatku kembali bersemangat menulis. Durasi satu jam aku berhasil menulis sebanyak tiga halaman spasi tunggal. Woww….

Selain itu, sekarang, bermodal nekad dan pantang menyerah serta lubang yang sudah mulai tertutup aku kembali mengaktualisasikan diriku di ranah penerbitan indie. Segera terbit buku ketigaku yang merupakan buku non fiksi dengan judul Fun Science dari Masa ke Masa dan buku keempatku yang masih dalam tahap dummy dengan judul yang entah apa nanti. Habis belum kepikiran sihh. Buku ketigaku diterbitkan oleh Nurul Jannah Media Press dan buku keempatku diterbitkan oleh Miracle Publishing, lini usaha yang akan kembali kukembangkan setelah mati suri karena kerugian.

Apakah cukup sampai di sini ceritaku? Maaf, aku sedang senang bercerita tentang diriku sendiri. Mumpung Sony memberi sebuah peluang yang sayang kalau dilepaskan. Hadiahnya itu lho…mupeng banget aku. So, let’s write again! Lol

Aku dan Yayasan Pendidikan Islam Indonesia Nurul Jannah

Selain menulis, aku juga mempunyai kegiatan sosial. Aku menjadi staff Corporate Social Responsibility (CSR) Yayasan Pendidikan Islam Indonesia (YPII) Nurul Jannah. Sebenarnya kalau diberi nama CSR gak cocok ya? Tapi, kami bingung nama yang cocok itu apa. Alhasil, label tanggungjawabku tetap sebagai staf CSR YPII Nurul Jannah. Kegiatannya lumayan banyak juga. Salah satunya adalah Fun Science. Fun Science adalah lomba mata pelajaran tingkat SD/MI se-Provinsi Jawa Tengah dan DIY. Tahun ini Fun Science diadakan pada hari Minggu, 26 Februari 2012 di Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah. Pesertanya 1721 siswa-siswi dari SD/MI se-Provinsi Jawa Tengah. Bisa dikatakan ini adalah lomba mata pelajaran terbesar di provinsi yang beribukota di Semarang ini.
Aku sebagai ketua panitia Fun Science 2012, Semarang, 26 Februari 2012.

Fun Science sendiri diadakan setiap tahun sekali sejak tahun 2006-2010 dan pada tahun 2012 ini. Pada tahu 2011 karena sesuatu hal dan lain hal, Fun Science ditiadakan.

Selama enam kali Fun Science aku menjadi ketua panitia sebanyak empat kali, yaitu: Fun Science 2006, 2009, 2010, dan 2012. Bisa dikatakan semuanya sukses jika peserta lomba, bazar dan sponsorship dijadikan indikator keberhasilan.

Tentu saja tak ada kata mudah dalam meraih sebuah keberhasilan. Demikian halnya di setiap Fun Science yang aku ketuai. Keempatnya membutuhkan pengorbanan, pemikiran dan starategi jitu yang diterapkannya. Mau melihat Fun Science dari dekat? Tahun 2013 diagendakan Fun Science yang ketujuh dengan target peserta yang kuajukan ke Nurul Jannah 2700 peserta.
Selain Fun Science, CSR Nurul Jannah juga bertanggungjawab terhadap program Open House dan Bakti Sosial. Di Open House biasanya ada donor darah, khitanan masal, dan pameran hasil karya eksponen YPII Nurul Jannah. Di samping adalah fotoku ketika memberi sambutan pada acara Open House 2010.

Aku dan Impianku yang Lainnya
Setelah kegagalan dan keberhasilan seperti yang kuceritakan di atas, aku sedang bersiap-siap mengembangkan hobiku yang lain: traveling. Rencananya November 2012 nanti aku akan ke Kuala Lumpur dan Singapura dengan…low budget traveling alias backpacker. Menjadi backpacker adalah cita-citaku lainnya yang sama seperti menjadi penulis belum bisa kuwujudkan hingga sekarang. Tapi, tentu saja aku tak menyerah begitu saja. Aku terus berjuang untuk mewujudkannya. Caranya: aku bekerja lebih keras dari orang lain, berhemat lebih banyak dari orang lain. Hehehe demi bisa ke Kuala Lumpur dan Singapura jatah makanku kupangkas hanya menjadi Rp 5.000,00/hari (Bayangkan, aku makan apa dengan budget segitu? Pokoknya ada deh. Hehehe.) Jatah belanja baju juga kupangkas habis.

Alhamdulillah, kesempatan untuk menjadi backpacker datang juga. Penghematan dan kerja keras yang kulakukan membuahkan perjalanan pertamaku ke luar negeri. Pasport sudah siap, uang saku sudah siap dan…sekarang sedang hunting ticket murah. *Sony VAIO bantuin aku berselancar di dunia maya untuk mendapatkan tiket murah, ya. Bantuin aku mewujudkan cita-citaku menjadi penulis!

Hmmm…readers, setelah membaca ceritaku, setuju denganku ‘kan kalau Sony VAIO E seri 14P yang dilengkapi dengan generasi ketiga Intel Core i7 CPU dengan AMD Radeon HD 7670M GPU diskrit (VRAM 1GB) kombinasi tegas antara garis merah dan warna hitam yang melambangkan energi dan keberanian ini cocok sekali buatku yang kuat dan energik ‘kan?

Advertisements

About sulthanah

Just a woman who have been travelling so far to find her true self. Ketika seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersinergi mewujudkan impiannya.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s