(RENUNGAN) SECUIL KEHIDUPAN DI STASIUN KERETA

Adakah buku dalam hidupmu yang benar-benar bisa mengubahmu, menginspirasimu, dan membawamu ke arah yang lebih baik?
Aku ada. Pertama adalah The Alchemist. Buku ini membuatku merenung tentang hal-hal detil dalam hidupku yang kulupakan, membuatku mencari hal yang terindah setiap harinya hingga setiap hari adalah another blessed day, another gift from Allah.

Buku kedua yang menginspirasiku adalah The Pilgrimage karya Paulo Coelho juga. Buku ini agak berat dibanding The Alchemist. Tapi, buku ini membuatku berani untuk melakukan perjalanan pertamaku seorang diri ke sebuah kota naik kereta besok. Buku ini juga menginspirasiku untuk menabung Simpanan Masa Depan di BMT Mitra Niaga untuk membiayai umrah yang akan kulakukan dua tahun lagi, InshaAllah.

Dalam rangka mempersiapkan perjalanan pertamaku besok, sore ini aku ke stasiun Poncol untuk membeli tiket kereta api pulang pergi. Kereta inilah yang akan membawaku menggelandang di kota pantura di Pulau Jawa.

Antrian panjang tadi. Maklum besok libur. Selama antri, aku mengajak bercakap-cakap beberapa orang yang sedang antri juga. Aku tidak tahu namanya. Tapi, dia kusarankan untuk naik travel saja mengingat tiket kereta api ke Tegal sore itu sudah penuh. Dia agak ragu-ragu. Daripada gak bisa pulang sore itu, travel adalah perjalanan yang paling memungkinkan yang akan membawanya ke Tegal sore itu.

Melihat hal ini sebenarnya aku heran sekali. Ternyata ada travel to di stasiun kereta? Tapi, orang Indonesia memang terkenal ulet dan kreatif dalam mencari uang. Jadi, berbagai macam cara ditempuh termasuk melihat peluang para calon penumpang kereta yang tidak kebagian tiket. Mereka pun menyiapkan satu mobil yang bisa dinaiki oleh para penumpang yang tidak kebagian tiket. Tidak gratis tentu saja. Harga lebih mahal sedikit: Rp 60.000,00/orang.

Sebelumnya, aku bertanya pada dua orang tentang cara mendapatkan tiket untuk besok. Aku harus menulis formulir dulu ternyata. *Woww…PT KAI pelayanannya sudah semakin baik ya ternyata. Lama gak naik kereta, begitu banyak perubahan dalam pelayanan.

Setelah ngisi formulir pemesanan, aku kembali antri. Pengeras suara mengumumkan hal yang membuatku terkekeh pelan. “Bagi para penumpang kereta api Tawang Jaya dilarang untuk membawa binatang peliharaan seperti: anjing, kucing, ayam, burung dan binatang-binatang lainnya. Binatang-binatang itu bisa dipaketkan dengan naik kereta parcel,” begitu kira-kira bunyi pengumuman di pengeras suara.

Yang membuatku tersenyum adalah kata-kata kereta parcel. Setahuku itu, parcel itu ya seperti roti, kue, kosmetik, baju, dan lain-lain. Masak, binatang peliharaan dimasukkan ke dalam kategori parcel? Hehehe.

IItulah dua hal yang kutemui di stasiun Poncol sore ini. Menurutku, aneh, kreatif bercampur jadi satu. Aku pun sudah membeli Tiket pulang pergi untuk perjalananku besok. Semoga banyak hal baru yang kutemui dan bisa kutuliskan di blogku ini.

Advertisements

About sulthanah

Just a woman who have been travelling so far to find her true self. Ketika seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersinergi mewujudkan impiannya.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to (RENUNGAN) SECUIL KEHIDUPAN DI STASIUN KERETA

  1. Jubah Fesyen says:

    Terima kasih atas maklumat awak nie… kalau saya kat depan awak..

    tentu saya dah cium tangan awak sebagai tanda terima kasih…
    🙂

  2. sulthanah says:

    heheh, terimakasih telah meninggalkan jejak di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s