(RESENSI) ISLAM TIDAK MENYULITKAN DAN MENYUDUTKAN UMATNYA MESKIPUN BEGITU, KITA TIDAK BOLEH MEMUDAH-MUDAHKANNYA

Judul : Paris Lumiere de l’Amour: Catatan Cinta dari Negeri Eifel
Pengarang : Rosita Sihombing
Penerbit : P.T. Lingkar Pena Kreativa
Jumlah Halaman : 172
Harga : Rp 32.000,00

ISLAM TIDAK MENYULITKAN DAN MENYUDUTKAN UMATNYA MESKIPUN BEGITU, KITA TIDAK BOLEH MEMUDAH-MUDAHKANNYA

Buku ini mengupas tuntas tentang hal-hal yang kita rasakan dan mungkin akan kita temui selama kita tinggal di Paris, Prancis, sebuah negara dimana Islam menjadi minoritas. Lima bab dalam buku ini membahas hal-hal kecil secara detil hingga kita seperti merasakan berada di sana.
Bab I Voila Paris terdiri dari delapan sub judul yang membahas tentang kerinduan WNI yang baru beberapa bulan tinggal di Paris serta masalah transportasi, sekolah, tunawisma, persalinan, China Town, apartemen hingga Paspor. Semuanya ditulis secara apik dengan makna yang tak lupa dituliskan. ”Menghadiri acara seperti ini bagi saya merupakan salah satu kiat mendapatkan kenalan atau teman di rantau,” tulis Rosita di halaman 5. Di bab ini Rosita mdenceritakan betapa besar peran KBRI bagi warganya yang tinggal di Paris. Acara seremonial seperti perayaan Hari Ulang Tahun RI dijadikan ajang membuat tali silaturahmi yang biasanya dilanjutkan dengan saling berkirim kabar setelah acara itu selesai.
Bab II Bon Appetit adalah surga bagi pecinta kuliner. Dalam bab ini dibahas secara singkat tentang makanan yang cocok di lidah Asia dan juga restoran halal yang biasanya dicari orang-orang Islam. Bab ini berkisah pula bagaimana asyiknya berburu durian di negara empat musim seperti Prancis karena durian adalah buah yang langka di sini.
Bab III Aktivitas-Aktivitas Seru bercerita tentang tujuh kegiatan yang mengasyikkan selama di Paris. Mulai dari perayaan setiap tanggal 14 Juli, opera, tahun baru, sepakbola, menunggu salju hingga mudik. Ya, mudik. Bagaimana hebohnya orang Indonesia yang ada di luar negeri menyembaut ritual tahunan yang suci ini. Selain itu, sepakbola tentu saja menjadi menu wajib yang harus diceritakan di sini. Meski Prancis gagal meraih Piala Dunia dengan insiden yang sangat memalukan: Zidane menanduk Materazzi, tetap orang-orang Prancis menunjukkan rasa terima kasihnya kepada tim kesayangan mereka. ”Tidak ada satu pun teriakan atau cacian kepada tim kesayangan Prancis. Mereka tetap menunjukkan rasa terima kasih atas usaha keras para pemain untuk mengharumkan nama bangsa,” tulis Rosita di halaman 81. Bandingkan dengan di Indonesia?
Bab IV membahas peristiwa yang terjadi sehari-hari. Bercerita juga tentang mahalnya harga sebuah kunci dan pipa bocor. Dikisahkan juga tentang proses kreatif Rosita dalam menulis novel pertamanya.
Bab V Saat Muslim Bukan Mayoritas, bab yang ditunggu-tunggu pembaca muslim tentu saja. Pembaca muslim, seperti saya, tentu penasaran bagaimana negara kapitalis ini memandang islam. Bagaimana penduduknya memandang orang-orang Islam baik yang imigran atau orang islam yang kebetulan bersuamikan atau beristrikan orang Prancis. Separti yang kita duga, diskriminasi selalu ada. Terutama sekali ketika imigran muslim ini – biasanya orang-orang Magreb, orang islam yang berasal dari Aljazair, Tunisia dan Maroko – melamar pekerjaan. Nama-nama mereka yang berbau Arab sering dipersoalkan. ”Salah satu yang sering dipersoalkan adalah mengenai nama mereka yang berbau Arab. Dan ini tidak terjadi di Prancis saja, di negara Barat lain pun demikian,” tulis Rosita di halaman 130. Di bab ini pula dibahas tentang alkohol. Bagi umat Islam alkohol adalah minuman haram, yang harus ditinggalkan. Sayangnya, ada juga umat islam yang tinggal di sini berpendapat alkohol tetap boleh diminum asalkan tidak sampai mabuk. Penulis pun agak kebingungan untuk menjelaskan kepada suaminya, yang notabene adalah mualaf. Dengan singkat dan jelas Rosita menulis,”Islam tidak menyulitkan dan menyudutkan umatnya, Pat. Meskipun begitu, kita tidak boleh memudah-mudahkannya.” (hal. 116). Jawaban singkat yang membuat pembaca buku ini sadar betapa pentingnya untuk tetap berjalan lurus sesuai dengan yang digariskan Sang Maha Penguasa.
Dibalik kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, ada juga beberapa hal yang menjadi catatan untuk penulis buku ini. Sudut pandang yang digunakan penulis – aku – membuat buku ini terkesan sebagai diari, jadi terasa sangat subyektif sekali. Ditambah lagi, cerita tentang Pat yang memakan porsi yang lumayan banyak dalam buku ini. Alhasil, buku ini kurang membidik apa dan ada apa yang ada di Paris secara obyektif. Selain itu, kuliner kalau bisa harusnya dibahas lebih mendetil terutama menu-menu yang menjadi favorit dan halal bagi umat Islam.
Asyiknya membaca buku ini adalah pembaca tidak harus membaca per bab secara urut. Dari Bab manapun atau sub bab manapun pembaca tetap bisa mencerna isi keseluruhan cerita dalam buku ini karena satu bab dengan bab lainnya tidak saling berkaitan seperti sebuah cerita yang berkelanjutan.

Advertisements

About sulthanah

Just a woman who have been travelling so far to find her true self. Ketika seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seluruh semesta akan bersinergi mewujudkan impiannya.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s